Orang Penting Israel Ini Merengek: “Kita Ini Umat Terpilih, Kenapa Hidup di Bunker?”

Di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, sebuah video viral kembali memperlihatkan betapa rapuhnya “semangat juang” para pemimpin Zionis. Avichai Stern, Walikota Kiryat Shmona, salah satu pemukiman ilegal Israel di utara yang berbatasan langsung dengan Lebanon, terekam sedang merengek dan memukul meja dalam rapat dengan pejabat tinggi pemerintah Israel.

Dengan suara penuh emosi dan wajah memerah, Stern mengeluhkan nasib warganya yang terpaksa hidup di bunker atau shelter bom selama berminggu-minggu. “Kita ini hancur. Kita hidup di shelter selama berminggu-minggu sekarang. Kenapa justru kita yang menderita? Kita ini umat terpilih!” serunya, seolah lupa bahwa klaim “umat terpilih” yang selama ini mereka gembar-gemborkan ternyata tidak melindungi mereka dari realitas perlawanan.

Video yang direkam sekitar 25 Maret 2026 ini dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak netizen melihatnya sebagai bukti nyata bahwa propaganda “Israel tak terkalahkan” mulai retak. Di Kiryat Shmona dan pemukiman Zionis lainnya di utara, warga memang sering berlarian ke bunker setiap kali sirene berbunyi. Peringatan roket hanya hitungan detik, rumah-rumah banyak yang tidak memiliki perlindungan memadai, dan anak-anak kecil terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang sempit yang pengap.

Namun, yang menarik adalah nada rengekan Stern. Ia bukan sekadar mengkritik Hizbullah atau Iran, melainkan menyalahkan pemerintah Israel sendiri yang dianggap “meninggalkan” warganya di garis depan. “Kenapa kami yang harus menderita sementara bagian tengah Israel bisa hidup normal?” tanyanya dengan nada sarkastik. Klaim “kita umat terpilih” yang keluar dari mulutnya justru menjadi bahan olok-olok luas. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang mengklaim diri sebagai “pilihan Tuhan” begitu mudah panik dan mengeluh hanya karena perlawanan bersenjata dari kelompok-kelompok perlawanan?

Dari perspektif perlawanan, situasi ini adalah hasil logis dari agresi berkelanjutan Israel. Selama puluhan tahun, pendudukan, pemboman, dan blokade telah memicu lahirnya kekuatan-kekuatan seperti Hezbollah yang kini mampu membuat pemukiman Zionis di utara hidup dalam ketakutan konstan. Roket-roket yang diluncurkan sebagai respons terhadap serangan Israel bukanlah “terorisme” semata, melainkan bentuk perlawanan sah terhadap penjajahan.

Stern dan para pejabat Zionis lainnya seolah lupa sejarah. Tanah yang mereka klaim itu bukanlah “tanah yang dijanjikan” tanpa perlawanan. Semakin Israel melanjutkan kebijakan ekspansi dan genosida di Gaza serta provokasi di Lebanon, semakin kuat pula front perlawanan yang akan mereka hadapi. Iran, sebagai salah satu pilar utama poros perlawanan, terus mendukung kekuatan-kekuatan lokal yang menolak hegemoni Zionis-Amerika. Dukungan ini bukan sekadar retorika, melainkan fakta di lapangan yang membuat “benteng” Israel di utara mulai goyah.

Video rengekan Walikota Kiryat Shmona ini sebenarnya membuka tabir. Di balik narasi “militer terkuat di Timur Tengah”, ada ketakutan, kekalahan moral, dan keretakan internal. Ketika seorang pemimpin lokal sampai harus berteriak “Kita umat terpilih, kenapa hidup di bunker?”, itu pertanda bahwa proyek Zionis sedang menghadapi krisis eksistensial.

Perlawanan Axis of Resistance, termasuk Hezbollah yang didukung Iran, terus menunjukkan bahwa tidak ada bunker atau sistem pertahanan yang bisa sepenuhnya melindungi dari tekad rakyat yang tertindas. Semakin Israel merengek dan saling menyalahkan, semakin jelas bahwa hari-hari penjajahan di tanah Palestina dan sekitarnya semakin terhitung.

Video ini bukan hanya viral karena dramatisnya. Ia menjadi simbol bahwa bahkan “umat terpilih” versi Zionis pun tidak kebal dari akibat agresi mereka sendiri. Dan di balik semua rengekan itu, perlawanan terus berkobar, didukung tekad kuat dari Iran dan sekutu-sekutunya yang tak gentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *