Pangeran Diponegoro adalah pencerita yang baik, demikian kata Peter Carey. Peter Carey sendiri belum lama ini juga meluncurkan terjemahan dan ulasan “Babad Diponegoro”, sayangnya harga buku terbitan Kompas itu memaksa saya harus menabung dulu.

“Babad Diponegoro” adalah otobiografi sejarah dalam bentuk tembang macapat yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro selama pengasingan di Manado (1831–1832). Manuskrip ini mengisahkan kehidupan, pandangan spiritual, dan latar belakang Perang Jawa (1825–1830) melawan Belanda. Karya ini diakui sebagai Warisan Ingatan Dunia UNESCO pada 2013.
Poin Penting Babad Diponegoro:
- Penulis & Waktu: Ditulis langsung oleh Pangeran Diponegoro dalam kurun waktu kurang dari 9 bulan (20 Mei 1831 – 3 Februari 1832) saat ditahan di Benteng Amsterdam, Manado.
- Bentuk Sastra: Merupakan salah satu contoh sastra Jawa modern terawal yang berbentuk macapat (tembang).
- Isi: Mencakup asal-usul, masa kecil di Tegalrejo, ketidakpuasan terhadap intervensi Belanda di Keraton Yogyakarta, hingga alasan mendetail melancarkan perang.
- Nilai Sejarah: Menjadi sumber primer penting untuk memahami situasi sosial-politik Jawa awal abad ke-19 serta pandangan pribadi Sang Pangeran.
- Pengakuan UNESCO: Pada Juni 2013, naskah ini ditetapkan sebagai Memory of the World (Warisan Ingatan Dunia) karena sumbangannya bagi peradaban.
- Keberadaan Naskah: Naskah aslinya disimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia dan Belanda.
Karya ini memberikan gambaran mendalam mengenai kepribadian Diponegoro, termasuk sisi religius dan kepemimpinannya, menjadikannya salah satu dokumen sejarah terpenting Indonesia.
Bagian yang paling saya suka dari Babad Dipanegara adalah kisah perjalanan keilmuan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta, menjadikannya keturunan langsung Sultan Agung Hanyokrokusumo melalui garis trah Mataram Islam.
Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593–1645) adalah raja ketiga Kesultanan Mataram yang membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan, menguasai sebagian besar Jawa, serta dikenal gigih melawan VOC Belanda, termasuk serangan ke Batavia (1628-1629).
Sultan Agung Menuntut Ilmu ke Mekkah
Raden Rangsang atau Pangeran Djatmika -nama kecil Sultan Agung- sebenarnya tidak suka dengan politik kekuasaan.
Atas izin ayahnya, ia bersama tiga pengawal pergi menuntut ilmu ke Mekah. Sebenarnya ia tidak diijinkan namun memaksa hingga sang ayah luluh. Raden Rangsang ditemani tiga pengawal berangkat ke Mekah.
Di Mekah, beliau sangat senang bisa bertapa. Dari sini saya jadi paham bahwa bertapa dalam serat Jawa tidak sekedar bermakna semedi. Sungguh-sungguh belajar agama juga disebut sebagai bertapa.
Selain belajar kepada empat Imam (-madzhab-), Raden Rangsang juga melakukan peziarahan spiritual ke Baitul Maqdis (Palestina) dan ke Istanbul (pusat Kekhalifahan Utsmani).
Sementara Raden Rangsang sedang tekun bertapa (menuntut ilmu) di Tanah Suci, di Mataram sang ayah meninggal saat berburu di Krapyak hingga beliau kemudian dijuluki Panembahan Seda Krapyak.
Sebagai pengganti, adik Raden Rangsang, Pangeran Natapura diangkat sebagai raja. Pangeran Natapura ini sakit-sakitan, sehingga mendung kelam terus menggelayuti langit Mataram.
Akhirnya para pembesar Mataram memutuskan memanggil pulang Raden Rangsang. Tumenggung Singaranupun berangkat ke Mekah dengan membawa aneka persembahan.
Syarif Mekah terkejut dengan tamu dari tanah Jawa yang membawa aneka persembahan, yang disebut sebagai sedekah untuk Syarif dan empat imam guru Raden Rangsang dan meminta ijin untuk mengajaknya pulang, untuk dinobatkan jadi Raja.
Awalnya Raden Rangsang keberatan karena beliau memang ingin menjadi ulama, yang dikiaskan dengan kalimat, empat orang itu (Raden Rangsang dan tiga pengawalnya) sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri, hanya Allah yang ada di hatinya.
Atas nasehat Syarif Mekah dan empat imam, Raden Rangsang akhirnya bersedia pulang.
“Pulanglah cucuku, itu jalan terbaik. Kalau itu yang dipesankan terhadap dirimu, jika engkau tidak pulang, akhirnya yang kau temui rasa durhaka.”
Syarif Mekah mengirim utusan ke Istanbul, meminta ijin akan penobatannya. Sebelum pulang ke Jawa, Imam Sapingi menasehatkan khutbah tentang alam baka.
Restu dari Utsmani itulah yang menjadikan gelar Raja Mataram itu Sultan bukan lagi Sunan. Kedalaman ilmu Sultan Agung itulah yang menyebabkan beliau bisa melakukan Islamisasi peradaban dan kebudayaan Jawa.
Mengubah kalender Jawa dari kalender Saka ke Hijriah. Menyusun ajaran “Tasawuf Jawa” yang berporos pada “Sangkan Paraning Dumadi”. Membentuk lembaga pendidikan agama sampai tingkat desa. Dan mensyaratkan negara yang hendak berbisnis dengan Jawa untuk memfasilitasi kapal bagi jemaah haji.
Kualitas naskah “Babab Diponegoro” ini dibuktikan dengan dimasukkannya manuskrip ini sebagai manuskrip bersejarah dalam “Memory of the World UNESCO”.
Bagi yang minat, buku edisi lite “Babad Dipanegara” mumpung ada cuci gudang penerbit Narasi, Rp125.000 jadi Rp60.000.
Baru, segel, stok lama.
Minaf, wa.me/6281226036981
(Arif Wibowo)






