Mencontoh Gus Miftah, Baiknya Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, termasuk Kapolri, Mundur

Mencontoh Gus Miftah, Baiknya Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, termasuk Kapolri, Mundur

Oleh: Erizal

Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan yang lainnya, termasuk Kapolri Listyo Sigit Prabowo, mestinya belajar dari seorang Gus Miftah. Saat ia terpeleset dan semua kamera menyorot dirinya, ia tak hanya sekadar meminta maaf, tapi langsung menyatakan sikap mengundurkan diri dari jabatannya.

Gus Miftah biasa saja bercanda dengan jamaahnya, termasuk dengan penjual es teh ketika itu. Tapi, saat ia sudah menjadi pejabat, ia tak bisa lagi bercanda seperti itu. Akhirnya, tanpa berpikir panjang, ia mengambil langkah cepat dan tepat, yakni mengundurkan diri.

Saya masih ingat ketika itu, rasa kesal, marah, kecewa, dan lain-lain, terhadap Gus Miftah, berubah jadi salut, bangga, dan ada perasaan haru juga. Bahkan penjual es teh yang begitu viral ketika itu, juga terbawa haru saat ia menemui Gus Miftah di kediamannya.

Yang senang, merasa menang, dan mencemooh juga tetap ada. Tapi beberapa hari ketika itu langsung hilang. Isunya jadi tak liar dan berputar-putar tak tentu arah. Gus Miftah berhasil menjaga situasi tetap kondusif. Kenapa Uya Kuya, Eko Patrio, Ahmad Sahroni, termasuk Listyo Sigit Prabowo, tak mencontoh Gus Miftah itu?

Memang banyak yang suka bermain api, tapi setelah terbakar dan meluas, banyak yang pura-pura tak tahu saja lagi. Seolah-olah tak pernah memegang api itu, apalagi sengaja memain-mainkannya. Awalnya semua orang mau dimakan saja, tapi saat semua orang sudah berdiri tepat di depannya, malah lari tunggang langgang entah ke mana?

Era Presiden Prabowo ini memang media sosial relatif bebas. Banyak sekali yang menyebar provokasi, tapi seperti dibiarkan bebas begitu saja. Memang ke depan diharapkan penggunalah yang lebih selektif dan tak mudah terprovokasi.

Demo dan protes terhadap Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan lain-lain, termasuk Kapolri Listyo Sigit Prabowo, sulit akan berhenti seketika sebelum mereka ini dengan jiwa besar mengambil langkah mengundurkan diri.

Termasuk, secara umum menghentikan tunjangan anggota DPR yang di mata rakyat begitu sangat besar. Sebelum semuanya itu dipenuhi, maka akan ada saja alasan bagi mahasiswa, buruh, aktivis, dan masyarakat sipil lainnya, untuk melakukan demonstrasi, minimal protes-protes atau tuntutan-tuntutan di media sosial yang memang terbilang bebas.

Presiden Prabowo sudah memerintahkan Kapolri dan Panglima TNI untuk memulihkan situasi dan kondisi, mengembalikan rasa aman kepada masyarakat secara umum. Akan ada tindakan tegas terhadap mereka yang cenderung melakukan pelanggaran hukum, bertindak anarkis dan merusak, yang merugikan semua pihak.

Tapi tentu saja dengan tidak membatasi demo atau protes yang dilakukan warga negara, yang dijamin oleh UUD. Maka, sebelum Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan lain-lain, termasuk Kapolri Listyo Sigit Prabowo, mundur, maka akan selalu ada alasan untuk memprotes atau berdemo.

Kalau mundur periode ini, tak akan sulit juga bagi artis sekelas Eko Patrio dan Uya Kuya, dan pengusaha kaya raya seperti Ahmad Sahroni, terpilih lagi pada periode 2029-2034. Setahun dua tahun ke depan, masyarakat sudah akan lupa lagi tentang apa yang terjadi saat ini.

Apalagi kalau sistem pemilu masih sistem yang sama, di mana pemilih lebih ingat siapa yang memberikannya amplop daripada mereka yang bekerja atau bersuara di tengah masyarakat. Termasuk, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Bisa jadi, jabatan baru sudah menanti.

Tentu lebih baik mengundurkan diri daripada akhirnya, karena situasi berlarut-larut dan makin runyam, malah dipecat. Dipecat lebih karena ada paksaan, sementara kalau mundur datang dari kesadaran, meskipun karena paksaan juga.

Dipecat lalu situasi damai, maka posisi kita lebih sebagai biang kerok saja, dibanding mundur, yang terkesan sebagai kesatria, bahkan pahlawan. Minimal seperti Gus Miftah, ada yang kasihan juga akhirnya.

Ini tak akan berhenti agaknya sebelum Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan lain-lain, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, secara kesatria mengundurkan diri atau diganti. Perbaikannya bisa jadi dimulai dari sini, bukan dengan bertindak anarkis.

Komentar