KONFLIK INTRA-PSIKIS PRABOWO DIBALIK BANTAHAN: SAYA TIDAK DIKENDALIKAN JOKOWI
Oleh: Faisal Lohy (Pemerhati Kebijakan Publik)
Prabowo membantah tudingan publik bahwa dirinya dikendalikan Jokowi menyusul keputusannya wakili negara ambil alih cicilan utang Whoosh Rp 1,2 triliun per tahun selama 60 tahun.
“Prabowo dikendalikan Jokowi, mana ada, tidak benar itu”. Kata Prabowo.
Memang benar kata Prabowo. Saya meyakini Prabowo tidak dikendalikan Jokowi. Tapi dikendalikan oleh kompromi politik yang disepakati keduanya.
Jika saat ini Prabowo pasang badan lindungi Jokowi dari kejaran mark up dan korupsi Whoosh, itulah konsekuensi politik yang harus dikerjakan.
Namun there is no free lunch. Tidak ada yang gratis. Prabowo pasang badan lindungi Jokowi, tentu tidak hanya dibayar “saya thanks”. Tapi ada kompensasi politik yang dibayar Jokowi. Tameng politik pasti dibayar kompensasi politik.
Lalu apa kompensasi politik yang diberikan Jokowi kepada Prabowo hingga bersedia pasang badan menanggung beban sebesar ini?
Saya kasihan melihat mental dan sikologis Prabowo saat ini. Kemana-mana dikejar-kejar pertanyaan yang sangat mengganggu. Hingga harus sibuk klarifikasi dan membantah: “Saya tidak dikendalikan Jokowi”.
Semakin anda membantah, semakin menunjukan hebatnya “konflik intrapsikis” yang menganggu suasana kebatinan dan pikiran anda. Pikiran dan mental anda sadar sedang dikendalikan. Tapi berusaha menampilkan bantahan untuk menipu publik bahwa saya tetap mandiri, independen, tidak di bawah pengaruh siapapun.
Saya sungguh kasian melihat Prabowo. Tampil membela Jokowi. Tapi di saat yang sama, ia sedang mempermalukan dirinya sendiri, menjilat ludahnya sendiri dengan mengatakan: “Gak usah ribut, Whoosh tidak ada masalah, saya yang menjamin”.
Kalimat ngotot untuk meyakinkan masyarakat bahwa Whoosh bersih dari mark up dan korupsi. Lalu bagaimana dengan perilaku Purbaya yang katanya bekerja sesuai arahan anda.
Purbaya dengan tegas menolak pembayaran utang Whoosh gunakan APBN dengan gaya kboy dan ceplas ceplos-nya.
Saya masih ingat kata Purbaya: “Saya bergaya koboy dan ceplos-ceplos, itu perintah pak Presiden.”
Lalu kenapa sekarang Prabowo malah berbelok dari apa yang diperintahkan kepada Purbaya, menggagalkan upaya Purbaya, seolah sudah tak punya malu menjilat ludah sendiri? Seluruh masyarakat Indonesia menyaksikan, betapa konyolnya anda sebagai Presiden, bikin malu.
Atau jangan-jangan, anda lewat Purbaya hanya sedang menyuguhkan tontonan drama “2 bulan bela rakyat?”
Lalu bagaimana pula dengan kalimat: “Tidak pandang bulu, akan kami kejar koruptor sampai ke Antartika”.
Ini mark up dan korupsi Whoosh yang indikasinya terang, seterang lampu Philips TrueForce Core LED 80W di depan anda, diabaikan, malah melindungi, menjamin tidak bermasalah, malah dikasih solusi yang bikin para koruptor itu tertawa riang gembira. How come?
Konyolnya lagi, seolah logika anda sudah hancur, tampil dengan cara berfikir konyol: utang Whoosh akan dibayar pakai hasil rampasan korupsi. Bagaimana cara kerja otak anda sih pak?
Kondisi keuangan negara sangat darurat. APBN 2025 jebol lewat defisit Rp 616,2 triliun dan APBN 2026 defisit 638,8 triliun. Artinya kita kurang uang senilai ratusan triliun itu untuk membelanjakan pembangunan.
Dalam keadaan seperti itu, harusnya Uang hasil rampasan korupsi digunakan untuk menutupi kekuarangan pembangunan. Bukan untuk membayar dan melindungi perilaku korup para pihak yang terlibat Whoosh.
Sama halnya membayar kerugian akibat dosa yang masih eksis dengan dosa yang sudah disita. Melindungi uang haram yang masih bebas dinikmati para koruptor dengan uang haram yang sudah dipidana.
Tapi pembayaran gunakan uang hasil rampasan korupsi hanyalah janji, masih berupa pengharapan yang belum diliat uangnya. Sumber pembiayaan yang ready adalah APBN.
Sampai di sini, semua orang speachless. Kok bisa mental presiden seperti ini. Melindungi koruptor yang menyebabkan masalah lonjakan utang dengan cara menimpa beban pembayaran bunga utang untuk ditanggung masyarakat lewat pajak.
Pak Prabowo, uang Rp 1,2 triliun per tahun selama 60 tahun ke depan itu bukan jumlah sedikit. Apakah sebegini bobroknya anda hingga tega mengkhianati rakyat dengan gunung beban sebesar itu hanya untuk melindungi para koruptor itu?
Anda sebenarnya presiden yang bekerja untuk siapa, melindungi kepentingan siapa? Rakyat atau koruptor?
Pastinya, apapun klarifikasi, bantahan yang anda berikan, sulit untuk mengembalikan kepercayaan rakyat Indonesia.
Rakyat melihat bantahan itu sebagai konflik intrapsikis yang berkecamuk di dalam pikiran dan perasaan anda. Anda tau anda dikendalikan kompromi politik dengan Jokowi. Tapi membantah untuk memanipulasi publik bahwa anda masih tetap mandiri, independen, berdaulat dengan kebohongan yang anda lakukan untuk rakyat Indonesia.
NEPALKAN YUK….!!!







Komentar