The Gaza trap: How asymmetric warfare shattered Israel’s illusions
Perangkap Gaza: Bagaimana perang asimetris menghancurkan ilusi Israel
✍️Jasim Al-Azzawi
Serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel menghancurkan salah satu perbatasan paling dijaga ketat di dunia dan mempermalukan militernya yang dibanggakan. Hamas, dengan persenjataan seadanya dan terowongan yang digali menembus pasir, melumpuhkan negara bersenjata nuklir tersebut. Ini bukan sekadar penyergapan taktis. Ini adalah perhitungan eksistensial.
Israel, yang dipersenjatai dengan pengawasan dan persenjataan tercanggih di dunia, dibutakan. Teknologi menjadi penjaranya, bukan perisainya. Drone, satelit, dan pusat komando yang ditenagai AI tidak dapat membaca maksud, tidak dapat menguraikan keheningan, tidak dapat melihat ke dalam pikiran orang-orang yang rela mati. Seperti yang diakui Ehud Yaari, “Israel kemungkinan besar memiliki intelijen yang cukup untuk mengantisipasi serangan Hamas, namun masih belum siap. Keunggulan teknologi tidak terlalu berarti dalam kasus ini.” Inilah paradoks kekaisaran: mereka tenggelam dalam kesombongan mereka sendiri. Mereka lupa bahwa kekuasaan, ketika hanya bertumpu pada mesin dan tembok, menjadi rapuh.
Kekaisaran Bawah Tanah
Hamas memahami apa yang Israel tolak untuk lihat, bahwa perang di Gaza tidak terjadi di permukaan. Perang itu dilancarkan dalam bayang-bayang. Di bawah Gaza terbentang labirin: terowongan sepanjang 100 hingga 700 kilometer yang menghapus supremasi Israel di angkasa.
Dari bawah, Hamas dapat menyerang, lenyap, dan menyerang lagi. Terowongan mengubah kelemahan menjadi kekuatan, sebagaimana terowongan Viet Cong di Cu Chi pernah mengubah sawah menjadi kuburan bagi tentara Amerika.

Seperti yang diperingatkan oleh Dewan untuk Amerika yang Aman, “Disinformasi dan perang terowongan telah memberi Hamas ruang bernapas operasional. Taktik asimetris dan perang psikologis menantang dominasi militer Israel.”
Terowongan bukan sekadar geografi. Terowongan adalah metafora. Terowongan mewujudkan apa yang ditakuti setiap kekaisaran: perlawanan yang gigih, tak terlihat, tak kenal menyerah, terkubur di bawah setiap sistem pertahanan rudal.
Perang sebagai teater
7 Oktober lebih dari sekadar serangan. Itu adalah teater, sebuah pertunjukan berdarah dan brutal yang dipentaskan untuk dunia. Khalil Jahshan mengatakannya dengan lugas: Operasi Hamas adalah “politik dengan cara lain, sebuah perang militer dan psikologis yang terencana dengan baik untuk mengungkap kerentanan Israel.”

Naskahnya jelas: memancing Israel untuk bereaksi berlebihan. Dan Israel menurutinya dengan keganasan yang luar biasa. Seluruh permukiman di Gaza rata dengan tanah. Keluarga-keluarga hancur. Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi hancur menjadi puing-puing.
Namun, puing-puing itu berbicara lebih keras daripada bom-bom Israel. Impian normalisasi dengan Arab Saudi, permata mahkota Netanyahu, telah musnah. Di berbagai ibu kota, bahkan di antara sekutu Israel, pertanyaan itu berbisik: bagaimana mungkin sebuah negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi, sebuah mercusuar, bersikap seolah-olah nyawa orang Palestina dapat dibuang begitu saja?

Inilah perang asimetris dalam arti sebenarnya: kelemahan militer diubah menjadi keuntungan politik, kekejaman diubah menjadi kekuatan naratif. Pihak yang lebih lemah berdarah fisiknya. Pihak yang lebih kuat berdarah legitimasinya.
Tawaran Faust Israel
Selama dua dekade, Israel memilih sinisme daripada perdamaian. Netanyahu menjadikan Hamas sebagai alat pembanding, membiarkan uang Qatar mengalir ke Gaza, melemahkan Otoritas Palestina, memastikan rakyat Palestina tetap terpecah belah dan tanpa pemimpin.
Ini juga merupakan sandiwara negara. Pertahankan konflik tetap membara, jual “stabilitas” ke Washington, tuai hasil normalisasi Teluk. Namun, api yang Israel pikir dapat dipadamkan kini telah melahapnya.
Seperti yang ditulis Marwan Muasher di Foreign Affairs: “Mitos bahwa perdamaian mungkin terjadi tanpa menangani Palestina yang berada di bawah pendudukan kini telah hancur.” Chatham House bahkan lebih keras: “Ketidakmampuan kebijakan global untuk mengatasi penyebab konflik telah memungkinkan Hamas tumbuh dalam kekosongan.”
Singkatnya, tawar-menawar Faust Israel telah runtuh. Monster yang disangka mampu ia kendalikan telah bangkit dari kegelapan.
Kebohongan Pembasmian
Kini kita mendengar seruan yang sudah tak asing lagi: Hamas harus dihancurkan. Pembasmian adalah mantra para jenderal yang salah mengartikan slogan sebagai strategi. Namun, seperti yang dicatat Gerald M. Feierstein dari Middle East Institute, “Membasmi Hamas sepertinya bukan tujuan yang dapat dicapai dengan biaya yang wajar.”
Tidak pernah. Irak, Afghanistan, dan Lebanon semuanya menceritakan kisah yang sama. Anda bisa membunuh manusia. Tapi Anda tidak bisa membunuh ingatan. Anda tidak bisa membunuh perampasan. Anda tidak bisa membunuh amarah seorang anak yang tumbuh di bawah drone dan reruntuhan. Hamas bukan sekadar pejuang. Ia adalah sebuah gejala. Ia adalah seruan melawan pembasmian entitas.
Israel mungkin membunuh ribuan orang lagi. Namun dengan melakukan itu, ia melahirkan generasi militan berikutnya. Setiap bom yang dijatuhkan adalah benih yang ditanam. Inilah kutukan kekaisaran: keyakinan bahwa kekerasan yang berlebihan dapat menghapus sebuah gagasan.
Pembalasan
Tragedi 7 Oktober tidak hanya mengubah kalkulasi militer Israel. Peristiwa itu juga mengungkap kebangkrutan moral yang menjadi inti proyeknya. Pendudukan tak dapat dikendalikan. Rakyat Palestina tak dapat dihapuskan. Penderitaan mereka tak dapat disembunyikan selamanya di balik propaganda dan keterlibatan Barat.
Perang di Gaza bukan hanya tentang Hamas. Ini tentang penolakan mendasar sebuah negara, yang didukung oleh para pelindung paling kuat di dunia, untuk memberikan martabat dan kedaulatan kepada rakyat yang didudukinya.
Perang asimetris bukanlah sebuah taktik. Ini adalah cermin. Perang ini mencerminkan keputusasaan kaum tertindas dan kebutaan kaum berkuasa. Hingga cermin itu dikonfrontasi, hingga Israel dan sekutunya mengakui bahwa tak ada bom atau pengawasan yang dapat membeli legitimasi, siklus pembantaian dan pembalasan akan terus berlanjut. Israel mungkin meratakan Gaza, tetapi tidak dapat mengubur tanggung jawabnya sendiri. Pendudukan (penjajahan) adalah dosa asal. Dan hingga dosa itu diakhiri, 7 Oktober bukanlah hari terakhir yang mengerikan.
(Sumber: MEMO)







Komentar