Satu alasan mengganjal, apa alasan Fufufafa tidak melanjutkan ke A level yang setara SMA?

By Hanum Salsabiela Rais

Satu alasan mengganjal, apa alasan Fufufafa tidak melanjutkan ke A level, tidak masuk JC (Junior college), IB (International Baccalaureate), atau politeknik yang menjadi variasi umum bagi anak-anak di Singapura setelah menyelesaikan O level?

Tapi memilih ke UTS Insearch?

Saya jelaskan, ada banyak kemungkinan. Namun, kemungkinan besar ini terkait dengan “passing grade” atau kapasitas intelektual ybs.

Karena untuk masuk A level (jalur normal yang dipakai untuk mendapat Bachelor (S1) dan inilah yang paling mendekati setara SLTA persyaratannya salah satunya TOEFL tinggi) atau jalur lain, nilai di O level sangat menentukan meskipun lulus. Ya istilahnya, mau masuk sekolah favorit tentu ada bar grade yang harus mencukupi.

Apakah berarti gampang ke UTS nya (Universitas Teknologi Sydney) dan ‘kapasitas’ Fufufafa cukup? Belum tentu, karena UTS Insearch hanya program persiapan ke UTS, jadi hanya pakai O level saja tak masalah karena nilai tidak menjadi acuan, karena yang akan jadi acuan adalah setelah rampungnya program foundation/pathway di UTS Insearch itu.

Nah dari Hakim MK Saldi Isra kita mendengar ada nilai nilai Fail, meski ada HD dan D dari transkrip nilai.

Di sinilah letak alasan Fufufafa kembali lagi ke Singapura, lagi-lagi terbentur dengan kapasitas intelektualnya dan gagal masuk UTS (Universitas Teknologi Sydney) yang mana mungkin tidak ‘menerima’ nilai nilai Fail (untuk mendapatkan Bachelor).

Terus kok bisa ke diploma di MDIS?

Bisa, di Singapura, jika usia sudah mencukupi (kemungkinan Fufufafa 20an tahun) modal O level saja cukup. Jadi jeda 1-2 tahun ini dianggap gap year, dan sekolah seperti MDIS, SIM, Kaplan atau private education dll ‘tidak butuh syarat lain’ selain O level, usia cukup, dan tentu saja duit🙏.

Nah di sinilah kemudian Fufufafa mendapatkan angin surga untuk mengkarbit kapasitas intelektualnya.

Di titik inilah, 10 tahun kemudian, riwayatnya yang ‘hilang’ selama 2 tahun dipertanyakan, mana ijazah mu? —— setara SLTA nya ia pakai loncat-loncat itu.

Namun satu hal yang ganjil adalah, tidak ada—hingga sekarang, satu pun orang Indonesia yang bersaksi pernah ‘berinteraksi’ dengan Fufufafa dalam rentang waktu 2007-2010 saat dia menyelesaikan program adv diploma + bachelor di MDIS. Padahal, saat itu dia anak seorang walikota yang jaya-jayanya. Tidak perlu satu kelas pun, anak-anak Indo disana biasa muncul saat solat Ied, natal, 17 an, atau sekedar main futsal, makan bareng usai jumatan, dan saling mengenal satu sama lain atau paling tidak mendengar bisik-bisik oh ada anaknya pejabat itu dll. Istilahnya ‘ngeblend’. Selesai program sekolah pun, biasanya mereka lapor ke KBRI (untuk mendapatkan surat keterangan yg dibutuhkan untuk misalnya penyetaraan) atau ya sekedar main aja ke KBRI lah. Itu kan ‘rumah’ kita selama di luar negeri. Pamit gitu sama mas dan mba local staff di sana. Yaaa istilahnya unggah-ungguh lah.

Tapi dimana Fufufafa?

Pembelanya pasti akan jawab: Ooh tentu saja Fufufafa selama sekolah belajar terus di kamar, di perpustakaan, menyiksa diri agar mendapatkan nilai ujian terbaik.

Tapi jika melihat perangainya, gaya komunikasinya, jawaban kemungkinan besarnya: ia kuper, di kamar terus, buka laptop, lalu masuk akun Kaskus dan melakukan hobinya: membully.

Inilah, kegiatan satu-satunya orang bernama Fufufafa selama sekolah. Ya… karena memang kapasitasnya serendah merisak dan merundung orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *