Radioaktif pun Dimaling!
Terus terang, saya agak jengkel ketika kita menertawakan IQ bangsa Indonesia hanya 78. Hanya beberapa strip di atas Chimpanze. Tapi, seringkali saya juga melihat ketidakberesan karena kurangnya pengetahuan.
Bukan karena orang Indonesia tidak ada yang cerdas. Ada jarak antara orang yang cerdas dan orang yang punya pengetahuan. Orang cerdas bisa jadi pengetahuannya kurang. Juga sebaliknya.
Seperti berita dibawah ini. Anda mungkin masih ingat bahwa ekspor udang Indonesia ke AS ditolak karena sebagian udang ditemukan terkontaminasi radiasi Cesium-137. Bahan nuklir yang berbahaya untuk kesehatan ini ditemukan di Modern Cikande Industrial Estate, Serang.
Pemerintah segera mengambil tindakan. Pabrik pengolahan limbah besi yang diduga menjadi sumber radiasi ini ditutup. Pemiliknya yang WNA itu ditahan. Dan ribuan ton besi — yang entah asalnya dari mana — disimpan di gudang PT Peter Metal Technology (PMT), perusahan yang diduga sumber radiasi ini.
Di dekat PT PMT itu ada fasilitas pengolahan udang untuk ekspor. Sejauh yang saya tahu, fasilitas itu bukan tambak tapi processing center. Kemungkinan pencemaran radioaktif bisa dari air, debu, atau udara.
Seberapa banyak besi bekas yang diduga tercemar limbah nuklir ini? 1,136 cukup banyak. Nah. dari jumlah itu, ternyata sudah ada 200 ton dicuri!
Untuk apa? Dijual sebagai besi bekas. Rp 5,000 per kg. Pencurian ini melibatkan karyawan dan Satpam PT PMT. Akrab ditelinga bukan? Petugas keamanan makan apa yang diamankan.
Tidakkah orang-orang ini tahu bahwa besi yang tercemar nuklir itu sangat berbahaya untuk kesehatan? Saya yakin, kalau ditanya, jawabnya bisa jadi, “Ya tahulah, Pak. Tapi hidup di tangan Gusti Alloh!” Selesai. Case closed kalau sudah masuk ke wilayah itu.
Betul, bahwa radiasi itu akan muncul dalam waktu lama. Bisa lima, sepuuh, dua puluh tahun. Sementara, lapar itu muncul seketika. Jadi siapa yang peduli?
Ini mirip dengan pengalaman saya sekitar dua minggu lalu di dekat rumah saya. Saya katakan dekat karena hanya 2,5 km dari rumah. Sama-sama wilayah Republik Rakyat mBantul.
Saya bersepeda menyusuri sebuah kali. Dulu pemandangan disini asri. Kini krisis sampah yang tidak teratasi membuat pinggiran sungai ini kotor.
Namun ada pemandangan yang membuat saya miris. Ada pabrik dengan cerobong asap tinggi dan asapnya hitam pekat. Dari 200an meter saya bisa mencium baunya: plastik! Saya tanya penduduk sekitar, itu apa? Jawabnya, pabrik tahu!
Ini mrip dengan laporan The New York Times yang pernah saya baca tentang pabrik tahu berbahan bakar plastik di Sidoarjo, Jawa Timur.
Dan tidak hanya sebagai bahan bakar. Saya pernah melihat tukang gorengan mencemplungkan plastik ke dalam gorengannya. Katanya bisa lebih garing! Saya lama ragu. Apakah saya harus menulis hal seperti beginian? Kadang saya kasihan dengan tukang gorengan — yang mendapat stigma plastik itu. Tidak semua tukang gorengan mencelupkan plastik ke dalam minyak panas yang akan dipakai menggoreng.
Ada satu lagi. Saya pernah melihat warung sate gule, yang mencemplungkan tas plastik ke dalam kuah gulenya. Saya tanya, “Niku napa, Pak? Plastik?” Jawabnya, “Njih, ben mantep kentele kuahe gule!” Saya pelan-pelan menyingkir. Padahal saya nunggu pesanan saya.
Mitos plastik itu luar biasa, Tapi menurut saya, ideologi “makan sekarang karena lapar tidak bisa ditunda” sementara sakit 20 tahun lagi itu belum tentu datang. Gusti Alloh sing maringi urip!
Dan, besi tercemar nuklir berbahaya pun mereka ambil. Mungkin mereka mengambil yang kecil-kecil. Sementara elitnya, sduah menikmati uang sogokan dengan membiarkan barang ini masuik ke Indonesia.
Apakah mereka ditangkap polisi? Cicak ketawa mendengar pertanyaan ini.
Link beria:
(Made Supriatma)







Komentar