Pengamat Perang: Banyak Tentara AS Sebenarnya Takut Perang dengan Iran

Sejumlah pengamat konflik menilai banyak prajurit Amerika Serikat sebenarnya tidak siap menghadapi perang melawan Iran. Bahkan, menurut laporan dari kalangan aktivis anti-perang, sebagian tentara AS disebut mencari cara untuk menghindari keterlibatan langsung di medan tempur.

Direktur eksekutif Center on Conscience and War, Mike Prysner, mengatakan organisasinya menerima banyak permintaan bantuan dari prajurit dan keluarga mereka sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat.

Menurut Prysner, telepon ke organisasinya terus berdatangan dari anggota militer yang ingin mengetahui kemungkinan jalur hukum untuk menolak atau menghindari penugasan tempur.

“Telepon terus berdering tanpa henti. Banyak tentara yang menghubungi kami untuk mencari cara agar tidak ikut dalam operasi militer ini,” tulisnya dalam sejumlah unggahan di media sosial.

Ia menceritakan salah satu percakapan dengan seorang ibu dari anggota militer AS. Sang ibu mengaku mendapat telepon terakhir dari anaknya sebelum para prajurit diminta menyerahkan ponsel mereka.

Dalam percakapan itu, prajurit tersebut mengatakan kepada ibunya bahwa unit mereka kemungkinan akan segera diterjunkan ke medan tempur pada malam hari.

Prysner juga menyebut prajurit tersebut mengatakan bahwa komandannya menyampaikan operasi militer itu sebagai bagian dari “rencana ilahi”, bahkan dikaitkan dengan keyakinan tentang kedatangan kedua Yesus Kristus.

Menurutnya, banyak tentara baru mengetahui bahwa mereka akan dikirim ke medan perang ketika semuanya sudah terlambat. Sebelumnya mereka hanya diberitahu bahwa penugasan tersebut merupakan latihan militer biasa.

Isu ini muncul di tengah meningkatnya tekanan publik terhadap perang tersebut di Amerika Serikat. Sejumlah demonstrasi anti-perang digelar di berbagai kota besar seperti Seattle, Washington, D.C., New York City, Chicago, dan Los Angeles. Para demonstran mengecam serangan militer yang dinilai memicu korban sipil dan memperluas konflik di Timur Tengah.

Penolakan terhadap perang juga tercermin dari hasil survei University of Maryland yang menunjukkan hanya sekitar 21 persen warga Amerika mendukung perang melawan Iran, sementara mayoritas responden menyatakan menentang langkah tersebut.

Kritik juga diarahkan kepada Presiden AS Donald Trump yang dalam kampanye pemilu 2024 pernah berjanji tidak akan membawa Amerika ke dalam perang baru. Bagi sebagian pendukungnya, keterlibatan AS dalam konflik ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap janji tersebut.

Di sisi lain, laporan media Amerika juga mengungkap dampak kemanusiaan dari serangan tersebut. Sebuah laporan dari The New York Times menyebut serangan udara AS pada akhir Februari menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di kota Minab di Iran selatan, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak.

Bagi para pengamat, kombinasi antara tekanan publik, korban sipil, dan keraguan di kalangan prajurit sendiri menunjukkan bahwa perang ini berpotensi menjadi konflik panjang yang sulit dikendalikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar