Sebelum melihat konten KDM yang ini, aku lebih dulu melihat konten Aisar yang datang ke rumah Bapak penjual es gabus. Si Boy satu itu emang suka berbagi, kalau ada yang dapat musibah/viral, dia gercep datang. Biasanya aku suka terharu melihat dia ngasih hadiah umroh sama yang dibantunya. Tapi, pas kemarin enggak. Kayak ada yang mengganjal di hati aku saat lihat ekspresi si Bapak.
Barulah setelah nonton konten KDM ini aku paham.
Awalnya aku iba sama si Bapak, dan berdoa setelah ini banyak yang datang buat nolong dan angkat derajat si Bapak. Sekarang aku gak respect, miris, sedih, malu, dan tahu inilah alasan kenapa si Bapak selama hidupnya miskin, karena mentalnya emang miskin.
Bapak Ajat (Sudrajat) bilang kalau dia menunggak SPP sekolah SD anaknya selama 4 bulan, sebesar Rp, 1.5 juta. KDM jelas gak mudah percaya, ditanya SD mana, kalau negeri gak mungkin ada SPP. Dia masih keukeuh sama pernyataannya, sampai pas KDM bilang, mau saya tanya langsung ke sekolahnya, barulah dia ngaku, cuma sebulan, dan itu pun Rp. 200 ribu.
Itupun aku tetap gak percaya, karena semua sekolah negeri gratis, gak ada iuran SPP. Ada pun bayaran lain, dan harus jelas kegunaan serta untuk apa.
Bapak Ajat juga ngaku gak ada yang bantuin dia sama sekali. Bantuan motor dari pihak kepolisian, bukan buat dia karena dia kasih ke anaknya. Bantuan donasi dari para influencer juga selebgram yang totalnya mencapai 100 juta, gak disebut bantuan. Termasuk umroh dia dan istrinya yang Aisar kasih. Mungkin gak dihitung.
Pantas Aisar biasanya kalau habis ngasih orang suka heboh sendiri, tapi kemarin di Bapak ini, dia kayak yang gimana gitu. Mungkin bisa menilai dari ucapan si Bapak yang SELALU MENGELUH.
Bapak Ajat bilang lagi, belum bayar kontrakan beberapa bulan, dan gak punya modal buat jualan. Gak tanggung-tanggung, KDM ngasih bantuan 10 juta buat bayar kontrakan dan modal usaha.
Setelah KDM selidiki lagi, Bapak Ajat gak ngontrak. Itu rumah sendiri, yang dia beli pakai uang sendiri hasil warisan orang tuanya.
Belum cukup istighfar gue sampai sini.
Di acara Pagi-Pagi Ambyar menurut komentar yang menonton acara tersebut, Bapak Ajat dikasih motor, tapi dia malah minta mobil buat jalan-jalan keluarganya.
Shock gak tuh.
Pantes miskin, sampai m a t i nasib hidup dia gak akan berubah. Karena tidak bersyukur, dikasih hati minta jantung. Bohong pula demi menarik simpati orang. Licik, dsb.
Ampuni hamba Ya Allah kalau julid, tapi hamba beneran kesel lihat si Bapak.
Ada orang yang ketika dibantu dia tahu diri, dan semakin bersyukur sama Tuhan. Tetapi, ada juga yang seperti ini. Dia memanfaatkan rasa iba orang lain demi kepentingan sendiri.
Sebenarnya Allah sedang menguji si Bapak dengan mengirim para Polisi buat menuduh si Bapak. Tapi, si Bapak gagal melewati ujian naik kelas ini, dia malah lupa diri dan berharap bisa terus hidup enak dari uang santunan. Padahal kehidupan dia dan keluarganya akan jauh lebih baik seandainya mau bersyukur.
Kisah Bapak Ajat mengingatkan aku sama Agus Sedih.
Semoga gak ada lagi yang seperti ini, memanfaatkan rasa iba, dan kepedulian orang lain untuk kepentingannya sendiri.
(dari fb Tania Noer)







Komentar