Saat serangan Israel, Sistem Pertahanan Udara Qatar ‘tak berfungsi’ karena dikunci AS

Tahun 2015, Lanud Suriah di Saida, Daraa, yang penuh dengan misil anti pesawat tempur dan anti rudal, jatuh ke tangan oposisi Suriah. Beberapa misil S-200 dan 2K12 Kub buatan Rusia jatuh ke tangan tentara oposisi, tapi ternyata tidak bisa digunakan, karena semua sistemnya langsung diblokir sama Rusia.

Hal yang sama pernah terjadi ketika petempur Taliban menguasai senjata Amerika, banyak manpad stinger dibuang karena tidak bisa digunakan, lagi-lagi diblokir oleh AS. Ini menjadi pertanyaan baru setelah Israel menyerang Qatar kemarin, mengapa pertahanan udara Qatar tidak berfungsi?

Membeli senjata senilai miliaran dolar dari negara-negara Barat bukanlah jaminan kekuatan pertahanan suatu negara, tetapi seringkali terbukti hanya membuang-buang uang.

Pemerintah Qatar membeli empat sistem pertahanan udara tercanggih di dunia: Patriot PAC-3 buatan Amerika; NASAMS-2 buatan Norwegia; Rapier buatan Inggris; dan Roland buatan Prancis-Jerman. Total biaya pembelian, pemeliharaan, dan pelatihan personelnya mencapai lebih dari USD 19 miliar.

Ironisnya, semua sistem ini ternyata tidak berguna ketika sangat dibutuhkan. Apakah semua sistem itu sama? bisa dinonaktifkan hanya dengan menekan sebuah tombol? Seperti yang terjadi di Afghanistan dan Suriah?

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan “mengapa pertahanan udara Qatar tidak berfungsi”, kecuali orang-orang tertentu saja di Doha atau di Pentagon. Namun Menlu Qatar mengatakan, “Sistem pertahanan udara Qatar tidak mampu mendeteksi dan menangkis serangan rudal Israel di Doha”.

Sebagian misil Iran tidak bisa ditangkal oleh sistem berlapis pertahanan udara iron dome Israel dalam perang terakhir, ada beberapa video baru amatiran yang disebelumnya tidak bisa diupload menunjukkan ledakan besar di Tel Aviv akibat misil Iran. Semua misil Iran ditangkal saat Iran menyerang pangkalan militer AS di Udeid Qatar Juni lalu. Namun, kemarin ketika 15 pesawat tempur Israel menyerang Qatar, seakan semua sistem pertahanan udara Qatar “buta dan bisu”.

Setelah serangan ke Qatar, medsos Israel pun rame yang ngetweet memprovokasi Turki. Sehari sebelumnya, beberapa pesawat tempur Israel juga menghajar beberapa objek militer di Suriah, salah satunya gudang senjata di Homs yang katanya berisi rudal dan peralatan pertahanan udara milik Turki atau buatan Turki. Dalam hal ini, Israel mengklaim penempatan senjata canggih Turki di Suriah merupakan aksi provokatif dan berpotensi menyerat Israel dan Turki ke dalam konfrontasi langsung.

Sejumlah media menyebut Israel menggunakan F-35 Adir yang sudah dimodifikasi. Kalau ini benar, maka sangat mungkin pesawat tempur itu tidak terlacak oleh Arhanud Qatar, karena mereka tidak masuk ke wilayah Qatar, mereka bisa menembakkan secara presisi meskipun dari jarak jauh, mungkin dari atas wilayah Yordania atau Arab Saudi, ataupun dari Laut Merah. Namun demikian, datangnya rudal harusnya tetap terbaca oleh radar Arhanud.

Senjata yang diproduksi dan dijual Barat kepada kita sebenarnya bukan untuk pertahanan kita, tapi murni jualan. AS dan Barat secara umum selalu menjaga supaya pertahanan udara Israel “satu langkah lebih maju” dibanding negara-negara di sekitarnya. F35 di kawasan hanya dimiliki oleh Israel, bahkan Turki dan PEA yang sudah lama menjadi sekutu AS, tetap belum dipercayai untuk memiliki F-35.

Beruntunglah negara-negara yang mau mandiri seperti Turki dan Iran yang berusaha memproduksi sistem pertahanan sendiri, meskipun belum secanggih milik Barat, tapi setidaknya misil mereka tidak tiba-tiba mati hanya dengan sekali tombol merah dipencet dari jauh!

(Saief Alemdar)

Komentar