Pemimpin Iran Gugur, Emas Sempat Melonjak: Senin Lanjut Naik atau Berbalik Turun?

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) dini hari waktu Teheran. Kabar tersebut dikonfirmasi media pemerintah Iran seperti IRIB, IRNA, Fars News, dan Tasnim pada Minggu pagi (1/3).

Dalam pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang disiarkan langsung, Khamenei disebut tewas di kantornya di kompleks Beit Rahbari, Teheran, saat menjalankan tugas kepemimpinan. Serangan itu juga dilaporkan menewaskan puluhan pejabat tinggi, termasuk sejumlah anggota keluarga Khamenei dan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Khamenei wafat pada usia 86 tahun.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kabar tersebut melalui platform Truth Social dan menyebutnya sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya”. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mengonfirmasi keterlibatan negaranya dalam operasi yang menargetkan fasilitas militer dan kepemimpinan Iran.

Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan balasan itu memicu sirene peringatan di sejumlah wilayah dan meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik regional.

Pemerintah Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional serta libur umum selama sepekan. Hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait penerus Khamenei, memunculkan kekhawatiran kekosongan kekuasaan di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Dampak ke Harga Emas

Ketegangan ini langsung mendorong lonjakan permintaan aset safe haven. Harga emas spot (XAU/USD) melesat mendekati US$5.279–US$5.300 per troy ounce pada akhir pekan, naik signifikan dari kisaran sebelum serangan di sekitar US$5.180–US$5.230.

Kenaikan dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik, penutupan ruang udara di sejumlah wilayah, serta kekhawatiran gangguan pasokan minyak, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.

Prospek Senin (2 Maret 2026)

Analis memperkirakan potensi pembukaan dengan gap-up saat pasar komoditas dan valuta asing kembali beroperasi. Bias jangka pendek cenderung bullish apabila konflik berlanjut atau muncul gelombang serangan baru. Target teknikal disebut berada di kisaran US$5.400–US$5.600, dengan skenario ekstrem menuju US$6.000 jika eskalasi meluas.

Namun, risiko koreksi tetap terbuka. Jika muncul tanda de-eskalasi seperti gencatan senjata atau negosiasi darurat, emas berpotensi turun kembali ke area US$5.150–US$5.200.

Pasar diperkirakan sangat volatil dan sensitif terhadap perkembangan real-time. Pelaku pasar disarankan memantau berita dari sumber kredibel serta menerapkan manajemen risiko yang disiplin, termasuk penggunaan stop-loss untuk mengantisipasi pergerakan tajam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *