Peristiwa yang sedang berlangsung di Arab Saudi tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga sarat akan pelajaran

✍️Ayaz Amir (Mantan perwira militer dan mantan Anggota Majelis Nasional Pakistan)

Peristiwa yang sedang berlangsung di Arab Saudi tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga sarat akan pelajaran.

Sebelumnya, ada sosok Putra Mahkota yang berbeda—Mohammed bin Nayef. Ia tidak menduduki posisi tersebut atas inisiatif pribadi; penunjukan itu merupakan keputusan keluarga kerajaan mengenai siapa yang layak memegang gelar tersebut. Mohammed bin Nayef dinilai sebagai kandidat paling tepat dan akhirnya ditunjuk untuk peran itu.

Berbekal pengalaman bertahun-tahun sebagai Menteri Dalam Negeri, ia sangat memahami urusan negara dan juga merupakan sosok yang disukai oleh Washington. Namun, seiring dengan perubahan yang terjadi di lingkungan kerajaan, pandangan alternatif mengenai suksesi mulai bermunculan.

Dunia mengetahui apa yang kemudian terjadi. Pada suatu larut malam, Mohammed bin Nayef menerima panggilan kerajaan yang mengharuskannya hadir dalam sebuah pertemuan—peristiwa yang berlangsung pada bulan Juni 2017. Pangeran Nayef tiba dari istananya, namun setibanya di sana, para pengawalnya segera dilucuti senjatanya dan ponselnya disita. Situasi saat itu berujung pada keputusan Pangeran Nayef untuk mundur dari seluruh jabatan resminya tak lama kemudian.

Rekaman televisi memperlihatkan Pangeran Mohammed mencium tangan Pangeran Nayef—sebuah pemandangan yang disiarkan ke seluruh dunia—namun sebuah peristiwa krusial sebenarnya telah terjadi di balik layar. Pangeran Mohammed menggantikan Pangeran Nayef sebagai Putra Mahkota yang baru. Sejak tahun 2017, ia tidak hanya memegang gelar Putra Mahkota tetapi juga secara efektif menjadi penguasa sesungguhnya di kerajaan tersebut; Raja Salman sudah tidak lagi berada pada usia yang memungkinkan untuk mengawasi urusan sehari-hari secara mendetail.

Dua tahun sebelum peristiwa-peristiwa tersebut—tepatnya pada Januari 2015, saat Raja Salman bin Abdulaziz naik takhta Saudi—Pangeran MBS langsung ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan. Dua bulan kemudian, pada Maret 2015, Arab Saudi dan UEA melancarkan serangan gabungan terhadap Ansarullah—yang secara global dikenal sebagai kelompok Houthi—di Yaman.

Saat itu, Barack Obama menjabat sebagai Presiden AS, dan operasi tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Amerika.

Arab Saudi menyediakan kekuatan udara dan sumber daya keuangan, sementara UEA mengerahkan pasukan darat.

Kampanye pengeboman yang brutal terhadap Ansarullah pun dimulai dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Blokade udara dan laut terhadap Yaman juga diberlakukan dengan memanfaatkan aset angkatan laut Amerika secara ekstensif.

Sementara kelompok Houthi bertahan di tengah pemboman, blokade yang diterapkan sangat mengganggu pasokan makanan dan obat-obatan, sehingga semakin memperparah penderitaan negara yang memang sudah terjerat kemiskinan tersebut. Berdasarkan estimasi global, blokade dan kelaparan yang diakibatkannya telah menyebabkan sekitar 300.000 hingga 350.000 kematian.

Sepanjang krisis yang terus berlangsung ini, sikap ketiga negara agresor—Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Amerika Serikat—tidak melunak sedikit pun.

Meskipun kekejaman terus menimpa rakyat Yaman, kekuatan militer Houthi tetap utuh dan tekad mereka tidak goyah.

Setelah tujuh tahun operasi militer, muncul rasa kelelahan yang pada akhirnya berujung pada kesepakatan gencatan senjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi pada tahun 2022. Namun, meski kesepakatan tersebut telah dicapai, Arab Saudi tetap mempertahankan blokade udara dan laut.

Pangeran MBS berusia 29 tahun saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Menurut para pengamat internasional, serangan terhadap Yaman, dalam satu sisi, merupakan upaya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia memiliki kecakapan militer yang mumpuni. Saat serangan diluncurkan, Arab Saudi maupun UEA meyakini bahwa kelompok Houthi hanya akan memberikan perlawanan minim; mereka berasumsi bahwa kekalahan Houthi adalah suatu kepastian dan perang akan berakhir dengan cepat. Akan tetapi, alih-alih berakhir, konflik tersebut justru berlarut-larut selama tujuh tahun.

Arab Saudi telah menghabiskan sumber daya yang sangat besar untuk perang ini, dan kini menjadi jelas bagi semua pihak bahwa Kerajaan tersebut telah terjebak dalam situasi yang sulit dan berkepanjangan.

Skenario ini mencerminkan asumsi yang dibuat oleh AS dan Israel terkait Iran—dengan keyakinan bahwa serangan udara besar-besaran akan melumpuhkan negara tersebut, memaksa Revolusi Iran untuk mundur, serta membuat para pemimpin Iran memohon perdamaian dan belas kasihan. Seperti yang telah kita saksikan, hasilnya justru sebaliknya. Serangan terjadi pada tanggal 28 Februari 2026, dan invasi ke Iran diperkirakan hanya akan berlangsung selama beberapa minggu. Namun, beberapa minggu tersebut kini telah berkembang menjadi delapan bulan, tanpa ada tanda-tanda perang akan berakhir. Alih-alih Iran yang bertekuk lutut, justru AS-lah yang kini berjuang keras untuk menemukan strategi keluar dari konflik tersebut. AS hanya dapat menarik diri dari konflik ini jika Iran mengakui kekalahan dan menyerah—namun hal itu tidak terjadi, dan dampak perang ini telah meluas secara global.

Pada intinya, penilaian Arab Saudi mengenai Ansarullah terbukti keliru, sementara perhitungan AS dan Israel terkait Iran ternyata salah besar dan membawa bencana.

Amerika Serikat adalah negara paling kuat di dunia; negara ini mampu menanggung biaya dari kesalahan-kesalahan besar sekalipun, seperti yang terjadi di Vietnam atau Irak. Menyerang Iran adalah tindakan gegabah, dan AS saat ini sedang menanggung akibatnya.

Situasi di Arab Saudi jauh lebih berbahaya, karena konflik yang kembali memanas dengan Ansar Allah telah menyebabkan kobaran perang mencapai kota-kota di Saudi. Fakta bahwa Bandara Riyadh menjadi sasaran serangan rudal bukanlah insiden sepele; bandara tersebut telah diserang berkali-kali, dengan salah satu serangan mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Penutupan bandara dan penghentian penerbangan telah menciptakan krisis besar. Persepsi yang selama ini dipegang—bahwa kawasan tersebut menikmati stabilitas yang kokoh dan kebal terhadap gangguan apa pun—telah sirna sepenuhnya.

Ketika pesawat nirawak (drone) dan rudal Iran diluncurkan ke arah UEA pada awal konflik, sistem pertahanan UEA terbukti cukup efektif; meskipun beberapa proyektil menyebabkan kerusakan, banyak lainnya berhasil dicegat.

Sebaliknya, Ansar Allah terus menghujani Arab Saudi dengan rudal, yang mengindikasikan bahwa jika sistem pertahanan memang ada, sistem tersebut sangatlah tidak memadai. Selain Bandara Riyadh, Bandara Dammam juga terkena serangan rudal. Pipa minyak Timur-Barat telah diledakkan di beberapa lokasi, dan stasiun pemompaan pun diserang. Bahkan kilang minyak terbesar di dunia juga terkena serangan rudal. Seluruh perekonomian Arab Saudi bergantung pada minyak, dan baik produksi maupun distribusinya kini sangat terganggu.

Yang mengejutkan adalah bahwa perang dengan Ansar Allah ini sebenarnya tidak harus terjadi. Gencatan senjata antara Arab Saudi dan Ansar Allah telah berlaku sejak tahun 2022. Mempertahankan gencatan senjata tersebut merupakan kepentingan utama Arab Saudi; namun, akibat insiden yang relatif kecil—yakni penerbangan pesawat Iran dari Teheran ke Sana’a yang membawa pejabat Ansar Allah tanpa izin Saudi—Angkatan Udara Saudi menyerang landasan pacu bandara Sana’a (Juli 2026). Para pengambil keputusan di Saudi seharusnya mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan. Sekalipun penerbangan Iran tersebut melukai harga diri Saudi, sikap menahan diri seharusnya dikedepankan. Sebaliknya, mereka justru melancarkan serangan tanpa pikir panjang. Ansar Allah mungkin memang sedang menanti kesempatan seperti itu; begitu landasan pacu dihantam, mereka pun melancarkan serangan darat.

Arab Saudi tentu tidak kekurangan jet tempur. Jika ada sahabat sejati di sekitar mereka, sahabat tersebut sebaiknya mencoba memberikan nasihat; jika tidak, konsekuensinya bisa sangat berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Ya Rabb، mudah²an mampus… Menyusul si Ali Khamenei dkk
    SEMOGA SEGERA DIKIRIM KE NERAKA…..

    Beredar kabar bahwa Abdul Malik al-Houthi, pemimpin milisi teroris Houthi di Yaman, mengalami masalah kesehatan atau kemungkinan terluka akibat serangan udara.

    📌YAHYA SORRY terLUKA BERAT menunggu AJAL tiba

    ​Kilas Berita: Jet-jet tempur Arab Saudi hari ini kembali melancarkan pengeboman hebat terhadap kelompok Houthi di Sana’a.

    Beredar laporan bahwa juru bicara resmi Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, telah terluka; sementara kematian petinggi Houthi Mayor Jenderal Abu Badr dan Mayor Jenderal Abu Jihad telah dikonfirmasi.

    ​Rangkaian tewas dan tertangkapnya para komandan Houthi di tangan pasukan Yaman terus berlanjut.

    Jika situasi ini terus berjalan demikian, pasukan Yaman akan segera berhasil mengalahkan para teroris Houthi tersebut.

    ​Hingga saat ini, kematian 5 komandan militer Houthi telah terkonfirmasi, sementara komandan keenam dilaporkan mengalami luka-luka.

  2. djrie….ente lagi sakau ya. Analisis militer manapun pasti akan menilai bahwa Saudi sedang terjepit karena salah kebijakan anak imusan seperti MBS (laknatullah) ini. sejak awal MBS terlalu percaya diri dan akhirnya remuk sendiri. Di tangan nya lah KSA perlahan akan runtuh.