Selama 23 tahun menjadi utusan Allah, Kanjeng Nabi saaangat sibuk

Selama 23 tahun menjadi utusan Allah, Kanjeng Nabi saaangat sibuk. Seolah-olah kesibukan ini mirip seperti memikul gunung. Saat di Mekah, misalnya, beliau sendiri dipersekusi habis-habisan beserta pegikutnya yang beriman, merawat hati mereka yang disiksa, hingga sebagian dari mereka mencari suaka sampai Habasyah.

Mekah, pada akhirnya, menjadi tempat Kanjeng Nabi menjalani kesibukannya dalam mempertahankan hidup bersama umatnya.

Adakah manusia yang sempat berpikir lain dalam kondisi seperti ini?

Saat berpindah ke Madinah, kesibukannya tak jadi lebih ringan, malah bertambah. Penduduk Madinah sangat beragam –merawat keragaman tentu lebih menyibukkan, ditambah istri beliau sudah mencapai sembilan, bahkan Nabi berperang hingga 20 kali–adakah manusia yang sempat berpikir lain dalam kondisi sesibuk ini?

Akan tetapi, di tengah kesibukannya selama dua dekade itu, tidak ada satupun bab dari syariat, akidah, dan adab yang belum sempat disampaikan dari lisannya yang mulia.

Fikih, misalnya, dari satu bab saja yang ia sampaikan di masa itu, ternyata melahirkan ribuan (bahkan jutaan) karya yang masih berkembang sampai sekarang. Uniknya, semua karya itu bersandar hanya dari satu Kanjeng Nabi yang menjalani hidup sesibuk itu.

Jika bukan wahyu Allah, rasa-rasanya kok mustahil hal seperti ini datang dari mas-mas biasa.

Sugeng milad, Kanjeng Nabi. Al-shalatu wa al-salamu ‘alaik.

Salam,
Rumail Abbas

Komentar