ππ¨π π’πππ₯ π ππ₯π₯πππ² πππ
βπ»Arsyad Syahrial
Saya tidak tahu siapa yang membuatkan pidatonya, tapi sungguh ini sangat menggelikan bagi siapa pun yang pernah duduk di Fakultas Ekonomi.
Bagaimana tidak?
Mari kita bahas di mana letak kengawurannya membandingkan MBG dengan McD.
1. Source of Funds & Risk
McDonald’s (McD) itu adalah sektor swasta yang pertumbuhannya didorong oleh modal sendiri, pinjaman bank, atau dana investor. Mereka harus menghasilkan laba untuk bisa ekspansi. Setiap gerai baru adalah risiko finansial yang murni ditanggung perusahaan. Jika tidak laku, mereka bangkrut.
Adapun MBG itu adalah sektor publik, sebuah program yang dibiayai melalui APBN dari pajak rakyat. Skala pertumbuhannya tidak ditentukan oleh “daya saing” atau “permintaan pasar”, melainkan oleh mandat politik dan kapasitas anggaran negara. Negara tidak perlu mencari “pembeli”, melainkan “penerima” yang sudah pasti ada.
Lebih jauh lagi, ada masalah akuntabilitas & survival, di mana jika McD gagal menjaga kualitas, pasar akan menghukum mereka hingga bangkrut. Sedangkan program pemerintah yang inefisien sering kali tetap berjalan meski kualitasnya buruk, hanya karena alasan politis.
2. Growth Mechanism β Market-Driven vs State-Driven
Membandingkan kecepatan ekspansi McD yang butuh 50 tahun dengan MBG yang cukup 1 tahun benar-benar mengabaikan fakta bahwa McD harus membangun infrastruktur, rantai pasok, dan brand secara organik dari nol di ribuan titik di puluhan negara dengan regulasi berbeda. Mereka harus menangani kompetisi dengan kompetitor lain setiap harinya.
Sementara MBG adalah monopoli negara. Tidak ada kompetisi, sehingga tidak ada gesekan pasar. MBG adalah pemaksaan fiskal yang dapat melesat cepat karena negara memiliki otoritas untuk mengalokasikan dana ratusan triliun rupiah (seperti anggaran IDR 335 triliun untuk 2026 yang diambil dari dana Sektor Pendidikan) dalam satu ketukan palu sidang. Ini adalah mobilisasi sumber daya yang bersifat instruksional, bukan kompetitif.
3. Different Parameters & Opportunity Cost Keberhasilan
McD itu diukur dari “efisiensi biaya” dan “margin keuntungan per porsi”. Sebaliknya, keberhasilan MBG diukur dari cakupan distribusi (coverage). Di mana tiada tekanan untuk mencari untung (yang cari untung adalah para pemilik dapur yang memutar otak bagaimana memeras menu dari budget yang ditentukan).
Namun, ada hal yang dilupakan, yaitu: “Opportunity Cost”, di mana setiap Rupiah pajak yang dikucurkan secara masif untuk MBG adalah Rupiah yang ditarik dari potensi perbaikan infrastruktur sekolah atau kesejahteraan guru.
Selain itu, membandingkan kecepatan “bakar uang pajak” dengan kecepatan “akumulasi laba” adalah penghinaan terhadap prinsip dasar efisiensi alokasi sumber daya. MBG memang lebih mudah memperbanyak porsi secara masif, akan tetapi tantangan sesungguhnya adalah inefisiensi, lean supply-chain, serta quality control.
***
3 poin di atas sangat mendasar, namun yang perlu diingat, Davos itu adalah “World Economic Forum” di mana yang datang adalah ekonom-ekonom dari berbagai institusi pendidikan & riset ekonomi terbaik di dunia.
Di hadapan audiens yang menjunjung tinggi teknokrasi dan stabilitas fiskal, retorika “lebih cepat dari McD” ini terdengar seperti gaya manajemen startup yang membakar uang investor, namun kali ini yang dibakar adalah uang rakyat.
Jadi⦠kebayang kan bagaimana mereka akan menanggapi pidato tersebut�







Komentar