Tak Ada Ancaman Mendesak, Hanya Agenda Israel: Senator AS Tolak Perang Melawan Iran

Dua senator Amerika Serikat secara terbuka mengkritik keputusan Presiden Donald Trump yang melancarkan serangan terhadap Iran. Mereka menegaskan tidak ada “ancaman yang bersifat segera” dari Teheran yang dapat membenarkan aksi militer tersebut, dan menyebut perang ini lebih mencerminkan agenda pemerintah Israel.

Senator senior AS, Bernie Sanders, menyatakan kebijakan luar negeri dan militer Amerika Serikat seharusnya ditentukan oleh rakyat Amerika, bukan oleh kabinet sayap kanan Israel yang dipimpin Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu disampaikan empat hari setelah koalisi AS-Israel memulai operasi militer terhadap Iran.

Dalam unggahannya di platform X pada Selasa (3/3/2026), Sanders menyinggung dukungan miliaran dolar yang selama ini diberikan Washington kepada pemerintahan Netanyahu, termasuk dalam perang di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Ia menilai, kini Netanyahu menginginkan perang dengan Iran dan Presiden Trump telah memenuhi keinginan tersebut.

“Kebijakan luar negeri dan militer Amerika harus ditentukan oleh rakyat Amerika, bukan oleh kabinet ekstremis sayap kanan Netanyahu,” tegas Sanders.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam pengarahan tertutup di Kongres berupaya meyakinkan para anggota legislatif mengenai alasan di balik operasi militer terhadap Iran yang disebut “Operation Epic Fury”. Namun, sejumlah senator menyatakan belum menerima bukti yang cukup kuat.

Senator Demokrat senior, Richard Blumenthal, menegaskan setelah sesi pengarahan tersebut bahwa tidak ada bukti ancaman langsung yang membenarkan serangan terhadap Iran.

“Sampai saat ini tidak ada bukti, sama sekali tidak ada, mengenai ancaman yang bersifat segera yang dapat membenarkan serangan ke Iran. Tidak ada ancaman langsung terhadap Amerika Serikat yang dipaparkan kepada saya, dan yang lebih penting, kepada rakyat Amerika,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat pemerintahan AS menyebut program nuklir damai Iran, produksi rudal balistik, serta dugaan kemampuan serangan jarak jauh sebagai alasan tindakan militer. Namun, para pengkritik menilai klaim tersebut belum menunjukkan ancaman langsung terhadap wilayah Amerika.

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melalui Garda Revolusi dan Angkatan Daratnya meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan. Eskalasi ini bahkan mendorong Washington menutup beberapa kedutaan besarnya dan mengimbau warga Amerika untuk meninggalkan kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *