Puncak komedi

Puncak komedi

Saat orang awam ngomentari masalah jantung ke seorang dokter spesialis jantung. Yang lebih lucu, dia nyuruh dokter spesialis jantung untuk belajar masalah jantung lagi.

Fenomena awam ngomentari orang berilmu ternyata dizaman ini sudah menyeluruh di semua lini, ilmu dunia apalagi ilmu agama.

Awwam memposisikan diri setara dengan ahli ilmu, bebas mengkritik dengan entah menggunakan metode apa, riwayat pendidikan yang entah linear atau tidak. Tapi merasa berada di kapasitas keilmuan yang selevel. Benar benar musibah. Yg ajaib, ternyata ada orang awam yang percaya dan mengiyakan ucapan awam ini pula. Tidak masuk di akmal dan jelas diluar nurul.

***

Saya sebenarnya nggak ada urusan dengan keributan ini, tapi ini bisa jadi contoh yang baik sekali. Agar besok-besok, bukan kita pelakunya.

Misal, kita tidak pernah sekolah atau kuliah ekonomi, maka saat ada yg lagi bahas Bank Indonesia, dkk, mending kita diam. Nggak lucu saat kita ikut celoteh, nyolot, sok tahu pula. Hanya karena kita sering baca postingan ekonomi, teori-teori cocoklogi, bank sentral dikendalikan bla bla; duh, bukan berarti kita paling pinter.

Saat kita tidak punya pendidikan tentang kesehatan, maka saat ada yg bahas tentang dunia medis, mending kita nyimak saja. Nggak lucu, kita malah nyuruh orang lain yg belajar. Aduh.

Saya tahu, hari ini tuh, semua orang bisa mengomentari apapun. Tapi kompetensi, kualifikasi, pendidikan, kemampuan akademik itu tetap sangat penting. Ilmu tuh bukan pakai perasaan kita saja. Apalagi hanya bersanad kitab al google wal chatgptiyah wal tiktokiyah al maqoli maqoli.

Sesekali lihatlah CV milik kita sendiri sebelum ribut-ribut di medsos.

(Tere Liye)

Komentar