Tidak Ada Makan Siang Gratis
Ekonom pemenang Nobel, Milton Friedman, turut memopulerkan adagium legendaris: There is no such thing as a free lunch (tidak ada makan siang gratis).
Selalu ada biaya yang harus dibayar, entah oleh pembayar pajak, utang masa depan, atau dalam konteks APBN 2026 biaya oportunitas yang dikorbankan dari pos anggaran lain. Ketika kita memutuskan untuk menyajikan makanan bergizi gratis di atas meja siswa, pertanyaan ekonominya adalah apa yang kita hilangkan untuk membayarnya?
Total anggaran pendidikan tahun 2026 dipatok naik dari Rp 724,3 triliun di 2025 menjadi Rp 769,1 triliun di 2026, naik Rp 44,8 triliun atau setara 6,2 persen. Secara khusus, anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) meningkat drastis sebesar Rp 166,8 triliun, dari Rp 56,8 triliun di 2025 menjadi Rp 223,6 triliun di 2026, atau setara 293,6 persen.
Dalam logika anggaran yang terbatas (budget constraint), lonjakan di satu pos pasti menuntut pengorbanan di pos lain dan data menunjukkan itu.
Pos anggaran pendidikan pada (1) Belanja nonkementerian/lembaga pendidikan, (2) Transfer ke daerah (TKD), dan (3) Pembiayaan pendidikan, masing-masing turun Rp 35,6 triliun, Rp 82,5 triliun, dan Rp 46 triliun secara berurutan.
Jika dijumlahkan, nominalnya setara dengan Rp 164 triliun hampir setara dengan kenaikan anggaran BGN itu sendiri.
Dapat disimpulkan, memang kenaikan anggaran BGN ”dibiayai” oleh penurunan dalam ketiga pos anggaran tersebut.
Tidak Ada Makan Siang Gratis
Opini Harian Kompas 12 Februari 2026
Ditulis oleh Adrian Nalendra
(Peneliti Ekonomi GREAT Institute)
*sumber: Kompas






