Proyek Beli Mobil

Proyek Beli Mobil

Mengkritik tanpa data itu adalah perbuatan tercela. Apalagi data dikarang-karang, narasi dibuat-buat, itu sungguh tidak terpuji. Kritik harus selalu pakai data, argumen yang kokoh.

Termasuk tulisan yang satu ini. Data dan argumen valid.

  • 17 bulan Prabowo berkuasa, dia adalah Presiden paling banyak jalan-jalan ke LN, rekor gila. Dari 5 hari, dia minimal 1 hari berada di LN, 22% waktunya habis di LN.
  • 17 bulan Prabowo berkuasa, dia juga adalah Presiden paling hobi beli motor dan mobil. Lihat tabel! Inilah data-data, fakta-fakta. Bukan karangan nyinyir.

Dan tahukah kalian apa kesamaan dari pembelian mobil/motor ini?

  1. Dilakukan diam-diam, tanpa transaparansi dan akuntabilitas memadai
  2. Malah beli produk LN. Impor mobil utuh dari India 105.000, motor merek China 21.000. Sementara truk, info terakhir pakai Fuso, okelah.
  3. Tidak ada kejelasan urgensi dari pembelian ini, bahkan saat kebutuhannya belum ada, duit telah digelontorkan puluhan triliun. KMP itu teruji saja belum, bisnisnya mbuh, beliii mobil!

Ini tuh data dan fakta semua loh. Dimananya yang karangan?

Dan ironisnya adalah:

  1. Pemerintah justeru koar-koar tentang efisiensi
  2. Prabowo jualan kampanye akan pakai produk dalam negeri.
  3. Utang Indonesia terus meroket, per hari ini, 9.600 triliun. Dengan 46% penghasilan negara habis hanya untuk nutup cicilan pokok+bayar bunga.
  4. Krisis perang Iran. BBM dunia naik 100 dollar per barel. Kita malah bangga bisa menahan harga BBM. Duuh.

Dus, coba kamu pikirkan tanpa baperan, tanpa emosi: orang seperti apa sih yang saat utang keluarganya menggila, anak-anaknya dia suruh efisiensi semua, tapi dia sibuk jalan-jalan, sibuk beli mobil/motor? Orang seperti apa yang gaji tahunannya 46% habis hanya untuk bayar cicilan pokok dan bunga?

Dan ini belum akan selesai. Akan semakin mengerikan belanja-belanja tidak jelas ini. Dan Prabowo, hanya soal waktu tembus 25% berada di LN. Artinya, setiap 4 hari, dia 1 hari akan ada di LN. 12 bulan, maka 3 bulan dia ada di LN.

Saya menulis bukan karena nyinyir, my friend. Tapi karena peduli. Sungguh peduli. Berubahlah!

(Tere Liye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar