✍🏻Balqis Humaira
Gue mau ngomong blak-blakan.
Daus (Firdaus Oiwobo) itu keliatan sepele tapi sangat beracun buat aktivis.
Bukan karena dia jago.
Bukan karena dia punya kuasa.
Tapi karena mulutnya bikin orang berhenti peduli.
Kalimat dia yang bilang teror itu cuma rekayasa, drama, settingan, itu bukan sekadar nyinyir.
Itu racun pelan-pelan.
Dan racun model gini tuh efeknya gak langsung kerasa. Tapi begitu kejadian, udah telat semua.
Gue jelasin pelan.
Bayangin ada orang diteror. Rumah dilempar, mobil dirusak, keluarga ketakutan.
Normalnya, orang-orang mikir: “Wah ini bahaya, harus dijaga, harus diusut.”
Tapi begitu ada Daus yang nyeletuk: “Ah itu palingan akal-akalan.”
Boom.
Empati mati.
Orang-orang langsung mikir: “Oh… paling drama.” “Oh… paling cari panggung.” “Oh… lebay.”
Padahal teror itu bukan soal percaya atau enggak, tapi soal nyawa dan keselamatan.
Ini bahaya pertama dari Daus:
dia bikin orang kebal sama cerita teror.
Begitu publik kebal, mau kejadian apa pun besok:
Rumah kebakar
Orang diserang
Anak diancam
Responnya cuma: “Lah katanya kemarin settingan?”
Ini licik.
Ini bukan debat.
Ini ngilangin rasa takut yang seharusnya ada.
Bahaya kedua, dan ini lebih serem.
Omongan Daus itu ngasih lampu hijau ke pelaku teror.
Pelaku itu mikir: “Oh santai, kalau ketahuan juga bisa dibantah.” “Oh aman, nanti dibilang drama.”
Jadi mereka makin pede.
Makin nekat.
Makin berani.
Karena tau, kalau pun ada korban, publiknya ribut duluan debat, bukan marah ke pelaku.
Daus gak perlu nyuruh siapa-siapa.
Cukup bikin suasana aman buat orang jahat.
Bahaya ketiga:
korban jadi takut ngomong.
Ini dampak yang jarang orang sadari.
Begitu narasi “ah itu rekayasa” nyebar, orang-orang yang sebenernya lagi diteror mikir: “Gue ngomong ntar dikira drama.” “Gue lapor ntar diketawain.”
Akhirnya mereka diem.
Nahan.
Nunggu.
Dan biasanya, manusia baru percaya kalau udah ada korban beneran.
Logika Daus itu secara gak langsung bilang: “Lo mati dulu baru gue percaya.”
Itu kejam.
Bahaya keempat:
aktivis jadi saling curiga.
Ini efek domino.
Ada aktivis diteror, yang lain mikir: “Beneran gak sih?” “Jangan-jangan emang settingan?”
Pelan-pelan, solidaritas retak.
Padahal kekuatan aktivis itu cuma satu: rame-rame.
Begitu mulai saling curiga, perjuangan melemah tanpa perlu dibubarin.
Dan Daus, entah sadar atau enggak, jadi alat pemecahnya.
Bahaya kelima:
fokus publik dialihin.
Harusnya orang ribut soal:
Siapa yang neror?
Kenapa bisa?
Siapa yang diuntungkan?
Tapi gara-gara omongan Daus, yang dibahas malah:
“Asli atau settingan?”
“Drama atau enggak?”
“Motif cari simpati?”
Pelaku?
Santai.
Mereka nonton sambil ngopi.
Karena publiknya sibuk nyerang korban, bukan ngejar pelaku.
Gue mau lurusin satu hal.
Masalahnya bukan Daus gak percaya.
Orang boleh ragu.
Masalahnya adalah cara dan dampaknya.
Kalau lo ngomong soal teror dengan enteng, sinis, tanpa empati, itu bukan netral.
Itu bahaya.
Karena dalam sejarah mana pun, kekerasan selalu dimulai dari satu hal: korban dianggap lebay.
Dan ini penting buat semua yang baca.
Daus itu bukan tipe orang yang turun tangan.
Dia bukan algojo.
Dia itu orang yang bikin algojo merasa aman.
Bukan yang mukul.
Tapi yang bilang: “Ah itu paling bohong.”
Dan kalau lo aktivis, lo harus sadar:
musuh gak selalu datang bawa pentungan.
Kadang datang bawa kalimat santai yang bikin semua orang cuek.
Teror itu jarang datang gede di awal.
Dia ngetes dulu:
Lempar ancaman
Lempar teror kecil
Lempar ketakutan
Kalau publik masih peduli, dia mundur.
Kalau publik ketawa dan bilang “drama”, dia lanjut.
Dan orang kayak Daus, dengan omongan remehnya, ikut ngetes reaksi itu.
Makanya dia berbahaya.
Bukan karena kuat.
Tapi karena dia bikin kejahatan keliatan biasa.
Dan di negara mana pun,
saat kejahatan dianggap biasa,
korban tinggal nunggu giliran.







Komentar