Konflik kali ini tak hanya di lapangan. Medsos menjadi medan perang. Banyak kabar tak jelas sumbernya. Ini menciptakan fog of war. Konsep Fog of War (Kabut Perang) awalnya diperkenalkan oleh pakar militer Prusia, Carl von Clausewitz, untuk menggambarkan ketidakpastian informasi yang dialami komandan di medan tempur.
โNamun, dalam konteks media sosial dan konflik modern seperti AS vs Iran, “kabut” ini tidak lagi terjadi secara alami karena debu mesiu, melainkan diciptakan secara sengaja untuk membingungkan atau mengacaukan persepsi publik dan pembuat kebijakan.
Misalnya, kemarin ramai kabar unverified bahwa Trump masuk rumah sakit Walter Reed Medical Center, atau bahkan ada kabar dia sudah wassalam. Kabar ini muncul akibat pasca insiden dua pesawat AS jatuh, lebih dari 12 jam Trump yang biasanya cerewet tiba-tiba ga ada komentarnya. Secara perlahan ini menciptakan perubahan harapan dan persepsi, memaksa lawan dan publik untuk melakukan respon emosional.
Iran pun tak ketinggalan ikut meramaikan, namun dengan cara yang lucu. Pak Dubes Iran untuk Zimbabwe unggah cuitan, seakan bilang, “Woi, Trump, tumben sampean meneng bae. Ngomonglah. Kita bosen nih ndak ada bahan buat bully lagi.” Cuitan ini terakhir memperoleh 4.3 juta tayangan, jumlah yang signifikan untuk menggerakkan persepsi publik.
Dalam perang kognitif ini jempol pengguna media sosial adalah garis depan pertempuran. Setiap pembagian (share) konten yang sudah maupun belum terverifikasi, secara tidak langsung ikut berperan dalam strategi asimetris salah satu pihak. (Triwibowo Budi Santoso)







kyk nya dia dan sohibnya mati dunia damai deh