

PESAN WA DARI PAK DAHLAN ISKAN
Kemarin, saat sedang jogging, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tertera atas nama seorang mantan Menteri BUMN yang juga dikenal luas sebagai jurnalis senior sekaligus pemilik grup media yang berpengaruh, khususnya di Jawa Timur. Pesannya singkat, menyebut nama saya, lalu meminta izin untuk menelepon. Mungkin seorang teman merekomendasikan saya, lengkap dengan bumbu-bumbu tambahan untuk meyakinkan beliau tentang profil saya.
Karena kami memang pernah berkomunikasi sebentar pada masa pandemi COVID, saya merespons tanpa curiga. Saya bahkan mempersilakan beliau yang menelepon. Tak lama kemudian, sambungan masuk. Nadanya terdengar tergesa. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di Iran. Jaringan internet di sana terputus, sementara kontak-kontak yang biasa dia hubungi tak bisa diakses.
Di sela-sela permintaan pandangan tentang Iran, dia menanyakan beberapa hal pribadi: latar belakang pendidikan, kota kelahiran, dan hal-hal dasar lainnya. Saya menjawab apa adanya. Dalam pikiran saya, pertanyaan itu sekadar untuk memastikan bahwa saya ini orang nyata, bukan akun fiktif atau identitas rekaan.
Lalu muncul pertanyaan yang terasa agak aneh: apakah saya ini tokoh nomor satu Syiah. Saya sempat menganggapnya sebagai candaan, atau sekadar efek dari “bumbu-bumbu” rekomendasi yang sampai ke telinganya. Saya jawab lugas: tidak ada tokoh nomor satu dalam Syiah. Saya hanyalah seseorang yang kebetulan cukup aktif menulis dan menyampaikan pandangan di ruang publik.
Belakangan saya mengetahui bahwa percakapan itu tidak berhenti sebagai percakapan. Beberapa bagiannya kemudian muncul dalam tulisan beliau (link), dan di situ nama saya disebut sebagai “tokoh Syiah nomor satu”.
Dalam konteks Syiah di Indonesia, tidak ada hierarki semacam itu. Kita semua setara. Setiap orang hadir dengan peran masing-masing, sesuai kapasitas dan batasnya tanpa nomor urut dan peringkat.
-Labib Muhsin-
(sumber: fb)







Komentar