Dr. Akmal mengaku heran dengan sikap sebagian orang yang seolah alergi mengakui kelebihan Iran, seolah-olah meremehkan Iran itu perlu dilakukan demi mengangkat martabat Ahlu Sunnah. Menurut Akmal, respek kepada kompetitor justru salah satu resep utama untuk menjadi pemenang.
Ahlu Sunnah wal Jama’ah harus berbenah. Begitulah pesan utama yang disampaikan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) dalam kajian daring Tuesday’s Special yang digelar pada Selasa (31/03/2026) silam.
Narasumber dalam kajian bertajuk “Saatnya Ahlu Sunnah Belajar dari Iran” tersebut, Dr. Akmal Sjafril, menumpahkan keresahan yang dirasakannya manakala menyaksikan bagaimana kalangan Ahlu Sunnah di Indonesia memberikan respon terhadap perkembangan dunia belakangan ini. Menurut Akmal, sikap kalangan Ahlu Sunnah dalam menyikapi genosida di Gaza dan perang Iran saat ini tergolong memalukan.
“Banyak yang kebingungan menyikapi perkembangan dunia saat ini, terutama seputar perang di Iran. Mau dukung siapa? Baik AS, Israel maupun Iran sama-sama punya sejarah kelam. Tangan mereka berlumur darah umat Muslim dari berbagai negeri, mulai dari Palestina, Suriah, Afghanistan, dan sebagainya,” ujar pendiri SPI tersebut.

Meski hal tersebut sudah cukup pelik, Akmal mengajak kalangan Ahlu Sunnah untuk melihat lebih jauh ke dalam. “Kalau sekarang kita berdebat harus dukung siapa, maka kita harus menyadari bahwa persoalan ini timbul dari masalah lain yang sebenarnya lebih fundamental. Dilema yang dirasakan oleh kita sekarang ini lahir dari kelemahan kita sendiri,” ungkap Akmal lagi.
Serangan AS pada 28 Februari 2026 silam memang sangat menohok. Akibat serangan itu, Iran harus kehilangan pemimpin tertingginya, Ali Khamenei. Akan tetapi, Iran mampu memberikan respon yang lebih mengejutkan lagi. Hanya dalam hitungan jam, Iran mampu melancarkan serangan ke berbagai pangkalan militer AS di wilayah negara-negara tetangganya. 72 jam setelah serangan AS yang pertama, Iran telah melumpuhkan 27 pangkalan militer. Beberapa hari kemudian, posisi pemimpin tertinggi telah diisi oleh Mojtaba Khamenei. Gempuran Iran berhasil mengakibatkan kerusakan signifikan di Israel, dan aksi penutupan Selat Hormuz terbukti berhasil memaksa dunia untuk memberikan perhatian.
“Kemampuan militer Iran yang terlihat sekarang ini semestinya sudah membuat kita bercermin diri. Sementara negara-negara Arab yang berhaluan Ahlu Sunnah membangun kekayaan dari komoditas minyak bumi dan memberikan lahannya untuk pangkalan-pangkalan militer AS, Iran memperkuat diri dengan teknologi militer yang jauh lebih maju daripada negara-negara tetangganya. Sejumlah negara Arab melancarkan protes kepada Iran, tapi mereka bisa apa?” ujar Akmal.
Akmal mengkritik keras sebagian orang yang tidak mau mengakui kehebatan Iran demi menutupi kekurangannya sendiri. “Iran telah membuktikan dirinya mampu menyerang Israel secara bertubi-tubi. Kalau ada yang tidak nyaman dengan kenyataan bahwa Iran adalah negara yang didominasi Syi’ah, maka sebaiknya ia bertanya kepada diri sendiri: mengapa negara-negara Ahlu Sunnah tidak bisa? Nyatanya Israel bisa ditekan, dan pertahanannya tidak sekuat yang digadang-gadang selama ini. Kalau semua negara Islam kompak, maka insya Allah Palestina segera merdeka. Tapi komitmen itu yang tidak ada,” tandas lelaki berdarah Minang itu.
Akmal mengaku heran dengan sikap sebagian orang yang seolah alergi mengakui kelebihan Iran, seolah-olah meremehkan Iran itu perlu dilakukan demi mengangkat martabat Ahlu Sunnah. Menurut Akmal, respek kepada kompetitor justru salah satu resep utama untuk menjadi pemenang.
“Orang bisa jadi pemenang kalau ia serius berkompetisi, dan keseriusannya itu lahir dari respek terhadap kompetitor. Kalau kita menganggap remeh lawan-lawan kita, maka kita tidak akan serius berjuang, dan akibatnya malah tak akan menang. Sebaliknya, kalau kita akui bahwa kompetitor kita adalah lawan yang tak mudah untuk dikalahkan, maka peluang kita untuk keluar sebagai pemenang malah bertambah besar, karena kita akan serius dalam berkompetisi,” tandas Akmal lagi.
Saat ini, menurut Akmal, kita tidak perlu malu mengakui kehebatan Iran dan belajar darinya, tanpa memandang latar belakang Syi’ah-nya. “Kita tidak keberatan mengakui Albert Einstein dan Michael Jordan sebagai pakar di bidangnya masing-masing tanpa memandang agamanya, justru karena kita meyakini bahwa keunggulan mereka tidak timbul dari agamanya itu. Demikian juga Iran memiliki kekuatan militer yang hebat bukan karena Syi’ah-nya, dan negeri-negeri Islam saat ini lemah bukan karena mereka Ahlu Sunnah. Lalu apa yang menghalangi kita untuk belajar dari mereka?” pungkasnya.
Selain menggelar kursus singkat di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, SPI juga secara rutin menggelar kajian daring Tuesday’s Special yang membahas problematika kontemporer umat, mulai dari topik-topik pemikiran hingga geopolitik.
Sumber: Hidayatullah







Yes, setidaknya 2 sistem ini bisa ditiru agar negara2 Muslim bisa maju dan tdk bergantung dg teknologi barat: (1) pendidikan setinggi mungkin utk semua level masyarakat, (2) merit sistem dlm penunjukan pejabat publik …
ternyata di Indon byk orang2 picik ustadz