Umuk, Nggembluk, dan Koppig
✍🏻Made Supriatma
Kalau Anda lama di tanah pedalaman Jawa, Anda mungkin akan pernah mendengar ungkapan: Solo umuk, Jogja Gembluk. Maksudnya itu, orang Solo senang “umuk,” dan orang Jogja biasanya ‘ngGembluk.”
Sungguh sulit menerjemahkannya secara tepat. Umuk itu kira-kira berati suka memamerkan kehebatan, kekayaan, kepintaran, dan lain sebagainya. Dalam makna positif, bisa dikatakan bahwa umuk itu juga berani mengambil resiko. “Sing penting umuk sik ..” yang penting pamer dulu. Perkara berhasil, itu soal kemudian.
Ngglembuk itu artinya kira-kira (ya kira-kira, saya juga belajar Jawa setelah dewasa karena saya bukan orang Jawa!), adalah pintar merendah, mengambil hati, dan menyembunyikan perasaan. Saya menafsirkannya sebagai pasif-agresif ala Jawa. Persis ketika ia membungkuk, ia memperlihatkan kerisnya yang terselip di belakang. Itu hanya penafsiran saya.
Sejak kemarin di lini masa saya tertayang video pidato mantan presiden RI ke 7, Jokowi. Dia bicara tentang perang. Dia bilang bahwa ketika perang mulai, dia telpon “Kakaknya” yang menjadi presiden Uni Emirat Arab (UEA) dan tanya kapan perang selesai. Dia menyebut nama “kakak”-nya itu “Yang Mulia MBS.”
Perang baru mulai, saya tanya, Yang Mulia kapan perangnya selesai? Dijawab, nggak pasti dan tidak jelas. Kemudian saya tanya, harga minyaknya akan sampai berapa? Dijawab juga, nggak pasti dan nggak jelas.
Saya nggak tahu apa tujuan Jokowi menelpon “kakaknya” yang dipanggilnya “Yang Mulia” itu. Selain itu, banyak orang bingung karena Jokowi menyebut MBS sebagai “kakaknya.” Padahal pemimpin Uni Emirat Arab (UEA) adalah Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ – Em Be Zet). Sheikh MBZ berusia 68 tahun. Jokowi 64 tahun. Jadi cocok sebenarnya menjadi “kakaknya.” Sementara MBS (Saudi) berusia 40 tahun.
Beberapa media keliru menyebutkan bahwa Jokowi menelpon Muhammad bin Salman (MBS), putra mahkota Kerajaan Saudi Arabia. Di awal perang, Presiden Prabowo pernah berusaha menelpon MBS namun tidak tersambung. Hanya ada janji bahwa MBS akan menelpon balik kalau ada kesempatan. Entah, dia sudah penuhi janjinya atau tidak.
Jadi apa tujuan Jokowi bercerita menelpon “kakaknya” itu? Saya mau tidak mau kembali pada stereotip (iya, itu stereotype) wong Solo umuk itu. Cuman mau pamer kalau punya kakak Sheikh Arab.
Tapi … ya itu. Salah orang pula. Dan kesalahan itu diikuti oleh banyak media tanpa perlu susah sedikit untuk mengeceknya.
Nah, kalau Solo umuk, Jogja gembluk, bagaimana dengan Jakarta?
Menurut seorang pollster (tukang survei) yang diinterview oleh media terkemuka Indonesia, presiden yang sekarang ini ‘kepala batu.’ Sudah jelas kebijakan-kebijakannya tidak jalan, tetap tidak mau mendengarkan orang lain. Ia tidak akan mengubah kebijakannya. Kritik tentang MBG datang dari segala penjuru. Demikian juga dengan Koperasi Merah Putih. Namun ia tetap jalan.
Ada istilah bahasa Belanda yang dulu sangat populer untuk menggambarkan kepala batu ini, yaitu “koppig.”
Nah, jadi kita punya stereotipe baru. Solo umuk, Jogja gembluk, Jakarta koppig alias kepala batu .. 🙂







“Kakaknya” jokowi itu berlumuran darah Sudan, bersahabat dg israel. Jadi kelian ambil kesimpulan sendiri kedekatan jokowi dg israel kan? Kalo prabowo? Ah sudahlah, itu mah jongos kepala batu tukang bawain map si kakek gila perang dan pedofil, trump … nggak ada yg beres para pemimpin ini …
BARU TAHU kalo JOKIBUL ini ada juga keturunan ARAB (hARAB MAKLUM)