Perang Timur Tengah Meluas, Milisi Pro-Iran Mulai Serang AS dan Israel

Konflik di Timur Tengah semakin melebar setelah kelompok-kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran mulai bergerak melawan Amerika Serikat dan Israel. Gelombang serangan yang mereka lakukan disebut sebagai bentuk balasan atas operasi militer gabungan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran.

Pergerakan milisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa perang bisa berubah menjadi konflik regional yang lebih luas. Sejumlah kelompok bersenjata kini meningkatkan aktivitas serangan di berbagai wilayah, terutama di Irak yang menjadi salah satu titik paling panas dalam eskalasi terbaru.

Dalam beberapa hari terakhir, milisi di Irak dilaporkan meluncurkan puluhan serangan yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di Irak dan Yordania. Selain itu, beberapa serangan juga diarahkan ke fasilitas milik kelompok oposisi Iran-Kurdi di wilayah otonom Irak utara.

Koalisi milisi bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara Barat agar tidak ikut campur dalam konflik tersebut.

Kami memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak bergabung dalam perang ini. Pasukan dan pangkalan mereka di Irak dan kawasan sekitarnya akan menjadi target,” demikian bunyi pernyataan gabungan kelompok milisi tersebut.

Di lapangan, indikasi koordinasi antar kelompok bersenjata juga semakin terlihat. Otoritas Irak melaporkan adanya upaya peluncuran rudal dari Provinsi Basra menuju negara tetangga, meskipun berhasil digagalkan oleh pasukan keamanan setempat.

Militer Israel juga mengonfirmasi adanya serangan drone dari wilayah Irak.

“Drone telah diluncurkan ke arah Israel dari Irak, meski jumlahnya tidak signifikan,” ujar juru bicara militer Israel.

Menurut analis keamanan dari Horizon Engage, Michael Knights, agresivitas milisi tersebut kemungkinan dipicu oleh perubahan besar dalam kepemimpinan Iran setelah kematian pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei.

Ia menilai kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran sedang berupaya menunjukkan eksistensi mereka di tengah perubahan situasi geopolitik kawasan.

Namun aksi milisi itu juga memicu serangan balasan. Sejumlah basis kelompok bersenjata di Irak selatan dilaporkan dihantam drone bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 15 pejuang dari kelompok Kataib Hezbollah.

Serangan tersebut terjadi di beberapa wilayah seperti Baghdad selatan, Nasiriya, hingga Basra. Target lain termasuk pangkalan milisi di Jurf al-Nasr yang dilaporkan terus digempur sejak akhir pekan lalu.

Knights menduga serangan itu merupakan bagian dari operasi rahasia yang dilakukan oleh pasukan khusus Israel atau Amerika Serikat.

“Ada sistem drone jarak pendek yang digunakan di Irak yang tidak mungkin diluncurkan dari Israel. Polanya sama seperti konflik tahun lalu, yang menunjukkan adanya operasi terselubung di lapangan,” katanya.

Sementara itu peneliti senior dari Chatham House, Renad Mansour, menilai milisi-milisi tersebut saat ini sedang berada dalam fase bertahan hidup di tengah tekanan militer yang semakin besar.

Menurutnya, langkah mereka bukan semata-mata untuk membela Iran, tetapi juga untuk memastikan kelangsungan kelompok bersenjata tersebut di tengah situasi konflik yang semakin kompleks.

Dengan semakin banyaknya aktor bersenjata yang terlibat, para analis memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah kini berpotensi berubah menjadi konflik proksi berskala besar yang sulit dikendalikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *