Kalau orang punya ijazah sarjana, mustahil orang itu tak punya ijazah SMA. Normalnya begitu di Indonesia dan sudah seharusnya di seluruh dunia.
Setidaknya, itulah yang menjadi perdebatan soal jejak pendidikan Gibran Rakabuming Raka yang diusut oleh Roy Suryo Cs minus Dokter Tifa.
Entah ke mana Dokter Tifa saat ini? Kok tak terlihat ikut rombongan Roy Suryo Cs, mengusut ijazah Gibran ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah?
Roy Suryo Cs yakin betul bahwa Gibran tak punya ijazah SMA. Yang dipunyai Gibran hanyalah sepucuk surat dari Kementerian, yang bukan ijazah.
Hampir saja Roy Suryo Cs menyamakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan UGM yang tak mau terbuka dan pasang badan terhadap ijazah Jokowi.
Untung Menterinya langsung turun tangan, yakni Abdul Mu’ti (eks Sekretaris Umum PP Muhammadiyah), yang memerintahkan kepada anak buahnya untuk melayani Roy Suryo Cs bukan lewat penjaga keamanan, melainkan sesuai apa yang diinginkan Roy Suryo Cs.
Itu awal yang baik untuk membuka seterang-terangnya perihal ijazah Gibran, tak seperti KPU yang tiba-tiba saja bikin keputusan aneh-aneh, lalu tiba-tiba saja pula mencabutnya.
Terus terang, manuver KPU semakin mencurigakan tidak saja terhadap ijazah Jokowi, tapi juga terhadap ijazah Gibran.
Kabarnya data di KPU tentang pendidikan terakhir Gibran sudah diubah, yang sebelumnya tak dicantumkan, kini sudah dicantumkan, yakni Sarjana atau S1.
Subhan Palal sebagai pihak penggugat ijazah Gibran protes keras dan mengatakan bisa terdapat unsur pidana dalam proses pengubahan oleh KPU itu.
Kalau saja KPU tak bermanuver secara mencolok, mungkin publik masih ragu juga dengan usaha yang dilakukan Roy Suryo Cs, yakni dijuluki pakar ijazah ini.
Kini jauh lebih mencurigakan ijazah Gibran ketimbang ijazah Jokowi yang juga masih belum jelas.
Sayangnya, Gibran tak bersekolah untuk tingkat SMA dan Sarjana di Indonesia. Mestinya bagus, karena dianggap bersekolah dan kuliah di luar negeri itu, pastilah jauh lebih baik.
Tapi kok berbeda dengan Gibran? Orang seperti Roy Suryo Cs justru mencurigainya. Gibran sempat dikatakan bersekolah di SMA Santo Yosep Surakarta, tapi sudah dibantah pihak sekolah.
SMA Gibran bolak-balik di Singapore dan Australia dalam rentang waktu yang dianggap kacau balau. Justru yang disetarakan dengan SMA oleh Kementerian itu yang di Australia, bukan yang di Singapore. Yang di Singapore hanya ada rapor kelas 10 dan kelas 11, bukan ijazah, kata Roy Suryo, usai bertemu pejabat di Kemendikdasmen.
Tak hanya Jokowi yang turun tangan membela ijazah Gibran, tapi adiknya Kaesang, Ketua Umum PSI, juga ambil bagian. Kaesang mengaku pernah ke tempat Gibran berkuliah, yakni di Management Development Institute of Singapore (MDIS), di situ ada foto Gibran berwisuda dipajangkan sebagai ajang promosi pihak Universitas untuk menarik minat mahasiswa baru.
Persis seperti UGM yang dulu membangga-banggakan Jokowi sebagai alumninya, tapi saat ini sudah tak terdengar lagi gaungnya. Apakah MDIS juga seperti UGM usai gugatan ijazah ini, entahlah?
Memang agak rumit juga kalau ijazah Sarjana ada, tapi ijazah SMA bermasalah. Yang dipakai ijazah Sarjananya atau ijazah SMA-nya.
Apakah bisa di luar negeri itu orang masuk Perguruan Tinggi tanpa memiliki ijazah SMA sebagaimana lazimnya? Apakah Roy Suryo Cs akan terbang ke Singapura untuk memastikan keaslian ijazah Sarjana Gibran, setelah memastikan ijazah SMA Gibran di Kemendikdasmen?
Roy Suryo mengatakan akan mengejar terus jejak Pendidikan Gibran ini karena dia belum puas, kalau belum ada kejelasan, demi pendidikan anak-anak kita.
Bolak-balik soal ijazah ini, baik Jokowi maupun Gibran, selalu diarahkan kepada siapa di belakang mereka. Ade Armando bikin analisis kemungkinan, kalau tidak pihak PDIP, Kelompok 212 terkait Anies Baswedan, Partai Demokrat terkait Roy Suryo, kekuatan asing Amerika Serikat, dan kelompok SJW (Social Justice Warrior) yang dikatakan peduli dengan demokrasi.
Tapi siapapun kelompok di belakang itu, masalahnya ijazah Jokowi dan Gibran itu sendiri memang punya persoalan yang layak untuk dipersoalkan. Dan terbukti tak bisa diselesaikan dengan mudah oleh Gibran dan Jokowi itu sendiri.
Makanya saat pendukung Jokowi mempertanyakan kenapa pihak-pihak yang mempersoalkan ijazah Jokowi dan Gibran ini, tak mempersoalkan ijazah Prabowo seperti menerpa ruang hampa?
Bukankah Prabowo juga sekolah di luar negeri seperti halnya Gibran? Masalahnya Prabowo itu lulusan AKABRI, tak sama dengan Gibran. Lucu saja kalau ada orang yang mempertanyakan ijazah Prabowo seperti yang dianjurkan oleh pendukung Jokowi itu.
Apalagi keluarga Prabowo terlalu berpendidikan untuk dipersoalkan masalah pendidikannya. Jadi memang sudah nasib Jokowi mengalami semua ini. Jatuh bukan saat memulai, tapi saat mengakhiri. Entahlah.
(Oleh: Erizal)







Komentar