Dulu komedian lawannya penguasa, sekarang diadu dengan masyarakat….
Dulu, di Era Orde Baru kritik lewat komedi juga tak dibiarkan bebas. Miing Bagito bercerita di podcast Abraham Samad, bagaimana dulu ia juga dipanggil Laksus (Pelaksana Khusus) pada era Orde Baru.
Laksus ini satuan kerja operasional di bawah Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang bertugas menjaga stabilitas keamanan, politik, dan ketertiban nasional di tingkat daerah atau wilayah.
Mereka akan menanyakan sang komedian yang nyerempet-nyerempet pemerintah atau apa saja–komedi tepi jurang–kalau istilah sekarang. Mereka merekam dan menanyakan pada sang komedian maksud dari bercandaannya itu.
Kalau kita bisa menjelaskan dengan baik, maka kita akan dilepas dengan baik pula, “ujar Miing di hadapan Abraham Samad. Jadi tak langsung ditahan atau dihukum begitu saja. Asal maksudnya memang komedi, tak ada maksud politik lain, otomatis aman.
Politik era Orde Baru jauh sekali kalau dibandingkan dengan politik sekarang. Dulu mati, sekarang hidup, malah semarak. Kontrol pemerintah begitu kuat, tapi antar masyarakat tak ada pula saling lapor seperti saat ini.
Miing agak aneh membaca fenomena sekarang. Komedi Pandji justru dilaporkan kelompok masyarakat lain, yang dianggap berbeda haluan politik. Pemerintah tak ada masalah, tapi kelompok masyarakat lain yang mempermasalahkan.
Tinggal aparatnya lagi, apakah mau menjadikan laporan masyarakat itu ditindaklanjuti atau tidak. Jadi aparat bergerak berdasarkan laporan masyarakat itu. Kalau dulu, bahkan mungkin sampai saat ini, ada kelompok masyarakat yang kerjanya khusus melaporkan kelompok masyarakat lainnya kepada aparat.
Dan aparat pun seperti bekerja sama dengan mereka dalam rangka menjerat kelompok masyarakat lain, yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Aparat seolah hanya menindaklanjuti laporan dari kelompok masyarakat lain, bukan mengada-ada.
Tapi giliran ada kelompok masyarakat lainnya yang melaporkan balik, yang tugas khususnya bukan melaporkan kelompok masyarakat lainnya, maka tak pula ditindaklanjuti. Itulah kurenah politik kita saat ini agaknya. Entahlah.
(Erizal)







Komentar