Uang Besar Tidak Pernah Datang dengan Cara yang Bersih

Di negeri ini, uang besar hampir selalu menyisakan jejak masalah. Kita hidup di tengah ironi: ketika seorang pejabat atau pengusaha tiba-tiba tampil dengan kekayaan berlimpah, publik bukan terpukau — tapi justru bertanya, “Dapat dari mana?” Kecurigaan itu bukan tanpa sebab. Sejarah politik dan bisnis Indonesia penuh dengan contoh bagaimana kekuasaan dan harta sering berjalan beriringan dengan skandal, konflik, atau penyelidikan hukum. Dan di balik hampir setiap pundi-pundi besar, selalu ada cerita yang tidak pernah betul-betul bersih.

Fenomena itu terlihat jelas ketika kekayaan pejabat publik disorot. Kasus seperti Rafael Alun yang hartanya mencuat setelah anaknya flexing kendaraan mewah hanyalah puncak gunung es. Ada pula Andhi Pramono dan Eko Darmanto, yang gaya hidupnya di media sosial membuka kotak pandora pertanyaan tentang sumber kekayaan yang tak sebanding dengan gaji resmi. Mereka bukan satu-satunya. Sudah terlalu banyak pejabat yang tersandung kasus pertambahan harta tidak wajar, dan KPK setiap tahun menerima laporan serupa. Publik pun semakin yakin: uang besar di birokrasi hampir mustahil datang dari cara yang lurus.

Di luar lingkar birokrasi, dunia pengusaha pun tak lebih sunyi dari kontroversi. Konflik lahan yang melibatkan perusahaan tambang di Kalimantan Selatan dengan warga setempat menunjukkan bagaimana bisnis skala raksasa memang selalu meninggalkan luka sosial. Sengketa demi sengketa muncul, protes warga terjadi, dan pemerintah harus turun tangan. Walau tidak semua kasus berujung pidana, narasi yang terbentuk tetap sama: ketika uang besar masuk, ruang abu-abu semakin lebar.

Pengusaha besar lain juga pernah diseret ke pusaran pemeriksaan pajak, sengketa hukum, atau kontroversi publik. Nama-nama yang dikenal luas seperti Boy Thohir atau Hary Tanoe, meski tidak terbukti bersalah, tetap pernah berhadapan dengan sorotan hukum yang mempertanyakan transparansi bisnis dan pengaruh ekonomi mereka. Perkara-perkara itu mungkin selesai, tetapi kesan negatifnya menetap, memperkuat keyakinan publik bahwa skala kekayaan selalu berbanding lurus dengan kerumitan moral.

Di tengah semua itu, masyarakat menjadi semakin sinis. Kejujuran dianggap naif. Kekayaan mendadak dianggap mencurigakan. Bahkan anak pejabat yang memamerkan mobil mewah bisa menjadi awal dari penyidikan besar-besaran. Ironisnya, di negeri yang seharusnya menjunjung meritokrasi, muncul kesadaran pahit bahwa integritas sering kalah oleh transaksi. Bahwa jalan menuju puncak kekayaan dan kekuasaan dipenuhi kompromi yang tak pernah benar-benar terang.

Karena itulah, kalimat “uang besar tidak pernah datang dengan cara yang bersih” begitu mudah diterima publik Indonesia. Bukan karena semua orang kaya salah, tapi karena pola yang terus berulang: harta yang melimpah sering datang bersama bau busuk politik, konflik kepentingan, manipulasi aturan, atau minimal ketidakjelasan asal-usulnya. Selama sistem memanjakan mereka yang punya kuasa, dan selama pengawasan masih lemah, narasi ini akan terus hidup.

Mau tidak mau, kita harus mengakui satu kenyataan: di negeri ini, uang besar bukan sekadar angka. Ia adalah cermin dari sistem yang retak, moral yang diuji, dan publik yang sudah terlalu sering dikecewakan. Dan sampai kejujuran menjadi standar, bukan pengecualian, publik akan terus percaya bahwa uang besar hampir tak pernah datang dengan cara yang bersih.

Komentar