Tadi di Indomaret, saya berdiri di antrean kasir.
Di depan saya, seorang bapak dan anak kecilnya.
“Totalnya 57.800 ya, Pak.”
Bapak itu diam lalu mengeluarkan lembaran dua ribuan. Menghitung pelan, menata receh satu per satu. Tangannya tak gemetar, tapi waktu terasa berjalan lebih lambat.
Lalu ia menoleh pada anaknya. “Nak, ga usah beli camilan itu ya.. cokelat aja, uangnya ga cukup.” Anaknya mengangguk. Tidak merajuk, tidak merengek, tidak menawar. “Iya, Pak.” jawabnya.
Kasir bertanya, “Yang ga jadi yang mana, Pak? Cokelat atau camilannya?”
Anak itu tetap menunduk. Tenang, seolah sudah paham keadaan.
Dan di titik itu, bapak itu mengambil keputusan yang membuat dada saya sesak oleh haru.
“Ga jadi rokoknya saja, Mbak, biar camilan sama cokelatnya dibeli semua.”
Sederhana, tapi bagi saya, itu pemandangan yang sangat indah. Yang dibatalkan bukan camilannya. Yang dibatalkan bukan cokelatnya. Yang dibatalkan adalah keinginannya sendiri. Rokok, yang jelas bukan kebutuhan mendesak ia lepaskan. Demi dua mata kecil yang tadi rela mengangguk tanpa protes.
Saya berdiri di belakang mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bagi sebagian orang, Rp57.800 mungkin hanya harga segelas minuman di kafe tempat kita nongkrong. Bagi sebagian orang, 100 ribu hanya habis untuk satu sore, tapi bagi sebagian yang lain, uang sejumlah itu dihitung lembar demi lembar. Dipertimbangkan baik-baik, dipakai sehemat mungkin. Dan di sanalah saya melihat sesuatu yang mahal: ketulusan.
Seorang ayah yang mengalah. Seorang anak yang tidak memaksa. Cinta yang tidak berisik.
Kasih sayang yang tidak diumbar. Tak ada drama, tak ada tangisan, tak ada suara keras.
Hanya keputusan kecil yang dampaknya sangat besar di hati saya.
Saya pulang dengan satu pelajaran: Kita sangat perlu berada di antara orang-orang yang hidupnya tidak penuh bunyi. Yang menghitung uang sebelum membelanjakan. Yang memilih kebutuhan sebelum keinginan.
Agar kita belajar syukur, belajar sabar, belajar sadar. Bahwa nikmat yang Tuhan beri pada kita terlalu banyak untuk dihitung, bahkan ketika kita tidak meminta pun, Dia tetap memberi.
Dan mungkin… di antara banyak definisi cinta di dunia ini, cinta seorang ayah yang membatalkan rokoknya adalah salah satu yang paling sunyi, tapi paling dalam.
(Wilda Wahab)
*foto ilustrasi






