Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa Indonesia tidak siap menghadapi siklon tropis, karena fenomena itu “tidak lazim”. Artinya, ketika bencana datang dengan eskalasi besar, negara memang belum siap.
Pernyataan ini jujur.
Begitu jujurnya hingga menimbulkan pertanyaan yang lebih jujur lagi: Kalau kita tidak siap menghadapi cuaca ekstrem,
mengapa kita begitu siap merusak alam dengan deforestasi?
Kenapa negara yang mengaku tidak berdaya menghadapi siklon tropis, tiba-tiba sangat berdaya ketika mengeluarkan izin tebang hutan, mengeringkan gambut, dan membuka tambang di hulu sungai?
Kalau siklon tropis dianggap “tak lazim”,
maka izin tebang jutaan hektare itu apa?
Apakah itu “lazim” dalam kamus moral dan ekologi kita?
Indonesia tidak siap menghadapi bencana –
tapi sangat siap menimbun risiko bencana melalui kerusakan alam.
Yang lebih menyakitkan: Setelah ratusan warga meninggal, rumah hanyut, dan kampung tenggelam, pelajaran yang diambil justru sederhana:
“Kita belum siap.”
Tidak ada refleksi bahwa hutan yang hilang adalah tameng pertama kita. Tidak ada renungan bahwa sungai meluap karena hulunya dibongkar. Tidak ada kesimpulan bahwa air bah tidak mengenal istilah “izin lokasi”.
Lalu siapa yang bertanggung jawab atas korban kemanusiaan ini?
Siklon tropis?
Awan?
Langit?
Atau keputusan-keputusan manusia yang dilakukan dengan sadar, atas nama pembangunan, pertumbuhan, dan pendapatan jangka pendek?
Kita tidak siap menghadapi bencana besar—
bukan karena bencananya terlalu besar,
tetapi karena kerusakan yang kita buat jauh lebih besar dari kemampuan kita menahannya.
(Erizeli Jely Bandaro)







Komentar