Gambar ini membandingkan dua sikap dan peran yang kontras dari para ulama dalam kaitannya dengan kekuasaan politik.
Ulama Bermartabat
- Sosok yang independen dan berprinsip.
- Ulama tersebut mempertahankan sikap kritis namun tetap santun—berinteraksi dengan para pemimpin sembari menjunjung tinggi otoritas moral dan melindungi kepentingan umat, alih-alih tunduk pada ambisi pribadi.
- Menjaga nilai, merawat umat.
Ulama Menjabat/Menjilat
- Sosok yang tunduk atau integritasnya terkompromi akibat kedekatan dengan kekuasaan.
- Sosok yang bersikap terlalu tunduk atau mencari muka di hadapan penguasa, yang menyiratkan bahwa ambisi pribadi telah menggantikan peran bimbingan moral yang tulus serta kewajiban ulama yang independen.
- Ketika ilmu diganti ambisi.
Ulama memiliki otoritas moral bukan karena kedekatannya dengan kekuasaan, tetapi karena keberaniannya menjaga ilmu, adab, dan kepentingan umat.
Kedekatan ulama dengan penguasa bukanlah masalah pada dirinya sendiri. Persoalan muncul ketika kedekatan itu mengurangi daya kritis, membuat pembenaran menggantikan nasihat, atau menjadikan kepentingan kekuasaan lebih utama daripada kepentingan masyarakat.
Ulama yang bermartabat menasihati kekuasaan. Bukan kehilangan sikap kritis di hadapannya.
Sebab ilmu memperoleh kehormatan ketika tetap merdeka dari kepentingan dan ambisi.








bismillah.. komisaris 🤣🤣
Akan ada setelahku para penguasa, maka siapa saja yang menemui mereka dan membenarkan kedustaan mereka serta membela kezaliman mereka, maka mereka bukan bagian dari umatku dan aku bukan bagian darinya. Dan mereka tidak dapat bertemu denganku di telaga (surga).
Dan siapa saja yang tidak masuk (menjadi kaki tangan) penguasa dan tidak membela kezaliman mereka serta tidak membenarkan apa yang dusta, maka dia termasuk umatku dan aku termasuk bagian darinya. Dan dia akan menemuiku di telaga (surga).” (HR Tirmidzi dan Nasai)