SAAT KAPOLRI MENJADI KHATIB JUM’AT

Oleh: Ahmad Khozindin, S.H.

Jum’at kemarin (09/10/2026), Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menjadi Khatib Salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri, Jakarta. Pada saat yang bersamaan, penulis juga menyampaikan Khutbah Jum’at di Masjid Baitul Karim, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bagi penulis, tentu saja Kapolri saat ini sesuatu. Karena tak pernah ada Kapolri sebelumnya, yang menjadi khatib khutbah Jum’at.

Penulis pernah membayangkan, jika para penegak hukum baik hakim, jaksa, pengacara hingga polisi, juga aktif berdakwah termasuk menyampaikan pesan- pesan kebajikan, amar ma’ruf nahi mungkar, termasuk menjadi Khatib dan penceramah agama dalam berbagai kesempatan ibadah dan kajian keislaman.

Kalau keadaan ini terjadi, tentunya akan ada kontrol ruhiyah dalam aktivitas penegakan hukum. Tidak an sich bicara tupoksi, wewenang atau penanganan masalah menggunakan pendekatan pasal-pasal.

Menariknya, dalam khutbah tersebut Kapolri menyampaikan pesan moral agar terus konsisten dan tidak sombong pada jajaran anggota kepolisian dan jamaah di Mabes Polri.

Ada Kutipan Khutbah yang menarik untuk diulas:

“Kita akan bisa menjadi sesuatu, kalau kita terus melakukan sesuatu”.

Ya, tagline atau semangat “Polisi Bersama Masyarakat” tentu hanya akan terealisasi saat polisi bisa melakukan sesuatu yang mendekatkan polisi pada masyarakat melalui pendekatan melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat.

Benar, saat ini bukan hanya anak kecil. Bahkan, kami pun para aktivis kadangkala takut pada polisi. Takut menjadi korban kriminaliasi, yang biasanya menggunakan tangan polisi.

Rakan sejawat penulis, Gufroni, SH MH, yang merupakan advokat LBH AP PP Muhammadiyah, dilaporkan ke polisi hanya karena konsisten membela korban PIK-2 dan melawan Aguan (Sugiyanto Kusuma). Era Kapolri sebelumnya (Listyo Sigit Prabowo dan Tito Karnavian) adalah era paling kelam dimana institusi Polri mendapatkan persepsi publik paling buruk sepanjang sejarahnya.

Polisi, menjadi alat kekuasaan dan oligarki. Seruan amar ma’ruf nahi mungkar, dibungkam dengan narasi kriminaliasi. Kadang dengan pasal kabar bohong, kebencian dan SARA, UU ITE, hingga tuduhan makar.

Kali ini, Kapolri yang baru memulai perbaikan persepsi publik terhadap polisi dengan perbaikan internal. Benar Pak Kapolri, jabatan adalah amanah: Pangkat, jabatan, kedudukan, dan harta merupakan titipan dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk disombongkan.

Pernyataan Kapolri ini, semoga diresapi, diinsyafi dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran dan unsur kepolisian. Karena kita semua rindu polisi yang baik, polisi yang salih, polisi yang ketika bertemu dengannya separuh masalah kita sudah terselesaikan.

Bukan sebaliknya.

Bertemu polisi, masalah bertambah. Laporan kehilangan kambing, sapi dan kandangnya pun ikut hilang.

Seruan agar Polri bersikap rendah hati, anggota Polri diingatkan agar tidak merasa lebih hebat dari orang lain, melainkan harus menghormati sesama, membantu yang membutuhkan, dan menjaga kesederhanaan. Pesan ini, sebenarnya merupakan cara agar polisi semakin dihargai, dihormati bahkan dicintai.

Dalam banyak kesempatan, penulis sering menyampaikan pesan:

“Agar orang lain menghormati kita, adalah dengan cara kita menghormati orang lain. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, begitu pulalah sikap orang yang akan kita terima”.

Kesan polisi yang arogan, jauh dari masyarakat, boleh jadi bukan karena masyarakat yang tidak mau mendekat. Melainkan, keengganan polisi untuk mempersembahkan kebajikan pada masyarakat yang berdampak pada sikap bijak masyarakat pada polisi.

Semoga, negeri ini dipenuhi dengan orang-orang yang baik. Polisi yang baik, jaksa yang baik, hakim yang baik, pengacara yang baik, pemimpin yang baik, rakyat yang baik. Sehingga, negeri ini menjadi negeri yang baldatun, tgayyibatun warabbun ghaffur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 komentar

  1. MASYAA ALLAH…

    KAPOLRI SEBELUMNYA BUKAN MUSLIM PILIHAN JOKOPLAK!!!!!!

    ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMD… SEMOGA ALLAH HANCURKAN YANG ANTI ISLAM… AAMIIN

  2. Wah…Wah….Wah….antek2 PKI dan islamofobia bisa ngamuk nih. ‘inikan bukan negara islam ” , ” ini kan bukan negara agama ” , KaParcok kadrun nih ” 😂😂😂😂😂

    1. Banyak islam phobia dan termul menyamar jadi pendukung wowo.
      Pendukung sejati wowo itu islamis, pendukung sejati mulyono itu kalangan kiri islam phobia.
      Kalo ada pendukung wowo yg kodran kadrun ngomong kasar dan kotor patut di pertanyakan.

  3. MasyaAllah…… kalau pejabat negara diisi oleh Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, profesor mahfud md, profesor anies baswedan serasa adem tentrem kerto raharjo, berkah allah akan merimpah ruwah dari tempat yang tidak di-sangka²

  4. kalok ukuran nya salat, mending gibeng yak….. krn gibeng pernah salat. gmn klo gibeng yg jadi pleciden wowo yg diturunkan 💃💃💃🕺🕺🕺