Oleh: Erizal
Pelan-pelan peristiwa di balik sowannya dua orang tersangka kasus ijazah Jokowi, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, ke rumah Jokowi di Solo mulai terkuak. Puzzle demi puzzle tersusun satu persatu.
Awalnya, Eggi lewat kuasa hukumnya Elida Netti memang mengajukan ke penyidik Polda Metro Jaya agar status tersangkanya dikaji ulang. Alasan pastinya tentu Eggi yang tahu. Tapi harus diakui, ini titik lemah.
Titik lemah ini seperti dimanfaatkan relawan Jokowi, yakni M. Rahmad dan Darmizal dengan mendatangi rumah Eggi di Bogor. Di situlah Eggi menitipkan buku untuk Jokowi dan ditandatangani. Bukan di rumah Jokowi.
Agaknya pertemuan inilah yang berlanjut hingga Eggi diterima Jokowi di rumahnya. Eggi mengajak tersangka lain, yakni Damai Hari Lubis. Pertemuan ini disetting diam-diam, tapi akhirnya bocor juga ke publik.
Yang membocorkan pertama sekali adanya pertemuan Eggi Sudjana, Damai Hari Lubis, dan Jokowi, adalah ajudan Jokowi, yakni Syarif M Fitriansyah. Tentu atas arahan langsung dari Jokowi, bukan inisiatif pribadi.
Eggi sendiri belum berbicara soal pertemuan ini, kecuali hanya sepenggal-penggal seperti pada Mikhael Sinaga dan terbaru orang yang datang ke rumahnya di Bogor.
Relawan Jokowi, M. Rahmad yang tampil berbicara soal pertemuan di Solo.
Rahmad-lah yang mengatakan Eggi meminta maaf dan memimpin doa kesuksesan Jokowi. Eggi membantah meminta maaf, tapi saling bantah itu tak berguna lagi. Artinya, pertemuan itu telah terjadi.
Dengan kata lain, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis sudah ‘dikarungkan’. Istilah Ahmad Khozinudin, kuasa hukum Roy Suryo, ‘Jokowi menang banyak’. Klarifikasi Eggi Jumat depan, sepertinya tak ada gunanya lagi.
TERLAMBAT
Abdul Gafur Sangadji, kuasa hukum Roy Suryo lainnya, mengatakan Eggi Sudjana terlambat berdamai dengan Jokowi. Mestinya ia yang dulu sebagai kuasa hukum Bambang Tri dan Gus Nur, melakukannya sejak awal, bukan saat ini.
Kalau Eggi berdamai sejak dulu dengan Jokowi, maka Bambang Tri dan Gus Nur tak perlu masuk penjara. Dan kasus ini tak pernah ada. Roy Suryo Cs tak muncul.
Jangan giliran kliennya dibiarkan saja masuk penjara (Gus Nur dan Bambang Tri), tapi ia sendiri tak mau masuk penjara alias menghindar.
Tidak saja terlambat, nilai-nilai perjuangan yang dulu disuarakan Eggi Sudjana semuanya seperti tak ada artinya. Perjuangan memang tak dilihat di awal, tapi di akhir.
(*)







Komentar