Sikap HAMAS terhadap Board of Peace

HAMAS, Board of Peace, dan Jalur Diplomasi yang Tak Terlihat, Bagian Peran Turki

Pada 26 Januari 2026 kemarin, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan (penerus potensial Erdogan, the next Presiden Turki) secara resmi bertemu dengan delegasi HAMAS di Istanbul.

Pertemuan strategis tingkat tinggi yang dijembatani mantan kepala intelijen Turki tersebut membahas perkembangan TAHAP KEDUA rencana perdamaian Gaza dan kondisi pasca gencatan senjata.

Dalam pernyataan resmi Kemenlu Turki yang dikutip Anadolu Ajansı, Hakan Fidan menegaskan bahwa Turki akan terus menggunakan berbagai saluran diplomatik, termasuk keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP) untuk membela hak rakyat Gaza dan menekan pelanggaran gencatan senjata.

Pertemuan ini menegaskan satu realita pada isu BoP, HAMAS tidak berada di luar jalur diplomasi internasional, dan tidak memosisikan diri sebagai penonton dari BoP.

Artinya, Turki tidak memandang BoP sebagai alat penyingkir HAMAS, melainkan sebagai arena diplomasi yang bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Gaza dan HAMAS memahami ini.

Turki juga menerima undangan resmi untuk bergabung dalam Board of Peace, yang oleh Ankara dipahami sebagai bagian dari upaya kolektif internasional untuk menciptakan stabilitas Gaza di bawah mandat internasional. Dengan kata lain, Turki masuk ke BoP bukan untuk melegitimasi penjajahan, tetapi untuk mengisi ruang agar Gaza tidak dikelola sepihak.

Di sini kita bisa melihat perbedaan sikap dengan sebagian reaksi publik Indonesia. Banyak yang membaca BoP secara hitam putih, dukung atau tolak.

Sementara HAMAS melalui jalur Turki membacanya sebagai ruang kontestasi politik yang harus dihadapi, bukan dihindari.

Ini baru bagian Turki, next kita bahas jalur diplomasi HAMAS Qatar sebagai rumah kedua gerakan perlawanan Palestina ini.

(Kang Irvan Noviandana)

Komentar