Two State Solution: Palestina Untung, Israel Buntung

Oleh: Fadly Abu Zayyan

Masih banyak yang skeptis dengan Kemerdekaan Palestina, apalagi dalam format two state solution. Bahkan ada yang menganggap itu semua hanya akal-akalan negara Barat sekutu Israel.

Saya malah berpikir sebaliknya. Kemerdekaan Palestina yang sudah diakui PBB dan banyak negara meski dalam format two state solution, justru akan mempersempit ruang gerak Israel dalam perspektif geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi.

🔴Pertama, Yerussalem akan kembali menjadi ibukota Palestina meski ada wacana dalam pengawasan Internasional. Padahal pendudukan Israel atas Yerusalem bermotifkan pada perebutan Bait Suci yang dibangun oleh Raja Sulaiman (Solomon) pada abad ke-10 SM. Bait Suci ini hancur oleh bangsa Babilonia pada 586 SM dan kemudian dibangun kembali, hanya untuk dihancurkan lagi oleh Romawi pada 70 M.

Namun begitu, Israel masih meyakini bahwa situs Sulaiman berada di bawah Baitul Maqdis yang menyimpan artefak berharga dan bisa dijadikan sebagai Heritage Collateral dengan nilai yang tak terhingga. Akan tetapi sejak transparansi global berlaku, warisan budaya yang ditetapkan oleh UNESCO tidak bisa lagi dijadikan kolateral karena menyangkut identitas sebuah bangsa. Itulah kenapa sejak itu banyak terjadi repatriasi atau pengembalian artefak, termasuk milik Nusantara.

Paradigma motif perburuan Heritage oleh Israel itu seiring dengan paradigma industri perang yang menjadikan Palestina Israel sebagai episentrum konflik di Timur Tengah sekaligus “etalase” produsen peralatan perang.

Selain Bait Suci, Masjid Al Aqsa dan Kubah Batu, di Yerusalem juga terdapat Gereja tertua bernama Holy Sepulcher (Gereja Makam Suci) sebagai salah satu situs paling suci bagi umat Kristen. Gereja ini dipercaya sebagai tempat penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus. Uniknya gereja ini telah dijaga oleh keluarga muslim selama 8 abad. Artinya, sebelum adanya gerakan zionisme di sana, hubungan antar umat beragama di Palestina, harmonis dan baik-baik saja.

🔴Kedua, sekitar 5 mil di selatan kota Yerusalem, juga terdapat Kota Betlehem yang merupakan tempat kelahiran Yesus Kristus. Tepatnya di tepi barat yang menjadi wilayah Palestina.

Jadi artinya, wilayah Palestina memiliki situs-situs suci 3 umat agama terbesar di dunia. Bayangkan jika itu dikelola sebagai tujuan religi sebagaimana Mekkah dan Madinah di Saudi Arabia, tentunya akan menjadi potensi pendapatan negara.

🔴Dan ketiga, belum lagi pembebasan Gaza setelah Palestina merdeka. Gaza menjadi strategis karena Israel memiliki rencana Proyek Terusan Ben Gurion yang menghubungkan Teluk Aqaba di Laut Merah dengan Laut Tengah melalui Jalur Gaza. Nama proyek ini diambil dari pendiri negara Israel, David Ben-Gurion. Tujuan utama proyek ini adalah untuk menciptakan jalur perdagangan laut yang lebih aman dan lebih pendek daripada Terusan Suez di Mesir. Dan ini juga menjadi potensi pendapatan yang besar.

Kesimpulannya setelah Palestina merdeka, maka kemungkinan yang akan terjadi:

  • Pemerintah Israel yang diback up oleh Rezim Bankir akan kehilangan potensi pendapatan dari “konflik abadi” bagi industri perang di mana “top five” produsennya, dibiayai oleh BlackRock.
  • Episode perburuan situs Sulaiman akan usai.
  • Dan sangat mungkin warga negara Israel yang berasal dari Eropa akan pulang kampung karena “Tanah Yang Dijanjikan” sudah tidak lagi menjanjikan.

Apalagi pasca terpilihnya Paus Leo dari Amerika Serikat, dan ambisi Donald Trump untuk proyek Rekonstruksi Gaza (termasuk kanal terusan?) bisa saja membuka peluang bagi pindahnya keuskupan dari Vatikan kembali ke Kota Betlehem.

Palestina akan menjadi salah satu negara paling makmur di Timur Tengah dan ketika Yerusalem juga Betlehem ditetapkan sebagai Kota Suci sebagaimana Mekkah dan Madinah, maka “diharamkan” terjadinya pertumpahan darah di atasnya.

(fb)

Komentar