
Dua tahun terakhir,
Ribuan rudal-rudal, bom, menghantam Gaza. Jika ditimbun, itu bagai gunung saking banyaknya. Rumah-rumah, gedung-gedung hancur lebur.
Dua tahun terakhir,
60.000 lebih penduduk Gaza tewas. Sebagian adalah anak-anak, bayi-bayi, ibu-ibu. Itu yang tercatat, jumlah akuratnya bisa berkali lipat.
Dua tahun terakhir,
Israel habis-habisan menyerang Gaza, termasuk melakukan propaganda ke seluruh dunia, menyebut-nyebut tanggal 7 Oktober sebagai alasan genosida mereka. Menuduh teroris sebagai sumber masalahnya. Habis-habisan sekali israel menyebar propaganda ini, termasuk lewat artis-artis, perusahaan-perusahaan media, pun lewat medsos, mereka memblokir suara-suara perlawanan–termasuk memblokir puluhan kali postingan saya.
Tapi lihatlah, my friend,
Gaza masih di sana, loh. Dengan perut lapar, dentum bom, penduduk Gaza masih bertahan di sana. Yang ada, dunia malah terbuka matanya lebar-lebar. Tidak bisa lagi dibohongi. Dunia tahu siapa teroris sejatinya. Siapa pembunuh bayi-bayi, anak-anak.
Lihatlah, my friend,
Negara-negara Eropa satu persatu mengakui Palestina, sebagai negara yang sah! Setelah puluhan tahun mereka tutup mata. Jutaan orang akhirnya menyadari, jika bukan serangan 7 Oktober masalahnya. Melainkan penjajahan, saat pengungsi dari Eropa datang merebut paksa tanah-tanah penduduk yang lahir, dan tinggal di sana berabad-abad. Saat israel abal-abal, alias israel palsu, datang mencuri tanah. Duh, israel-israel ini bahkan 30% pun tidak mirip kode genetiknya dengan penduduk asli leluhur israel yg sejati; mereka ini orang-orang Eropa, Amerika.
Sungguh hebat penduduk Gaza. Merekalah bangsa terpilih itu. Merekalah yang disebut-sebut kitab suci. Bukan israel abal-abal ini.
Penduduk Gaza tidak akan kalah. Karena jika mati pun, syahid telah menanti. Pun jika akhirnya merdeka, itulah yang mereka perjuangkan.
*Tere Liye







Komentar