✍🏻Balqis Humaira
Gini. Sebelum ngomongin agama dipakai buat ngebodoh-bodohin bangsa, kita harus jujur dulu: kita hidup di negara yang dikontrol oleh sebuah sistem yang serakah, bukan cuma secara ekonomi, tapi bahkan cara pikir.
Tanda-tandanya keliatan di mana-mana.
Negara ini kaya raya, tapi rakyatnya hidup kayak numpang.
Tanah subur, laut luas, tambang di mana-mana, tapi yang kenyang itu perusahaan dan segelintir pengusaha.
Yang kerja banting tulang itu rakyat, yang panen itu yang punya modal.
Lo lihat harga rumah? Ngaco.
Harga tanah? Mimpi.
Gaji? Jangan ketawa.
Kerja 10 jam sehari, hidup masih mikir besok makan apa.
Sakit mikir BPJS.
Sekolah mikir biaya.
Nikah mikir utang.
Sementara di sisi lain, ada orang yang duitnya kebanyakan sampai bingung mau ditaruh di mana.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini sistem.
Sistem yang bikin kekayaan naik ke atas, bukan nyebar ke bawah.
Sistem yang bikin yang kecil saling sikut, sementara yang besar saling kongkalikong.
Dan anehnya, di tengah ketimpangan segila ini, rakyat jarang marah ke sistem.
Yang disalahin selalu diri sendiri.
“Ya mungkin gue kurang pinter.”
“Ya mungkin gue kurang usaha.”
“Ya mungkin emang nasib gue segini.”
Nah. Di titik ini, agama mulai masuk. Bukan sebagai pembebas. Tapi sebagai obat penenang.
Lo capek? Disuruh sabar.
Lo miskin? Disuruh ikhlas.
Lo diperas? Disuruh bersyukur.
Dan semua itu dikemas pakai dalil.
“Dunia cuma sementara.”
“Yang penting akhirat.”
“Rezeki udah ada yang ngatur.”
Kalimat-kalimat ini kalau berdiri sendiri gak salah. Tapi kalau dipakai di tengah ketidakadilan struktural, itu berubah jadi bius massal.
Kayak lo patah tulang, tapi dokter cuma bilang: “Sabar ya, ini ujian.”
Lah, goblok.
Yang perlu itu dioperasi, bukan dikasih ceramah motivasi.
Sekarang kita jujur aja:
Negara-negara yang dikuasai kapitalisme itu punya satu ciri sama: yang kaya makin kebal hukum, yang miskin makin hafal pasal.
Koruptor nyolong triliunan bisa senyum di pengadilan.
Maling ayam dipukulin rame-rame.
Perusahaan ngerusak hutan disebut “investasi”.
Rakyat nebang satu pohon disebut “perusak lingkungan”.
Ini bukan keadilan. Ini jelas-jelas menunjukkan betapa ngaconya kekuasaan.
Tapi anehnya, rakyat jarang nyalahin sistem ini. Kenapa?
Karena dari kecil, kita diajari nerima, bukan diajari mikir.
Dan di sinilah agama versi elite berperan.
Bukan agama sebagai nurani.
Tapi agama sebagai alat penjinak.
Sekarang kita masuk ke bagian kedua: SIAPA PELAKUNYA?
Jangan muter-muter.
Musuhnya itu koalisi tiga serangkai:
Oligarki / pemilik modal besar
Politisi yang jadi kacung modal
Elite agama yang jual tafsir
Oligarki butuh sistem yang bikin mereka bisa ngeruk sumber daya tanpa gangguan.
Politisi butuh duit buat kampanye dan jaga kekuasaan.
Elite agama butuh panggung, pengaruh, dan kadang… jatah juga.
Dealnya sederhana:
Lo jangan ganggu bisnis gue.
Gue biayain kekuasaan lo.
Dan lo, tolong jagain rakyat tetap anteng.
Caranya?
Bukan pakai tank.
Pakai mimbar.
Rakyat jangan diajarin mikir struktur.
Ajarin mereka mikir dosa pribadi.
Rakyat jangan diajarin nanya:
“Kenapa tanah dikuasai segelintir orang?”
Ajarin mereka nanya:
“Kenapa shalat gue belum khusyuk?”
Rakyat jangan diajarin marah ke sistem.
Ajarin mereka marah ke sesama rakyat: beda mazhab, beda pilihan politik, beda selera.
Dan ini berhasil banget.
Lo lihat medsos:
Ributnya soal simbol yang ujungnya kadang penistaan.
Ributnya soal moral receh yang gak penting seperti isu selangkangan pejabat.
Ributnya soal siapa sosok paling suci yg pantas jadi presiden.
Sementara tambang dibagi-bagi.
Hutan digunduli. Laut dikapling.
Dan gak ada yang ribut.
Ini namanya pengalihan isu berjamaah.
Agama yang seharusnya jadi alat perlawanan terhadap kezaliman, dipelintir jadi alat legitimasi kezaliman.
Contohnya gampang:
Kalau buruh nuntut upah layak:
“Jangan iri, rezeki udah ada yang ngatur.”
Kalau petani kehilangan tanah:
“Ini ujian kesabaran.”
Kalau rakyat protes:
“Jangan bikin rusuh, nanti dosa.”
Tapi kalau perusahaan ngerusak alam?
“Demi pembangunan.”
Kalau pejabat korup?
“Ya manusia tempatnya khilaf.”
Perhatiin polanya:
Kesalahan struktural selalu dikecilin. Kesalahan rakyat selalu digedein.
Ini bukan kebetulan. Ini strategi.
Dan elite agama yang main di sini, entah sadar atau enggak, lagi jadi satpam sistem yang nindas umatnya sendiri.
Sekarang bagian ketiga: SOLUSINYA APA?
Pertama, kita harus berhenti jadi umat yang cuma bisa nurut.
Agama itu bukan cuma soal ritual.
Agama itu harusnya soal keadilan.
Kalau ada sistem yang bikin jutaan orang hidup sengsara sementara segelintir orang hidup kayak dewa, itu masalah moral, bukan cuma masalah ekonomi.
Kedua, kita harus balikin fungsi agama ke posisi aslinya:
Bukan buat nenangin korban, tapi buat ngelawan pelaku.
Nabi mana pun, di agama mana pun, selalu berdiri di pihak yang lemah melawan yang kuat.
Bukan sebaliknya.
Ketiga, kita harus belajar mikir struktural.
Kalau lo miskin, jangan cuma nanya:
“Apa salah gue?”
Tanya juga:
“Sistem apa yang bikin gue tetap miskin meski gue kerja mati-matian?”
Kalau negara rusak, jangan cuma nyalahin moral rakyat.
Tanya:
“Siapa yang diuntungkan dari kerusakan ini?”
Keempat, kita harus curiga sama ceramah yang bikin kita terlalu jinak.
Agama yang sehat itu bikin lo berani, bukan cuma patuh.
Bikin lo punya nyali lawan zalim, bukan cuma tahan dipukul.
Dan terakhir, yang paling penting:
Jangan mau lagi dibius pakai dalil yang dipotong konteksnya.
Kalau ada yang bilang: “Sabar ya, ini ujian.”
Tanya balik: “Siapa yang bikin ujian ini?”
Kalau ada yang bilang: “Ini takdir.”
Tanya: “Atau ini hasil kebijakan manusia?”
Karena selama rakyat cuma disuruh ikhlas tanpa keadilan,
yang kaya akan terus pesta,
dan yang miskin akan terus disuruh berdoa.
Dan bangsa yang terus disuruh berdoa tanpa pernah diajarin melawan ketidakadilan,
itu bukan bangsa religius.
Itu bangsa yang dijinakkan.







Komentar