Travelator di Bandara YIA (Yogyakarta International Airport). Dibikin, tapi tidak pernah digunakan.
Padahal kita kalau jalan dari pintu kedatangan ke arah stasiun kereta pasti lewat lokasi travelator itu. Kondisi badan juga pas lagi capek-capeknya, atau pas buru-burunya karena kejar kereta.

Kenapa alat ini gak pernah dinyalakan?
Saya duga karena warung-warung UMKM.
Kalau kita pake travelator, otomatis akan melintas cepat tanpa mampir ke warung, dan para penyewa stan warung pasti protes pula. Itu dugaan saya yang paling masuk akal.
Trus, kalau gak pake travelator karena barangnya gak nyala, apakah lantas kita jadi mampir ke warung UMKM? Awalnya iya. Lama-lama, kita jajan di UMKM dan (jujur aja) malah merasa “dikhianati”. Kita bantu mereka, bayar mahal dagangan mereka, tapi kualitas makanannya gak pernah dijaga.
Akhirnya yang terjadi: membangun, gak diaktifkan demi tujuan manfaat lain, eh akhirnya manfaat lainnya gak didapatkan pula.
Ruwet. Seruwet Endonesa.
(Iqbal Aji Daryono)







Komentar