Sebelum membebaskan seluruh Suriah dari Assad, Jaulani ini diremehkan terutama oleh yang merasa lebih senior dari faksi lain.
Dia dianggap bocah kemarin sore, tidak punya pengalaman politik, majhul asal-usulnya tidak diketahui, berbahaya dan lain sebagainya.
Ya wajar sih, 12 tahun lalu dia hanya memimpin faksi level menengah secara kekuatan, tapi tiba-tiba di tahun 2018 menguasai seluruh Idlib, bahkan mendesak habis Ahrar Syam yang merupakan faksi legendaris di Suriah.
Jangan kira di internal Mujahidin tak ada perang buzzer di twitter dan telegram. Tuduh menuduh dan saling menyudutkan adalah hal biasa.
Bahkan seorang relawan yang wafat karena covid tak luput jadi bahan gorengan buzzer anti Jaulani. Menuding pemerintahan HTS (SSG) tak becus mengurusi virus dan lain sebagainya, sampai banyak anak-anak jadi yatim.
Tapi semua tudingan lenyap pada Desember 2024, semua orang satu suara di belakang Jaulani.
Ada 2 hal yang menjadi corak kepemimpinan Jaulani. Pertama, kebijakan terkait hal-hal besar ditentukan hanya sedikit orang, sehingga rahasia rencana besar selalu terjaga sangat rapat.
Selain itu karena ia dulunya termasuk tokoh “ter*ris”, organisasinya jarang menggelar pertemuan langsung (#cmiiw). Perintah, urun rembuk atau komunikasi dengan petinggi lain dilakukan melalui perantara kurir.
Tak ada ceritanya Jaulani menggelar rapat besar, atau pertemuan akbar, demi membahas strategi ke depan. Diam, senyap, tiba-tiba duar. Bahkan anak buahnya ketika disuruh melakukan sesuatu pun tak diberitahu tujuannya buat apa.
Kedua, Jaulani adalah orang yang tidak gengsi melakukan koreksi internal dan mengubah secara radikal strategi lama yang dianggap sudah tidak relevan.
Salah satu langkah besarnya adalah memutus hubungan dengan Al-Qaed*. Demi bisa merangkul ceruk lebih luas dan menyatukan oposisi Suriah. Padahal hanya setahun sebelumnya dalam wawancara dengan Aljazeera, narasinya terdengar memuaskan bagi pengikut Jihadis Yordania yang terkenal paling galak itu, karena Jabhah Nushrah dengan tegas menjaga jarak dari pemerintah manapun (maksudnya Arab dan Turki).
Kurang dari 1 tahun setelahnya Al-Jaulani pisah dari Al-Qaed*, ganti memakai jaket dan jas, lalu menjalin hubungan dengan Turki/Erdogan (yang dianggap “thaghut” oleh Kokohiyun Jihadis).
-Pega Aji Sitama-







Komentar