Pembunuhan Charlie Kirk dan Perang Sipil AS

Oleh: Ayman Rashdan Wong

Pembunuhan Charlie Kirk bukan hanya soal “dia mendukung Israel, kalau dia berbalik, dia akan dibunuh” atau “dia mendukung hak senjata, kalau dia berbalik, dia akan dibunuh”.

Bahkan bukan cerita bahwa Mossad mencoba menyalahkan umat Islam (karena kebetulan bertepatan dengan peringatan 9/11). Sejauh ini, yang ditangkap adalah orang kulit putih (Tyler Robinson). Sepertinya hal itu tidak bisa dikaitkan lagi dengan Islam.

Masalahnya sebenarnya adalah polarisasi politik di AS. Insiden ini merupakan tanda bahwa suhu politik Amerika telah menjadi terlalu panas: sampai pada titik di mana kekerasan menjadi solusi atas perbedaan pandangan politik.

Trump pernah ditembak sebelumnya. Saya tidak yakin apakah itu sebuah sandiwara, tetapi jelas bahwa kekerasan terhadap tokoh politik sedang menjadi norma.

Saya ingat Amerika pada tahun 1960-an. Politik sedang sangat panas saat itu, karena isu “hak-hak sipil” (perjuangan untuk hak-hak kulit hitam) dan berbagai isu lainnya.

Selain JFK yang ditembak pada tahun 1963, adiknya, RFK (ayah dari menteri kesehatan AS saat ini), yang menjadi calon presiden, juga ditembak mati pada tahun 1968. Tokoh-tokoh hak sipil seperti Martin Luther King Jr. ditembak pada tahun yang sama. Sebelumnya, mendiang Haji Malik el-Shabazz (Malcolm X) ditembak pada tahun 1965.

Motifnya beragam, tetapi semuanya menunjukkan bahwa kekerasan politik telah di luar kendali.

Baru pada tahun 1970-an keadaan menjadi sedikit lebih terkendali, dan pada tahun 1980-an politik menjadi lebih dingin di bawah pemerintahan Reagan.

Kejadian kali ini tampaknya tidak akan mendinginkan politik Amerika. Insiden ini justru seperti menyiramkan bahan bakar ke api “liberal vs. konservatif” yang semakin panas.

Meskipun penyelidikan Tyler Robinson belum selesai, sudah ada tanda-tanda bahwa ia sangat membenci Kirk karena sikap ultra-konservatifnya. Mungkin dia (pelaku) seorang liberal anti-fasis yang memandang gerakan MAGA konservatif (yang dipimpin oleh Trump & Kirk) sebagai ancaman terhadap nilai-nilai liberal Amerika.

Tokoh-tokoh konservatif di sayap kanan, termasuk Trump sendiri, mulai menyalahkan “kiri radikal.” Trump bahkan menggunakan bahasa yang agak kasar (“kita harus menghajar mereka habis-habisan”) sebagai tanggapan.

Misalnya, jika Robinson dinyatakan gila atau cacat, kehilangan seorang tokoh konservatif utama akan tetap meninggalkan dampak yang mendalam: menjadi simbol baru dan bahan bakar retorika gerakan MAGA (Make America Great Again), dan semakin mempolarisasi politik Amerika.

Jika ini menjadi konflik terbuka antara kaum liberal dan konservatif, skenario terburuknya bisa menjadi titik awal Perang Saudara (Civil War) Kedua. Kemungkinannya masih rendah, tetapi bukan tidak mungkin.

Inilah krisis internal Amerika yang selalu saya bahas. Sehebat apa pun, seberani apa pun, Amerika masih menghadapi masalah internal yang memecah belah persatuan dan pada akhirnya dapat meruntuhkan kekuatan dan pengaruhnya.

Hampir semua negara adidaya dalam sejarah telah runtuh karena faktor dari dalam. Kekalahan dalam perang biasanya hanya cerminan dari hilangnya persatuan internal.

Apa yang terjadi di Amerika juga merupakan peringatan bagi kita. Berhati-hatilah dalam berpolitik. Jangan biarkan retorika dan sentimen politik menebar kebencian.

Temukan “titik temu”, hindari polarisasi. Meskipun agak sulit di era di mana sensasi dan sentimen mendominasi kehidupan sehari-hari.

(fb penulis)

Komentar