Tragedi Indramayu: 5 Anggota keluarga Dibantai hanya karena Duit Rp750 Ribu

Misteri lima jasad satu liang di Indramayu, akhirnya terkuak. Mereka ternyata dibantai di waktu yang hampir bersamaan. Pelakunya dua laki-laki gelap mata, berbalut amarah dan tanpa hati. Pemicunya, terdengar sangat sepele. Hanya gara-gara duit Rp750 ribu. Malam yang bisu, Jumat 29 Agustus 2025 jadi saksi betapa nyawa-nyawa manusia serasa tak berharga. Sekali beraksi, lima jiwa terbang.

Tragedi berdarah itu bermula dari urusan sederhana. Sobirin alias Ririn, seorang residivis yang pernah dipenjara karena kasus penganiayaan berat, sedang kesulitan hidup. Ia berniat mencari pekerjaan, usai resign sebagai karyawan di sebuah bank. Ia lalu menghubungi Budi Awaluddin, kawannya. Keduanya pernah bekerja di bank yang sama, meski beda divisi.

Kepada Budi, yang memilih berjualan sembako usai keluar dari pekerjaan lamanya, Sobari minta dicarikan kendaraan untuk dirental. Budi menyanggupi, sebuah Avanza. Harga sewa mobilnya, Rp750 ribu. Uang disetor, kunci diserahkan. Sobari bersemangat mau mencari penghidupan baru.

Namun malang tak bisa ditolak. Mobil itu mogok. Tak bisa digunakan. Sobirin murka. Ia menuntut uangnya dikembalikan. Budi yang terjepit, hanya bisa berdalih bahwa uang sudah habis untuk belanja dagangan, menambah stok di warung miliknya. Ia minta waktu. Permintaan yang sederhana. Tapi bagi Sobirin yang berhati kerikil, itu terdengar seperti penghinaan.

Dendam menggerogoti. Ia menghubungi Budi, mau ketemu. Malam itu, Sobirin mengajak rekannya, Priyo ke rumah Hj Sahroni, orang tua Budi. “Temani aku nagih utang, satu juta jatah kau,” kata Sobirin. Tapi di balik kalimatnya, tersembunyi niat gelap. Ia sudah menyiapkan sebatang pipa besi, alat sederhana yang malam itu akan berubah jadi senjata kematian.

Sekitar pukul 23.30 WIB, mereka tiba di rumah Budi di Jalan Siliwangi. Hening malam segera pecah. Pertengkaran kecil berubah jadi drama darah. Sobirin menghantamkan pipa besi ke kepala Budi. Sekali, dua kali, hingga tubuh Budi terkapar bersimbah darah. Nyawa lelaki itu melayang, hanya karena urusan sewa mobil.

Namun tragedi tak berhenti. Dua iblis malam itu masuk ke rumah. Satu per satu penghuni rumah dihabisi. H. Syahroni, ayah Budi yang sudah sepuh, roboh di tangan besi. Istri Budi, Euis (40), ikut tersungkur. Lalu dua malaikat kecil yang tak berdosa, Ratu (7 tahun) dan Bela (8 bulan), kehilangan kesempatan untuk tumbuh besar. Kedua bocah itu ditenggelamkan ke dalam bak mandi oleh Priyo.

Tangis yang seharusnya jadi nyanyian malam, berubah jadi isak pamungkas sebelum sunyi. “Kita masih mendalami mengapa penghuni rumah lainnya juga dihabisi,” kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan.

Tak puas, Sobirin dan Priyo menggali tanah di halaman belakang. Dengan sekop yang sudah mereka beli sebelumnya, seolah pembantaian ini memang sudah dipikirkan matang, mereka menguburkan lima jasad sekaligus. Tanah yang biasanya ditumbuhi bunga dan rumput, malam itu jadi saksi bisu liang pembantaian.

Setelahnya, mereka membersihkan rumah, menyapu jejak darah, lalu kabur membawa mobil Corolla Twin Cam milik Budi. Pipa besi dibuang ke Sungai Cimanuk, seolah arus sungai bisa melarutkan dosa sebesar itu. Setelahnya, mereka menyusun rute untuk kabur.

Tapi pelarian mereka kacau. Dari Jakarta ke Bogor, Semarang hingga Surabaya. Ujung-ujungnya, mereka kebingungan sendiri mau kemana lagi. Akhirnya memilih pulang.

Rencananya, mereka mau melamar jadi ABK lalu berlayar hingga berbulan-bulan. Tapi polisi yang sejak awal sudah mencium jejak, menyergap keduanya. Sobirin dan Priyo ditembak di kaki agar tak melawan. Rencana jadi Anak Buah Kapal (ABK) pun buyar. Pelarian mereka hanya berumur 8 hari, setelah mengotori tangan dengan darah.

“Ini sadis. Dalam satu malam, dia habiskan lima nyawa sekaligus, lalu dikuburkan di halaman rumah. Layak diganjar hukuman mati,” ujar Kombes Pol Hendra Rochmawan, Kabid Humas Polda Jabar. Kini Sobirin dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Priyo pun menanggung dosa besar karena ikut serta dalam tragedi berdarah ini.

Indramayu belajar malam itu, bahwa kemiskinan, dendam, dan kebrutalan bisa bertemu dalam satu titik, meledak, lalu memakan siapa saja yang berdiri di hadapannya. Lima nyawa melayang, dan sejarah mencatat bahwa kadang harga hidup manusia bisa jatuh, lebih murah dari selembar kuitansi rental mobil. (Abdi Mahatma)

Komentar