“Singa yang menyembunyikan kukunya”
Ini adalah julukan yang diberikan pada Sa’ad Bin Abu Waqqash.
Saking apanya yok?
Saking rendah hatinya
Dia punya segala keunggulan yang diinginkan semua mukmin, tapi toh dia stay calm and confident, ga banyak omong.
Sa’ad Bin Abu Waqqash dikenal sebagai pemanah dengan bidikan paling jitu. Sniper no.1
Saking jitunya, ketika bidikannya meleset di Perang Khandaq, Rasulullah tertawa.
Pemberani dan paling bisa diandalkan dalam setiap misi yang diberikan padanya
Salah satu perawi hadist, ada 15 hadist yang dia riwayatkan, termasuk doa nabi Yunus.
Tidak cukup sampai disitu
Doanya makbul banget, dan termasuk 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga.
Sa’ad Bin Abu Waqqash juga termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam, sejak masih di Mekkah.
Jadi, diapun ikut merasakan embargo ekonomi yang dilakukan kaum Quraisy yang membuat kaum muslimin menderita dan kelaparan.
Kiprah Sa’ad Bin Abu Waqqash sangat besar dalam berbagai pertempuran
Tapi yang paling besar saat memimpin 30.000 kaum muslimin dalam Perang Qadisiyah melawan Pasukan Persia selama 4 hari, 3 malam.
Hasilnya, pusat Persia yaitu kota Madain ( Ctesipon) berhasil dikuasai.
Awalnya, pasukan mau menetap di Kota Madain, untuk memperkuat posisi kemenangan. Tapi rupanya kaum muslimin tidak cocok dengan cuaca di kota itu, banyak yang jatuh sakit.
Akhirnya Sa’ad Bin Abu Waqqash mencari lokasi lain, dan mendirikan kota baru bernama Kufah, Irak.
Sempat jadi gubernur di Kufah, lalu didemosi oleh Umar Bin Khatab karena protes penduduk Kufah.
Sa’ad Bin Abu Waqqash juga menyebarkan Islam sampai ke China, pada masa Kaisar Gaozong, dinasti Tang.
Ekspansi Sa’ad Bin Abu Waqqash juga sampai ke Bangladesh, dengan ditemukannya masjid dengan nama “Abu Akkash”
Saking stay calm nya, saat terjadi perebutan kekuasaan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Sa’ad Bin Abu Waqqash tidak memihak siapapun
Bahkan di satu kesempatan bertemu Muawiyah yang saat itu berkuasa, dia tidak mau memanggilnya sebagai Khalifah.
Dia cuma bilang gini
“Jangan takabur. Jangan ujub. Jangan menumpahkan darah muslimin.”
Selanjutnya, dia lebih memilih mengasingkan diri ke benteng yang terletak 10 Km dari Madinah, hingga wafat di usia 82 tahun, dan berwasiat untuk dikafani dengan kain yang digunakan saat Perang Badar.
Sa’ad Bin Abu Waqqash ini termasuk Sahabat Rasullulah yang paling akhir wafat.
Dia merasakan banyak masa.
Mulai dari masa Rasullulah, 4 Khulafaur Rasyidin hingga masa Muawiyah.
Long life, deep wisdom…
(AL FATIN)






