Minyak Dunia Dibuka Menguat hingga Rp1,85 Juta per Barel

Harga minyak dunia melonjak tajam pada pembukaan perdagangan Senin pagi (9/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki minggu kedua.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dibuka di level sekitar US$109,28 per barel, atau setara sekitar Rp1,85 juta per barel dengan asumsi kurs Rp16.950 per dolar AS. Harga tersebut mencerminkan lonjakan lebih dari 20% dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat sebelumnya.

Data pasar menunjukkan harga WTI mencatat kenaikan harian sekitar 20,22%, sementara minyak mentah Brent crude juga melonjak ke kisaran US$109,25 per barel, atau naik sekitar 17,87%. Kenaikan ini menjadi salah satu lonjakan terbesar sejak awal 2020, dengan akumulasi kenaikan harga minyak global yang disebut telah menembus lebih dari 70% dalam sebulan terakhir.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul ancaman dari Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur vital ini berpotensi menghambat distribusi energi global.

Di sisi lain, sejumlah produsen utama di Timur Tengah seperti Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab dilaporkan mengumumkan kondisi force majeure pada sebagian operasi energi mereka. Langkah tersebut turut memperketat pasokan dan mendorong kenaikan premi risiko di pasar minyak. Harga minyak Murban crude bahkan dilaporkan telah melampaui US$103 per barel.

Sejumlah analis memperkirakan, apabila konflik terus berlanjut, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel dalam waktu dekat. Kenaikan tersebut dikhawatirkan akan memicu tekanan inflasi global serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.

Dampaknya mulai terasa di berbagai pasar. Beberapa indeks saham Asia tercatat melemah, sementara harga bahan bakar di sejumlah negara mulai mengalami kenaikan. Di Indonesia, pemerintah disebut terus memantau perkembangan harga energi global, terutama terkait potensi dampaknya terhadap kebijakan subsidi energi.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik yang terjadi berpotensi berlangsung empat hingga lima minggu ke depan. Pelaku pasar kini menunggu langkah dari kelompok produsen minyak OPEC+ untuk menstabilkan pasokan dan meredam gejolak harga.

Para trader menyebut situasi ini sebagai salah satu fenomena “short squeeze” terbesar di pasar komoditas energi dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran akan kekurangan pasokan mendorong aksi beli secara masif, sehingga mempercepat lonjakan harga.

Investor pun diimbau untuk mewaspadai volatilitas ekstrem di pasar energi, sementara konsumen global diperkirakan harus bersiap menghadapi biaya energi yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *