PKS Tak Berubah atau Memang Gayanya Seperti Itu

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai yang tak bosan-bosannya menunjukkan kekuasaannya di hadapan kader. Yang dianggap tidak sejalan diganti entah dengan alasan apa pun. Dicopot. Kalau tidak mau, dipaksa. Kalau masih tidak mau juga, dipecat.

Dulu kasus Fahri Hamzah, kali ini terjadi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ketua DPRD, yang kebetulan jatah PKS sebagai pemenang, Umy Aisyatun Khadijah, diganti di tengah jalan. Karena tak mau, merasa tidak punya kesalahan, ditegur pun tidak, akhirnya dipaksa mundur. Kalau tak mau juga, bakal dipecat.

Akhirnya, berbunyi di media. Surat pergantian Ketua DPRD datang dari DPP tanpa sepengetahuan Umy Aisyatun Khadijah. Penggantinya, Andi Suriadi. Umy terpaksa menerima. Kalau tidak, nasibnya akan sama dengan Fahri Hamzah. Gitu amat PKS, ya?

Pergantian Ketua atau Wakil Ketua DPRD terjadi di banyak daerah. Di banyak daerah itu menunjukkan kepatuhan. Termasuk, di DKI Jakarta yang tempo hari juga diganti. Dari ustaz Khoirudin ke Suhud Alynudin. Jabatan politik adalah penugasan partai.

Tapi, dari kasus Umy Aisyatun Khadijah ini bukti tidak semua juga yang mau diperlakukan seperti itu. Bisa jadi, ada banyak yang seperti itu, tapi tak mau bersuara saja. Struktur PKS terlalu kuat untuk dilawan, kalau tak mau bernasib sama seperti Fahri Hamzah.

Memang, pergantian itu bukan melulu soal tak sejalan dan lain sebagainya. Bisa saja promosi atau penyegaran. Tapi, tetap saja, bagi yang diganti akan terpuruk secara psikis dan sosial. Ini juga mestinya jadi pertimbangan. Sebab, ini tak dibuat partai lain. PKS tak berubah atau gayanya mau begitu?

(ERIZAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 komentar

  1. memang gitu. ada Goroseinya disitu. Yg di akar rumput soleh², polos, sami’na wa atho’na, tulus ikhlas, tapi dimanfaatin mulu sama Goroseinya atas nama agama dsb gak ada demokrasi disitu kecuali titah komando. Pahit gak tuh, yg di bawah gonta ganti enak yg elit atasan sana adem ayem. 😂 sebagai orang dalam, ini kalo ada kluarga besar gw tau gw ngomong gini, pasti disidang gw, sejak awal dulu keluarga disitu smua. Fanatiknya gak terkira, tabu bahas minusnya, siap² dikucilkan 😭

  2. by the way kalo pembaca kawakan portal ini pasti paham, mimin piyungan termasuk sampel kasus kek gini 😂 habis manis sepah dibuang. Dulu ditarik sana sini disuruh melatih kader jadi pewarta juga dengan skill potografi, blog web, dan menulis. Eh pas rame pecah dulu miminnya gak dianggep, dilepeh 😑 sampe² official bilang gak ada hubungan padahal jasanya membersarkan nama secara digital top 1 nasional dulu. wkwkwkwk emang gak berubah, daridulu begitu!

    1. basis pemilihnya Islam, tapi kelakuan elite partenya sama saja, kan aturan yang dipeke satu DEMOCRAZY, bukan Islam ….pertanyaanya kenapa Orang Islam ogah diatu pake aturan islam malah milih democrazi…ya..karena pemikiranya sekuler…

  3. psi pasti baik lahyauw karena berhasil ditunggangi jokodok ngoahahahaha 😂. ambisi jokodok mo nunggangin PDI-P ambyar……. jokodok mo nunggangin demokrat nyungsep…… eh….. ada bocah imut teriak… HEDOOP MULYONO 💃💃

  4. sekarang aja sikapnya membagongkan.
    pemimpin asbun, slebor, bebal kok ya msh didukung
    dulu waktu diluar ributnya minta ampun
    narasinya pemimpin harus jujurlah, harus sederhana lah, harus mau didemo lah, harus anti zionist lah

  5. gak ada satupun parTAI yg di DPR bersih. semuanya bangsat hina, mungkin oknumnya msh ada yg bersih atau bermainnya cantik 🕺🕺🕺💃💃🏃‍♂️🏃‍♂️