UEA MUMET: ANJIRRR, KOK JADI GINI, CUK?

UEA kaget dan bingung setelah kemarin Amerika tiba-tiba ngumumin gencatan senjata dengan Iran. Mereka langsung minta penjelasan ke Washington, karena isi kesepakatannya dianggap nggak jelas.

Abu Dhabi ngerasa kayak “nggak diajak ngobrol” soal detail penting di balik kesepakatan itu. Padahal sebelumnya mereka cukup aktif mengompori agar serangan ke Iran dilakukan lebih keras.

Jadi sekarang mereka muncul pertanyaan: Apakah kita udah ga dianggap? Jangan-jangan jaminan keamanan dari Amerika selama ini cuma omon-omon?

Apalagi beberapa jam setelah pengumuman gencatan, karena UEA tidak disebut dalam kesepakatan itu, lran menyerang UEA dengan puluhan rudal balistik dan drone sebagai balasan terhadap serangan UEA terhadap fasilitas di Iran. Hanya sekitar 35 drone dan 17 rudal yang bisa dicegat. Suara ledakan rudal dan drone yang lolos dari cegatan terdengar di mana-mana di wilayah Abu Dhabi, serta banyak puing (debris) rudal/drone yang dicegat jatuh menyebar dan merusak pemukiman dan fasilitas industri.

Amerika bikin kesepakatan sendiri tanpa banyak melibatkan UEA. Wajar kalau UEA ngerasa dilangkahi. Dan saat UEA nanya-nanya, Trump seolah njawab, “Kamu tu ga diajak cung.” Dan alasan UEA pengen AS terus nyerang, kalau perlu serang habis-habisan, adalah karena ia ingin Selat Hormuz dibuka normal lagi, sekaligus minta kompensasi pada Iran atas kerugian yang mereka alami jika Iran kalah dan menyerah.

Tapi akibat gencatan senjata ini (meski gencatan ini terancam bubar karena pengkhianatan Israel) skenario UEA itu sementara ini ga jalan.

Sekarang UEA mau nggak mau harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru, di mana pengaruh Iran di kawasan tetap kuat.

UEA lagi ada di posisi serba nggak enak: di satu sisi minta kejelasan dari Amerika, di sisi lain harus menerima kenyataan bahwa situasinya sudah berubah dan mereka makin rawan diserang karena Trump udah mulai ga terlalu peduli.

Selama ini, Abu Dhabi cukup percaya diri jadi bagian penting dari strategi Washington di Timur Tengah, terutama dalam menghadapi Iran. Sekarang mereka sadar, mereka bukan penentu keputusan, bahwa negara mereka cuma dimanfaatin untuk dipakai lahan dan duitnya oleh AS, tak lebih sebagai bidak yang bisa ditinggalkan sewaktu-waktu. Prioritas AS jelas, melindungi lsrael dan mencari exit strategy yang tidak sampai menjatuhkan muka mereka sebagai negara kuat.

Selama 40 hari perang, UEA melaporkan telah mengalami kerugian dengan perkiraan total $150 milyar (atau Rp.2550 trilyun berdasar kurs saat ini) plus kerugian di sektor pariwisata, logistik dan transportasi. Selain itu UEA juga harus keluar duit buat biaya operasi sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD terus-terusan untuk mencegat lebih dari 2800 rudal dan drone dari Iran. Petinggi negeri, yang oleh banyak orang sebagai “negeri rumah kaca” ini, semakin stres. Kata orang, “lagian rumahnya dari kaca gitu sok-sokan nglemparin batu ke rumah yang berdinding kayu jati. Balas dibalang watu, ya ambyar bos.”

Negara teluk dan AS-lsrael hingga sekarang jelas tetap khawatir karena laporan terakhir memperkirakan lran masih punya stok lebih dari 15,000 rudal balistik dan lebih dari 45,000 drone. Itupun setiap hari lran terus memproduksi rudal dan drone baru.

(Triwibowo Budi Santoso)

Sorce: Al-Arabiyya English, Investing, Voiceofemirates, TimesofIslamabad, Middle East Eye

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar