Surat untuk Saudaraku yang Mengungsi
Oleh: Sheikh Muhammad bin Muhammad al-Asthal
(da’i di Gaza dan masih bertahan di sana saat ini)
Wahai saudaraku,
Aku benar-benar tahu bahwa berita pengungsian bisa menjadi sebuah kejutan yang sangat mengerikan; rumah seperti apa ini yang harus dipindahkan dalam sebuah gerobak kecil, apalagi dengan kemungkinan rumah itu dihancurkan dan segala yang tersisa di dalamnya hilang!
Bagaimana mungkin seseorang, di tengah kelangkaan barang-barang atau mahalnya harga yang sangat mengerikan, dapat menyiapkan tempat untuk mengatur kebutuhan hidup dasar seperti tenda, dapur, kasur, pakaian, drum air, toilet, dan berbagai kebutuhan penting lainnya?!
Sungguh, bagi saya, dampak berita pengungsian terhadap seseorang bisa lebih berat dibandingkan dampak berita penghancuran rumah itu sendiri, bahkan bisa lebih berat dari berita kematian seorang kerabat dekat. Jika hal ini benar atau mendekati kebenaran, maka aku mengerti rahasia penggabungan ayat Al-Qur’an tentang pengusiran dari rumah dalam kasus pembunuhan di jalan Allah, yaitu firman-Nya:
“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari kalian (yaitu), janganlah kalian membunuh satu sama lain dan janganlah kalian mengusir diri kalian dari rumah kalian sendiri, kemudian kalian mengakui (pelanggaran itu) dan kalian menyaksikan.” [Al-Baqarah: 84]
Pengungsian adalah salah satu bentuk pengusiran dari rumah, dan hal ini pantas disebutkan secara khusus dalam perjanjian antara hamba dan Tuhannya yang terdapat di akhir surat Al-Imran, yaitu firman-Nya:
“Orang-orang yang berhijrah, diusir dari rumah mereka, disakiti di jalan-Ku, dan berperang serta terbunuh, pasti akan Aku hapus dosa-dosa mereka dan pasti akan Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari sisi Allah. Dan Allah mempunyai pahala yang baik.” [Al-Imran: 195]
Kemudian, kesulitan dan musibah tidak berhenti hanya pada saat pengusiran dari rumah; bencana baru dimulai sejak detik pertama keputusan pindah secara mendadak; tidak ada bahan bakar atau transportasi yang tersedia di daerah itu, dan kendaraan yang ada harganya sangat mahal di tengah kelangkaan kebutuhan pokok, bahkan biaya satu kali perjalanan dalam jarak dekat bisa melebihi gaji dua bulan atau lebih!
Ini dengan anggapan bahwa pengungsi adalah pegawai yang menerima gaji atau sebagian gaji, bagaimana jika dia tidak mendapatkan itu? Bahkan jika dia menerima gaji, uang yang diterimanya biasanya tidak diterima di pasar karena banyak uang yang kualitasnya buruk, terutama dengan penarikan besar-besaran oleh musuh terhadap uang yang baik melalui berbagai cara.
Ini semua dengan anggapan bahwa tujuan keberangkatan sudah diketahui, padahal kenyataannya banyak orang tidak memiliki tanah di daerah pengungsian, dan bagi yang memiliki teman dengan tanah, sudah ada banyak orang yang tinggal di sana, yang biasanya hanya bisa ditempati dengan membayar sewa yang mahal. Oleh karena itu, seseorang mungkin keluar dari rumahnya berjalan tanpa tujuan, tidur di jalan selama dua atau tiga hari sampai dia mendapatkan solusi.
Ini semua untuk orang biasa, bagaimana dengan pejuang atau orang yang diduga menjadi sasaran, sehingga orang-orang takut menerima kedatangannya karena kebrutalan musuh yang membabi buta dalam pengeboman? Jika pejuang itu bertugas di salah satu unit tempur, bisa dibayangkan betapa sibuknya dia memikirkan keluarganya, apalagi jika dia hanya meninggalkan ibu, istri, dan anak-anak kecilnya.
Di sini, dunia terasa sangat kecil bagi manusia.
Dan setelah pengungsi tiba di tempat tujuan, ada daftar cobaan baru seperti cara mengatur air, mengantri panjang, sengatan panas musim panas, dinginnya musim dingin, debu yang memenuhi tenda, tikus yang merusak barang-barang, dan lain sebagainya.

Di tengah gelombang besar bencana dan cobaan ini, salah satu hal terbesar yang bisa meringankan dan mengurangi beban bagi seseorang adalah mengikhlaskan semuanya karena Allah, serta menyadari bahwa ini terjadi karena tangan musuh Allah yang paling kejam, yang telah memerangi Allah dan para rasul-Nya dan membunuh banyak nabi dalam pertarungan yang sedang berlangsung antara kita dan mereka. Al-Qur’an telah menceritakan banyak nabi dan orang saleh yang diusir dari rumah mereka secara tidak adil, jadi kita bukanlah bangsa baru dalam hal ini.
Salah satu hal yang menghibur manusia adalah apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad ﷺ.
Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Tahukah kalian siapa yang pertama kali masuk surga dari makhluk Allah?”
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda:
“Yang pertama kali masuk surga dari makhluk Allah adalah orang-orang miskin dan para muhajirin yang dengan mereka benteng-benteng dijaga dan dari mereka bencana dihindari. Salah seorang dari mereka meninggal sementara ia memendam kebutuhannya dalam hatinya dan tidak mampu memenuhinya. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat-Nya yang Dia kehendaki: ‘Pergilah kepada mereka dan sampaikan salam kepada mereka.’
Malaikat bertanya: ‘Kami adalah penghuni langit-Mu dan Engkau telah memilih kami dari makhluk-Mu, apakah Engkau memerintahkan kami untuk menemui mereka dan memberi salam kepada mereka?’
Allah berfirman: ‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dengan mereka benteng-benteng dijaga dan dari mereka bencana dihindari, dan salah seorang dari mereka meninggal sementara ia memendam kebutuhannya dalam hatinya dan tidak mampu memenuhinya.’
Maka malaikat pun mendatangi mereka dan masuk melalui setiap pintu, lalu berkata: ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian, betapa baiknya tempat kembali itu.’”
Hadits ini telah dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan Syaib Al-Arna’ut mengatakan sanadnya baik.
Maka, wahai saudaraku yang mengungsi, bersabarlah, bersabarlah, dan bertahanlah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran, dan kamu berhadapan dengan Rabb Yang Maha Mulia yang tidak akan menyia-nyiakan sebesar biji zarrah (atom). Allah Maha Agung yang pantas kamu sabari demi-Nya. Allah akan memberikanmu kelapangan dan jalan keluar dengan izin dan karunia-Nya. Maka hilanglah rasa lelah dan tetaplah pahala, dan dengan ini kamu akan terlahir kuat di medan juang. Allah adalah Pelindung orang-orang yang bertakwa.
Ya Allah, bukakanlah kelapangan segera.
Ya Allah, izinkanlah perang ini berhenti.
Ya Allah, Engkaulah yang cukup bagi kami, dan Engkau sebaik-baik Pelindung dan Penolong.







Komentar