✍🏻Balqis Humaira
Oke, lupain dulu semua buku sejarah kaku yang pernah lo baca di bangku sekolah. Lupain persepsi lo tentang “Kisah Nabi” yang isinya cuma hafalan tahun dan perang.
Gue mau ajak lo mundur ke abad ke-6, ke sebuah kota metropolitan di tengah gurun bernama Mekkah.
Di sini, di antara debu panas dan intrik politik kabilah, ada sebuah romance story yang saking epiknya, scriptwriter Drakor pun bakal minder kalau baca plot aslinya.
Ini bukan cerita tentang Romeo dan Juliet yang mati konyol. Ini cerita tentang dua manusia “High Value” yang selesai sama dirinya sendiri, lalu mutusin buat ngebangun peradaban bareng-bareng.
Kita mulai dari Sang Pemeran Utama Wanita: Khadijah binti Khuwailid.
Bayangin seorang wanita, umur 40 tahun (riwayat yang kuat usianya 28 tahun -red). Janda. Di zaman itu—di mana cewek sering dianggap properti—Khadijah ini anomali. Dia itu aneh dalam sistem patriarki Arab. Dia kaya raya, konglomerat ekspor-impor yang kafilah dagangnya kalau dibarisin bisa menuhin cakrawala. Dia dijuluki At-Tahira (Yang Suci) dan gak kesentuh, karena di tengah kota yang isinya judi, mabuk, dan main perempuan, dia bersih. Dia nggak tersentuh skandal.
Khadijah ini definisi Alpha Female yang sebenernya. Dia punya segalanya: duit unlimited, nasab bangsawan, dan otak jenius. Masalahnya, jadi cewek sekeren ini tuh kesepian, Bro.
Lo bayangin aja, tiap hari rumahnya diketok sama juragan-juragan kaya atau kepala suku yang pengen ngelamar. Tapi mereka dateng bawa apa? Mereka dateng bawa ego. Mereka pamer harta, pamer kuasa. “Nikah sama gue, nanti bisnis lo aman.” Cih. Khadijah muak. Dia Sapiosexual akut. Dia nggak terangsang sama otot atau dompet tebel. Dia terangsang sama isi kepala. Dia butuh partner diskusi, bukan bos baru yang mau ngontrol hidupnya.
Makanya dia nolak mereka semua. “Sorry, lo semua nggak level,” mungkin itu batinnya. Dia lebih milih sendiri ngurus bisnis daripada harus nurunin standar buat laki-laki medioker.
Sampai suatu hari, ada krisis di manajemen bisnisnya. Dia butuh manajer baru buat ekspedisi ke Syam (Suriah). Dia butuh orang jujur. Dan di pasar yang isinya penipu ulung, “jujur” itu barang langka.
Masuklah nama itu ke telinganya: Muhammad bin Abdullah.
Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa di kalangan elit bisnis. Dia yatim piatu, diasuh pamannya Abu Thalib yang secara ekonomi lagi sulit. Dia miskin aset, tapi kaya reputasi. Orang-orang pasar manggil dia Al-Amin (The Trustworthy). Katanya, lo bisa nitip nyawa lo ke dia dan dia bakal jagain lebih baik dari dirinya sendiri.
Khadijah penasaran. Really? Di kota sebusuk ini masih ada orang lurus?
Dipanggillah Muhammad buat interview kerja.
Momen ini… sumpah, ini momen slow motion kalau di film. Muhammad masuk ke rumah Khadijah. Penampilannya sederhana, tapi auranya… beuh. Dia punya vibes “Sigma Male” yang tenang, stoic, nggak banyak omong, tapi berwibawa. Kulitnya putih kemerahan, wajahnya bersinar (glowing alami), dan wanginya kayak kasturi.
Tapi yang bikin Khadijah—Sang Iron Lady—tiba-tiba stutter alias gagap, bukan cuma fisiknya. Tapi Adab-nya. Muhammad nggak jelalatan. Dia nundukin pandangan (Ghadul Bashar). Dia nggak natap Khadijah dengan tatapan laper kayak cowok-cowok lain. Dia natap dengan hormat. Di detik itu, Khadijah ngerasa aman. Dia ngerasa dihargai sebagai manusia, bukan objek. Dan buat wanita terhormat, rasa aman itu adalah foreplay terbaik.
Deal kerja terjadi. Muhammad berangkat ke Syam bawa modal Khadijah.
Tapi Khadijah nggak bego. Dia pebisnis ulung. Dia nggak mau “beli kucing dalam karung”. Dia kirim asisten cowok kepercayaannya, Maisarah, buat jadi mata-mata. “Catet semua gerak-gerik dia,” perintah Khadijah. “Gue mau tau aslinya dia kayak gimana kalau nggak ada gue.”
Perjalanan ke Syam itu jadi ajang pembuktian. Di sinilah Maisarah—dan kita semua—liat kualitas asli Muhammad.
Di tengah gurun yang panasnya bisa bikin otak mendidih, Maisarah ngeliat keajaiban. Ada awan kecil yang selalu naungin Muhammad. Ke mana dia jalan, awan itu ngikut. Terus ada kejadian di biara pendeta Bahira, di mana pendeta antisosial itu tiba-tiba sujud dan bilang kalau Muhammad ini bakal jadi nabi terakhir.
Tapi yang lebih gila dari itu adalah Skill Bisnis-nya.
Di pasar Busra, Muhammad dagang pake metode Radical Transparency. Dia nggak nyembunyiin cacat barang. Dia jujur soal modal. Dia nggak mau bersumpah demi berhala. Para pedagang lain mikir dia bakal rugi. Nyatanya? Pembeli malah berebut. Mereka respect sama kejujuran dia. Profit ekspedisi kali ini meledak gila-gilaan, dua kali lipat dari biasanya.
Muhammad ngebuktiin kalau Good Ethics is Good Business. Dia kompeten. Dan cowok yang kompeten itu seksi banget di mata cewek mandiri kayak Khadijah.
Kafilah pulang. Maisarah lapor ke Khadijah.
”Puan, untung kita gede banget,” kata Maisarah sambil nyerahin emas. Tapi Khadijah udah nggak peduli sama emasnya.
”Gimana orangnya?” tanya Khadijah.
Dan Maisarah cerita. Dia cerita gimana Muhammad nggak pernah ngelirik cewek-cewek cantik di Syam. Gimana dia jujur. Gimana dia ngejaga sikap dan akhlaknya. Denger itu, Khadijah—wanita 40 tahun yang biasanya dingin—langsung meleh.
Dia kena fase Limerence. Jatuh cinta yang bikin otak dibanjiri Dopamin. Dia mulai senyum-senyum sendiri. Dia mulai ngelamun. “Gila,” pikirnya, “Ini dia orangnya. Ini laki-laki yang gue cari selama ini.”
Tapi… realita nampar dia balik.
Insecurity.
Setan di kepalanya mulai bisik-bisik. “Sadar diri woy, lo 40, dia 25. Lo janda dua kali, dia perjaka ting-ting. Lo kaya raya, dia miskin. Apa kata orang? Lo bakal diketawain. Lo bakal dibilang tante girang yang beli brondong.”
Khadijah takut. Dia takut ditolak bukan karena kepribadiannya, tapi karena “kemasan”-nya yang udah menua. Dia takut Muhammad bakal ilfeel.
Di sinilah Nafisah binti Munyah masuk sebagai Mak comblang. Dia sahabat Khadijah yang jadi Wingwoman legendaris. Nafisah tau Khadijah lagi galau, dan dia ngambil alih kemudi.
”Lo diem aja, biar gue yang main cantik,” kata Nafisah.
Nafisah nyegat Muhammad di jalan. Dialog ini smooth banget. Nafisah nggak langsung bilang “Eh bos gue naksir lo”. Itu murahan. Nafisah pake teknik Reverse Psychology.
”Mat,” tanya Nafisah, “Kenapa lo nggak nikah?”
Muhammad jawab jujur, “Gue nggak punya banyak duit (mahar). Siapa yang mau sama gue?”
Ternyata, Muhammad juga Insecure! Dia bukan nggak mau nikah, dia minder sama ekonominya. Dia sadar diri.
Nafisah langsung sikat: “Kalo ada cewek yang cantik, kaya, terhormat, dan mau nerima lo apa adanya… lo mau nggak?”
Muhammad bingung. “Siapa emangnya cewek se-perfect itu?”
”Khadijah.”
Boom. Muhammad shock. Salting parah. Mukanya merah. “Hah? Khadijah? Nyonya Bos? Ratu Quraysh? Emang dia mau sama gue yang remah-remah rengginang ini?”
Di sini psikologi Reciprocity of Liking main. Pas tau Khadijah suka sama dia, Muhammad jadi berani. Rasa mindernya ilang, diganti rasa syukur dan excited. Ternyata perasaannya nggak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Khadijah nggak mandang harta, tapi mandang hati.
Singkat cerita, terjadilah prosesi lamaran.
Dan ini penting banget buat lo catet: Mitos Nabi Miskin Itu SALAH BESAR.
Pas ngelamar, Muhammad dateng bawa rombongan Bani Hasyim. Dia pake baju terbaiknya. Dan dia bawa mahar yang bikin orang-orang Mekkah melongo: 20 Ekor Unta Muda.
Lo tau nilainya berapa? Kalau dikurskan sekarang, itu Miliaran Rupiah.
Muhammad ngeluarin seluruh tabungan hasil kerjanya. Dia “All In”. Dia nggak nyisain apa-apa buat dirinya sendiri. Kenapa? Karena ini adalah Commitment Display. Dia mau tunjukin ke Khadijah dan keluarganya: “Gue emang bukan konglomerat, tapi gue punya harga diri (Izzah). Gue nikahin lo pake keringet gue sendiri. Gue serius. Gue siap bangkrut demi muliain lo.”
Khadijah ngeliat itu dari balik tirai, dan hatinya makin yakin. Laki-laki ini bukan benalu. Laki-laki ini Singa. Dia nggak butuh harta Khadijah, dia butuh Khadijah-nya.
Akad nikah digelar. Paman Khadijah (Waraqah bin Naufal) nerima dengan bangga. Dua klan besar bersatu.
Dan sampailah kita di Malam Pertama.
Jangan mikir jorok dulu. Ini momen sakral. Pesta udah usai, tamu udah pulang. Tinggal mereka berdua di kamar yang wangi kasturi.
Ada awkwardness yang manis. Pagi masih bos-karyawan, malem udah suami-istri. Muhammad mecah keheningan dengan cara paling romantis: Dia pegang ubun-ubun Khadijah, terus doa. Doanya lembut banget, minta kebaikan dari sifat istrinya. Itu bikin Khadijah ngerasa tenang (Sakina).
Terus mereka duduk berhadapan. Deep Talk.
Khadijah, wanita yang seumur hidupnya megang kendali, malam itu nyerahin “kunci gembok”-nya ke Muhammad.
”Suamiku,” kata Khadijah, tatapannya dalem banget. “Lo tau gue punya segalanya. Gudang gue penuh emas. Kafilah gue menguasai jalur sutra. Malam ini, di hadapan Allah, gue serahkan semua harta gue ke tangan lo.”
”Aturlah sesuka lo. Pake buat bantu orang miskin, pake buat muliain tamu, atau pake buat apapun misi besar yang gue rasa bakal lo emban nanti.”
Khadijah ngelakuin Angel Investing terbesar dalam sejarah. Dia bukan cuma ngasih duit. Dia ngasih kepercayaan total. Dia tau suaminya ini Special. Dia tau suaminya bakal ngubah dunia, dan dia siap jadi Backing-nya.
Muhammad kaget, matanya berkaca-kaca. Dia nggak nolak, karena itu bakal nyakitin hati istrinya, tapi dia nerima itu sebagai amanah berat.
”Kita mulai dari sini ya, Khadijah,” jawab Muhammad sambil genggam tangan istrinya erat-erat. “Apapun yang terjadi di depan sana, kita hadapin bareng. Lo pakaian gue, gue pakaian lo.”
Mereka bikin janji suci: Till Jannah. Sampai Surga.
Dan janji itu bukan omong kosong. Nanti, ketika Muhammad diangkat jadi Nabi, ketika seluruh dunia memusuhi dia, ketika dia dilempari batu, dicaci maki, dan diboikot sampai kelaparan… Khadijah tetap di sana. Khadijah yang tadinya Ratu Mekkah, rela hidup miskin, rela makan daun kering, rela ngabisin seluruh hartanya sampai nol, demi ngebela visi suaminya.
Tapi malam ini, di kamar pengantin itu, mereka belum tau masa depan seberat itu. Malam ini, mereka cuma dua jiwa yang saling menemukan rumah.
Dua potong puzzle yang akhirnya nyatu.
Sang Visoner (Muhammad) ketemu Sang Eksekutor/Logistik (Khadijah).
Kekuatan Spiritual ketemu Kekuatan Material.
Inilah definisi Power Couple yang sebenernya.
Kisah mereka ngajarin kita kalau cinta itu bukan soal nyari orang yang sempurna. Tapi soal nyari orang yang bisa bikin lo jadi versi terbaik dari diri lo sendiri. Cinta yang didasari Intelektual, Spiritual, dan Respek, bukan cuma hormon sesaat.
Dan begitulah, di bawah langit Mekkah yang bertabur bintang, sejarah peradaban manusia baru aja dimulai dari sebuah kamar sederhana. Dimulai dari tatapan cinta dua manusia yang frekuensinya sama.
Epic, kan?
(fb)







Komentar