Selain Minyak, AS-Israel Mau Iran Legalkan LGBTQ, Liberalisme, dan Penghapusan Syariat Islam

Ternyata di balik serangan brutal AS-Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei (rahimahullah) pada 28 Februari 2026, ada agenda jauh lebih dalam daripada sekadar minyak atau program nuklir. Mereka ingin menghancurkan Republik Islam Iran sebagai benteng syariat dan menggantinya dengan Iran sekuler-liberal yang tunduk pada Barat dan Zionis. Ini bukan teori, tapi fakta dari mulut antek-antek mereka sendiri.

Fokus utama mereka adalah Reza Pahlavi, putra Shah zalim yang lari ke Barat tahun 1979. Pahlavi ini sekarang jadi boneka favorit: dia memuji serangan AS-Israel sebagai “bantuan kemanusiaan”, menyerukan regime change, dan berjanji kalau dia berkuasa, Iran akan mengakui Israel, bergabung Abraham Accords, hentikan dukungan Axis of Resistance, dan terapkan “demokrasi sekuler”. Apa artinya sekuler di sini? Penghapusan total syariat Islam dari kehidupan negara.

Di bawah syariat Iran sekarang, hukum Allah menjaga fitrah manusia: larang zina, riba, dan perbuatan kaum Luth. Tapi Pahlavi dan pendukungnya bicara “equal rights for all”, “end discrimination”, dan “individual freedoms”. Ini kode halus untuk liberalisasi moral total:

Legalkan LGBTQ: Pahlavi sudah dianugerahi award dari kelompok LGBTQ+ konservatif AS (Log Cabin Republicans) tahun 2023 karena “membela hak-hak mereka”. Dia sebut komunitas LGBTQ Iran “berani” melawan rezim, dan pendukungnya bilang dia “pro-LGBT advocate” yang ingin “cultural shifts” untuk equality dan respect. Kalau dia naik, parade gay, pernikahan sesama jenis, dan pendidikan gender di sekolah akan masuk—semua yang dilarang keras oleh syariat sebagai kemungkaran besar.

Free sex dan liberalisme: Propaganda “Woman Life Freedom” dipakai untuk hapus hijab wajib dan hukum Islam soal akhlak. Hasilnya? Masyarakat terbuka porno, zina bebas, keluarga hancur, seperti model Barat yang mereka jual sebagai “kebebasan”.

Penghapusan syariat: Pahlavi janji “separation of religion and state”, “secular democracy”, dan konstitusi baru tanpa pengaruh ulama. Ini berarti hilang hudud, qishas, zakat negara, dan perlawanan terhadap kezaliman Zionis. Iran akan jadi negara Teluk palsu: kaya minyak tapi budak IMF, normalisasi dengan Israel, dan budaya Barat merusak generasi muda.

AS-Israel takut model Velayat-e Faqih: negara yang gabungkan tauhid, keadilan sosial, dan jihad fi sabilillah. Selama Iran Islami, Palestina punya dukungan, Hizbullah kuat, Ansarullah bertahan. Regime change berarti Iran lemah, minyak mengalir murah ke Barat, dan umat Islam kehilangan benteng perlawanan.

Ini perang ideologi, bukan hanya militer. Kita harus tegas: Iran butuh pemimpin setia syariat, bukan antek Barat yang halalkan haram atas nama demokrasi palsu. Syariat adalah rahmat, kekuatan, dan jalan kemenangan. Jangan terjebak jebakan liberalisme yang merusak akidah dan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar