✍🏻Ayman Rashdan Wong (Analis Internasional dari Malaysia)
Saya tidak mengerti apa gunanya memperdebatkan Sunni-Syiah saat Perang Iran ini.
Banyak orang menganggap perang ini seperti pertandingan sepak bola, di mana Anda harus memilih tim mana yang akan didukung.
Dalam politik nasional, orang-orang telah lama menggunakan mentalitas lapangan sepak bola ini, sampai-sampai terbawa suasana ketika berbicara tentang geopolitik.
Untuk memahami geopolitik di balik konflik ini, kita harus melihat “gambaran besar”: Apa tujuan perang ini? Apa dampaknya? Dan apa hubungannya dengan kita?
Mengapa AS-Israel sangat ingin menjatuhkan Iran?
Jawabannya sederhana. AS-Israel ingin menjatuhkan Iran karena Iran adalah ancaman dan hambatan terbesar bagi mereka.
Selama pemerintahan Iran saat ini masih ada, ambisi Israel untuk mendominasi Timur Tengah tidak akan tercapai.
Tidak masalah apakah Israel hanya ingin menguasai Palestina (Israerl Kecil), atau menelan wilayah dari Sungai Nil hingga Efrat (Israel Besar), syarat utamanya adalah Israel harus membangun hegemoni (kekuasaan absolut yang tak tertandingi) di Timur Tengah.
Di masa lalu, Tentara Salib gagal bertahan karena negara Islam akhirnya bersatu di bawah Salahuddin al-Ayyubi yang menyatukan Syam dan Mesir. Jadi, proyek Israel Besar (Israel Raya) ini adalah satu-satunya cara untuk menghindari lahirnya Salahuddin Kedua.
Namun, bahkan jika Israel berhasil membangun Israel Besar, mereka masih dapat dikelilingi oleh negara-negara Islam di luar wilayah Mesir-Syam-Irak, terutama Turki dan Iran.
Itulah “takdir” geopolitik Israel. Nasib mereka kurang lebih seperti Rusia: tidak ada perbatasan alami yang dapat menjamin keamanan absolut.
Mereka harus terus menerus “memperluas” (mengembangkan wilayah) untuk menciptakan “zona penyangga”.
Inilah logika di balik langkah-langkah Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Di Barat, ia bersekutu dengan Yunani dan Siprus untuk melawan Turki.
Di Selatan, ia berhasil menarik Sudan ke kubunya melalui Perjanjian Abraham dan mengakui Somaliland. Tampaknya front selatan negara-negara Arab-Islam telah tertutup.
Di Timur, ia berdamai dengan India bukan karena ‘ayah’ atau ‘ibu’. India terletak tepat di timur dunia Islam (minus Malaysia/Indonesia).
Di Utara, ia menarik Kazakhstan ke kubu Abraham.
Pada dasarnya, Timur Tengah telah dikepung dari semua sisi.
UEA juga merupakan “kunci” strategi ini, berfungsi sebagai titik penghubung untuk semua titik ini.
Ketika semua front ini “aman”, barulah mereka dapat “menghancurkan” ancaman utama dari dalam: Iran, Turki, dan Pakistan.

Banyak yang mengatakan bahwa Iran hanyalah “sandiwara” melawan Israel. Dengan mengutip buku Treacherous Alliance/Aliansi Pengkhianat (karya Trita Parsi) untuk membuktikan bahwa Israel dan Iran satu geng. Karena melihat kata “aliansi” dalam judulnya.
Namun, jika Anda membaca buku setebal 284 halaman itu dengan saksama, penulis sebenarnya ingin menjelaskan bahwa hubungan AS-Israel-Iran seperti aliansi yang saling menusuk dari belakang (pengkhianatan).
Iran memang bukan 100% “pahlawan umat Islam”. Ketika AS menyerang Afghanistan, mereka membantu AS. Ketika AS menyerang Irak, mereka juga membantu AS. Iran selalu bertindak berdasarkan kepentingan geopolitiknya sendiri.
Namun pada saat yang sama, ancaman Iran terhadap Israel itu nyata. Itulah mengapa geopolitik ini sulit dicerna.
Geopolitik adalah permainan keseimbangan kekuatan. Ketika Iran masih lemah, memang ada “hubungan rahasia” dengan AS-Israel untuk menjatuhkan musuh utama mereka, terutama Saddam Hussein di Irak.
Namun ketika Saddam jatuh dan Iran menjadi lebih kuat, keseimbangan kekuatan berubah, Iran semakin menantang Israel, menciptakan Poros Perlawanan (HMS, Hizbullah, Houthi) untuk mengepung Israel.
Ini juga alasan mengapa Iran campur tangan di Suriah. Suriah di bawah rezim Assad seperti jembatan antara Iran dan Hizbullah.
Jika Assad jatuh selama Musim Semi Arab, strategi Iran akan hancur. Itulah mengapa Iran bersedia membantu Assad membantai rakyat Sunni di Suriah.
Semua ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Iran ingin menantang Israel (Betul). Iran menindas rakyat Sunni (Betul juga).
Saya tekankan lagi: Geopolitik sangat rumit. Ini bukan pertandingan sepak bola. Ini bukan skenario film. Bahkan penulis skenario paling hebat pun tidak mampu merancang plot serumit realitas geopolitik dunia.
Saat ini, Poros Perlawanan hampir lumpuh akibat dampak Perang Gaza. Israel memanfaatkan kesempatan ini untuk membantai Hizbullah, HMS, Houthi, dan akhirnya langsung menyerang Iran.
Jika Iran gagal membela diri, itu berarti hambatan lain bagi hegemoni Israel telah hilang.
Setelah ini? Target selanjutnya adalah kudeta di Pakistan dan Turki.
Beberapa orang mungkin berkata, “Ini tidak logis, bukankah kedua negara ini sekutu dekat AS?”
Jika Anda ingin berbicara tentang sekutu, sebelum Revolusi 1979, Iran adalah sahabat terdekat AS dengan Israel.
Israel tidak lagi peduli apakah Anda sekutu AS atau bukan. Tujuan utamanya hanya satu: Memastikan bahwa tidak ada negara Islam yang berpotensi menjadi ancaman.
Meskipun Pakistan miskin, mereka memiliki senjata nuklir. Di dunia pasca-1945, siapa pun yang memiliki senjata nuklir adalah raja. Israel tidak ingin ada raja di dunia Islam.
Mungkin tidak menyerang secara langsung. Tetapi kelemahan Pakistan adalah struktur nasionalnya sendiri. Dua dari empat kelompok etnis utama (Pashtun dan Baloch) memiliki sentimen untuk kemerdekaan.
Jika AS-Israel memainkan peran untuk mendukung para separatis ini, Pakistan dapat kehilangan setengah wilayahnya.
Ditambah dengan tekanan dari sekutu timur Israel (India), Pakistan memang bisa runtuh.
Turki tidak memiliki senjata nuklir, tetapi militernya paling solid. Fondasi ekonominya sebenarnya kuat, hanya saja belakangan ini tampak sedikit lesu.
Untuk saat ini, Turki masih menjadi anggota NATO. Di atas kertas, Israel tidak dapat menyentuhnya.
Tetapi geopolitik selalu berubah. Israel dan media Barat juga secara aktif memainkan sentimen “setelah Iran, Turki” (seperti kliping Wall Street Journal yang saya letakkan di peta).
Sekarang kelompok eskatologi menghubungkan perang ini dengan orang-orang Yahudi di Isfahan. Namun dalam hadits juga disebutkan bahwa Dajjal akan muncul ketika kaum Muslim membagi rampasan perang setelah merebut Konstantinopel.
Konstantinopel adalah Istanbul. Pertanyaannya adalah, Istanbul sekarang berada di bawah kekuasaan Turki (negara Islam). Mengapa ingin direbut lagi? Kecuali… .
Jika Iran runtuh dan jatuh ke tangan AS-Israel, itu akan menjadi “pijakan sempurna” untuk menundukkan Pakistan dan Turki.
Itulah mengapa tidak ada yang perlu disyukuri jika Iran jatuh, betapapun jahatnya Iran terhadap kaum Sunni.
Apa yang terjadi sekarang bukanlah dua musuh yang berjauhan yang saling bertempur, tetapi langkah pertama musuh untuk mencapai dominasi absolut atas dunia Islam.
Apakah kita siap untuk kemungkinan ini? Atau akankah kita membiarkan Iran terus menjadi “sekutu pengkhianat” yang membuat AS-Israel terjaga di malam hari?
Atau lebih baik jika perang ini akhirnya menjebak AS-Israel dalam konflik yang berkepanjangan?
Itulah yang saya maksud dengan “Iran sebagai penyangga” dalam postingan minggu lalu.
Suka atau tidak suka, keberadaan Iran sebagai duri dalam daging AS-Israel memberi kita waktu, sebelum terlambat.
Jika penyangga ini jebol sekarang, mesin hegemoni pasti akan mengubah arahnya untuk menyerang kita.
(fb)







analisis nya bener2 bagus👍👍Mr Ayman
ahmad alshaara yg dibanggakan portal islam dimn sembunyi bos