Per hari ini, pasukan Amerika Serikat resmi angkat kaki dari Suriah

PER HARI INI, pasukan Amerika Serikat resmi angkat kaki dari pangkalan Qasrak di al-Hasakah, Suriah, dan bergerak menuju Kurdistan Irak. Mereka pergi. Basis ditinggalkan.

Dulu, ketika pemerintah baru Suriah memilih masuk dalam kerangka koalisi internasional, reaksi keras langsung muncul. Tuduhan dilempar. Cacian disebar. Ada yang sampai berani mengkafirkan dan menuduh pengkhianatan terhadap darah syuhada mujahidin Suriah. Katanya tunduk pada Amerika. Katanya menjual prinsip. Katanya menggadaikan perjuangan.

Tapi yang aneh, mereka yang paling keras mencaci tidak pernah benar-benar menjelaskan solusi nyata. Mereka hanya mengutip Dalil tentang larangan bekerja sama dengan orang kafir, tanpa mau melihat realitas yang dihadapi Suriah ke depan. Seolah-olah negeri yang hancur, terpecah, dan dikepung kepentingan asing bisa diselesaikan begitu saja tanpa memahami dinamika langkah politik yang benar.

Suriah pasca pembebasan dari rezim Assad bukan negeri yang bersih dari masalah. Wilayahnya terbelah. Kekuatan asing bercokol. Kerusakan warisan rezim Assad menumpuk di semua sisi. Upaya memecah belah Suriah masih kuat. Dalam kondisi seperti itu, langkah politik tidak bisa dihakimi dari satu sudut pandang saja. Membandingkan Suriah dengan Afghanistan juga keliru. Medannya berbeda, masyarakatnya berbeda, ancamannya berbeda. Strateginya pun pasti berbeda.

Orang-orang yang hari ini berada di pemerintahan baru Suriah bukan orang baru belajar politik kemarin sore. Mereka adalah ulama, ahlul ilmi, para mujahid, orang-orang yang memahami persoalan negerinya lebih dalam daripada pengamat jauh di luar sana. Bersama mereka ada para ulama yang paham konteks, paham tekanan, paham risiko.

Dan hari ini hasilnya mulai terlihat.

Militer Amerika Serikat mundur dari sejumlah pangkalan. SDF melemah dan akhirnya harus bernegosiasi serta masuk dalam kerangka negara Suriah yang baru. Kamp Al-Hol dan Al-Raj (tempat tawanan ISIS) yang dulu di luar kendali kini berada di tangan pemerintah. Perempuan dan anak-anak yang lama terjebak di kamp mulai dipindahkan dan ditangani. Kamp yang tidak layak huni dikosongkan.

Dulu semua itu dianggap mustahil.

Sampai hari ini, mereka yang dulu paling lantang menghina tetap tidak menawarkan solusi konkret. Tidak pernah menjelaskan bagaimana menghadapi tekanan internasional, bagaimana menekan kekuatan militer asing, bagaimana menjaga keutuhan negeri di tengah ancaman. Yang ada hanya celaan.

Mudah berbicara dari jauh. Sulit mengambil keputusan di tengah tekanan nyata. Sekarang fakta sudah jelas. Pasukan asing pergi. Struktur yang dulu kuat melemah. Posisi negara menguat.

Tinggal satu pertanyaan, masih mau menutup mata, atau mulai mengakui bahwa tidak semua yang terlihat keras itu benar, dan tidak semua yang terlihat lunak itu salah? (AL ANDALUS)

[VIDEO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *