Semua Akhirnya Memilukan

Semua Akhirnya Memilukan

Oleh: Erizal

Akhirnya Ahmad Sahroni dicopot sebagai Wakil Ketua Komisi III. Meskipun dikatakan Sekjen Partai NasDem hanya sekadar penyegaran, tapi sulit dibantah bahwa pencopotan itu terkait dengan diksi-diksi yang dipakai Ahmad Sahroni belakangan ini, yang memicu eskalasi protes terhadap anggota DPR yang bergaji besar makin meningkat tinggi.

Cuma 5 huruf (TOLOL), yang dipakai Ahmad Sahroni sebagai balasan bagi mereka yang ingin membubarkan DPR, karena gaji besarnya itu, tapi lari ke mana-mana dan mengubah segalanya. Keinginan yang mustahil, dan mestinya tak perlu ditanggapi.

Mestinya tak hanya Ahmad Sahroni dari NasDem, Eko Patrio dari PAN, juga layak dicopot sebagai Sekjen PAN. Eko Patrio juga memicu eskalasi protes terhadap DPR, karena aksi joget-jogetnya yang diprotes publik, justru dibalas dengan menyebar video sedang berjoget lebih asyik menjadi seorang DJ, yang diiringi oleh pengurus PAN lainnya.

Eko Patrio seperti ingin menantang suara publik bahwa mereka yang memprotes adalah mereka yang iri saja. Tak suka melihat orang lain senang. Padahal protes itu wajar saja. Yang tak wajar justru cara menanggapinya.

Apa yang terjadi di Pati terhadap Bupati Sudewo adalah contoh. Protes rakyat jangan ditantang hanya sebagai pembenaran. Gaji besar anggota DPR itu adalah fakta di mata rakyat. Di mata anggota DPR mungkin masih kurang, tapi yang dipakai adalah kaca mata rakyat yang saat ini memang lagi serba susah.

Karena itu, apa pun bentuk protesnya, jangan dibalas dengan sesuatu yang sebentuk menantang rakyat. Ditelan saja bulat-bulat sambil menjelaskan, jika perlu dijelaskan. Ruang publik kita semakin menyempit, karena semua orang sudah saling terhubung.

Saya mengatakan sebelumnya bahwa demo di Pati tak separah demo di DPR tanggal 25 Agustus lalu. Rakyat masih memaafkan Ahmad Sahroni dan Eko Patrio, serta yang lainnya. Demo di Pati sudah sempurna sebagai gerakan rakyat, karena rakyat mendukung penuh demo itu dengan cara membawa makanan agar demo terus berlangsung.

Sedangkan demo di DPR 25 Agustus tak terlihat sebagai gerakan rakyat. Bahkan, dianggap tak jelas pihak mana yang menggerakkan mereka. Gerakan berakhir bentrok dengan aparat, tapi masih aman dan terkendali.

Berbeda dengan demo di DPR tanggal 25 Agustus, demo di DPR tanggal 28 Agustus resmi digerakkan oleh massa buruh. Berbagai elemen buruh terlibat dalam demo 28 Agustus itu. Tapi demo ini berakhir duka, karena seorang driver ojol dilindas mobil kendaraan taktis Brimob. Entah apa tujuannya membelah massa dengan ngebut seperti itu?

Demo buruh memang sudah selesai, tapi massa tetap bertahan sampai malam hari. Insiden ini membuat demo 28 Agustus berakhir dengan spekulasi yang liar dan emosi yang membumbung tinggi. Jarak demo yang terlalu berdekatan bisa jadi salah satu faktor semuanya akhirnya terjadi.

Presiden Prabowo mengucapkan bela sungka terhadap jatuhnya korban yang disebut langsung namanya oleh Presiden, yakni Affan Kurniawan. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah mendatangi juga rumah korban, semalam. Gerak cepat para tinggi negeri ini juga pantas diapresiasi.

Mereka juga berjanji akan mengusut tuntas kasus wafatnya Affan Kurniawan ini. Pelanggarannya terlalu kasat mata dari video beredar, di mana kendaraan taktis Brimob itu seperti sengaja membelah massa, yang kegunaannya bukan untuk itu seperti dikatakan Mantan Kabareskrim, Susno Duadji.

Tentu saja persoalannya tak berubah dari protes rakyat terhadap anggota DPR, yang sudah bergaji besar di mata rakyat, tapi tak berperilaku empati, dan malah antipati terhadap protes rakyat, menjadi polisi versus driver ojol, yang keduanya mestinya korban saja di lapangan, yang memang bisa berubah cepat karena berbagai situasi yang tak menentu.

Polisi yang mengakibatkan terjadinya insiden wafatnya Affan Kurniawan itu memang harus dihukum berat, kenapa bisa terjadi peristiwa yang akhirnya memilukan ini. Solidaritas driver ojol membuat kita merinding juga, akhirnya.

Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Presiden Prabowo berkali-kali mengatakan bahwa ia bekerja untuk rakyat. Memang, kalau dilihat program-program unggulan Presiden Prabowo, semua berorientasi kepada rakyat. Komitmen Prabowo terhadap rakyat terasa bulat dan utuh.

Tapi agak anehnya dukungan terhadapnya terasa tak terlalu besar sejak awal, entah kenapa. Rasanya belum ada Presiden yang seresponsif Prabowo. Tapi sikap responsif itu kerap juga diartikan sebagai pahlawan kesiangan. Akhirnya, sebanyak itu orang yang percaya memang sebanyak itu pula orang yang tak percaya.

Komentar